Rain In The Winter

Rain In The Winter
161.


__ADS_3

"Benar, aku harus ke sana, anak-anakku dalam bahaya," kata Bianca, bagaimana pun nanti sepertinya perkataan Bapak tua ini sudah cukup menyakinkan kemana dia harus pergi. Lagipula anaknya sudah ada di dalam pesawat itu, kemana lagi dia akan pergi?


"Aku Ikut!" Kata Bram bersikukuh.


"Maaf Tuan, tapi hanya pengasuh dan juga Nyonya yang diperbolehkan masuk ke wilayah kami tanpa dokumen, anda tak termasuk di dalamnya, Nyonya, cepat masuk," ujar Pria itu dengan tegas, walau sudah cukup tua kharismanya tampak tak bisa dilawan.


Bianca mengangguk dan buru-buru ingin masuk, namun Bram tampaknya tak menyerah, dia segera ingin menangkap Bianca yang tampak ketakutan melihat sikap Bram, baru kali ini dia melihat Bram sangat agresif, untunglah penjaga mereka langsung cepat bertindak, dengan todongan pistol, Bram langsung terdiam.


"Ayo, Nyonya," kata pria itu segera membimbing Bianca masuk, Bianca buru-buru menaiki tangga pesawat itu, melirik Bram yang mencoba untuk melawan para penjaga, untung saja mereka segera masuk dan menutup pintunya, Bram tampak beringas menghantam para Penjaga yang tak punya niat melawannya, mereka hanya membuat Bram menjauh.


Di dalam Bianca segera diperintahkan duduk, Gio dan Gwi juga sudah duduk dengan sabuknya, Yuri duduk di dekat mereka.


"Perintahkan untuk pesawat segera berangkat," pria tua itu memberikan perintah, mereka segera bersiap dengan posisi Take-off.


Bianca bisa melihat Bram yang mengejar pesawat dari jendela di dekatnya, sedikit kasihan melihatnya, namun saat Bram menembaki pesawat itu, Bianca menjadi merasa kaget dan ketakutan melihat sosok itu, untung saja pesawat mereka cepat mengudara, membuat Bianca bisa bernapas cukup lega.


---***---


Bianca menutup pintu kamar yang ada di pesawat jet pribadi itu, anak-anaknya sudah tidur dengan nyamannya, anak yang pintar, walaupun baru pertama kali naik pesawat mereka sama sekali tak takut.


Bianca tak bisa terlelap, bahkan sejenak pun tak bisa dia menutup matanya, banyak pertanyaan yang mengganjal di kepalanya, ada apa ini semua?


Bianca lalu keluar, menyusur lorong jet pribadi itu, lalu dia menemukan Yuri yang tampaknya sudah mulai terlelap, tak jauh dari sana, di sebuah sofa panjang yang disusun sedemikian nyamannya di jet itu, dia melihat bapak tua itu.


"Yang Mulia," kata Pria itu segera berdiri, panggilannya sudah berubah terhadap Bianca, Bianca hanya mengerutkan dahinya.


"Bisa kita bicara?" Tanya Bianca.


"Tentu," kata Pria itu, menunjuk ke arah sofa, mempersilakan Bianca duduk.


"Duduklah," kata Bianca yang tak enak melihat pria tua itu berdiri.

__ADS_1


"Tak pantas saya duduk di dekat Yang Mulia, bahkan jika di kerjaan nanti saya tak boleh berbicara dengan Anda," ujar pria itu, Bianca mengerutkan dahinya, tahu Rain punya keturunan bangsawan namun tak tahu jika tahtanya masih ada.


"Siapa anda ini?" Tanya Bianca mencoba untuk sedikit sopan, gaya bicara pria ini pun sopan sekali.


"Saya adalah salah satu dari kepala di bidang pemerintahan di istana Winsdor, anda bisa memanggil saya, Tuan Gilbert," kata Pria tua itu.


"Tuan Gilbert, apa ada yang harus aku ketahui, jujur aku tidak mengerti kenapa aku harus ada di sini? Dan tentang kerajaan ini? Apakah benar?" Tanya Bianca bingung.


"Yang Mulia Pangeran Rain Arthur Huxley adalah paman dari Yang Mulia Raja Archie, secara garis keturunan seharusnya Pangeran Rain lah yang menempati kedudukan raja namun secara resmi dia menolak hal itu dan mengatakan bahwa dia tak ingin menggunakan gelar bangsawanannya, namun kemarin Pangeran Rain mengatakan bahwa di butuh bantuan dari Kerajaan untuk melindungi keluarganya karena ancaman yang begitu berbahaya, Inilah yang beliau kirimkan pada kami, silakan anda lihat," kata Tuan Gilbert menjelaskan dan menyerahkan sebuah vidio yang menunjukkan Bram dalam keadaan mabuk, Bianca membesarkan matanya lalu melihat seksama Vidio itu.


"Katakan padaku pekerjaanmu selain di dalam kapal? Lalu apa hubunganmu dengan Bianca?" Suara itu terdengar mirip Rain.


"Aku masih bekerja sebagai mata-mata, aku menjaga nyonya Bianca dari siapapun," jawab Bram dengan lugas.


"Lalu, apa kau punya hubungan dengan Lidia?" Tanya Rain.


"Kami bernegosiasi, dia mendatangiku dan mengatakan bahwa dia akan mengizinkan Bianca untuk hidup asalkan aku membawa mereka jauh dari Tuan Rain, aku juga setuju untuk melakukannya karena aku ingin Bianca selamanya tak kembali kepada Tuan Rain karena aku menyukainya, karena itu walau aku tahu Tuan Rain mencari mereka selama 3 tahun ini bukan kerena ingin mencelakakan mereka, aku tetap mengatakan bahwa Tuan Rain ingin membunuhnya, setiap kali Antony sudah mendekati kami, aku akan membawa mereka pergi, aku tak ingin mereka kembali pada Tuan Rain, Bianca dan anaknya adalah milikku," ujar Bram menggebu bagaikan emosi yang terpendam jauh dalam dirinya.


"Ya, aku juga menjauhkan Bianca dari Ken dan Siena, mereka akan mengacaukan segalanya, aku juga menanamkan pada mereka bahwa Tuan Rain masih mengincar mereka, aku mengatakan Antony masih mencari mereka dan akan membunuh mereka atas perintah Tuan Rain, aku mengatakan pada Ken dan Siena bahwa Bianca tak lagi ingin berhubungan dengan siapapun dari masa lalu Rain, dan aku juga mengatakan bahwa anak yang dikandung Bianca sudah gugur, hal itu membuat mereka menyerah mencari Bianca."


Bianca menutup mulutnya yang terbuka karena kaget, selama ini, dia kira Ken dan Siena sudah tak peduli lagi dengan mereka, dalam pelarian setiap kali Bianca bertanya tentang Ken dan Siena, Bram selalu mengatakan mereka tak pernah mencari Bianca, karena itu Bianca juga tak lagi bertanya.


Jadi selama ini Bram yang sudah menjauhkan dirinya dari keluarganya, pria yang dia pikir melindunginya dan si kembar ternyata hanya pria egois yang memikirkan dirinya sendiri, jika 3 tahun yang lalu dia biarkan Bianca bertemu dengan Rain, mungkin hidupnya tak akan seperti ini, penuh ketakutan dan juga kesusahan, setiap saat Bianca selalu di dokrin bahwa suaminya ingin sekali membunuhnya juga anak-anaknya. Ternyata pria inilah biang dari segalanya.


"Bagaimana kau bekerja sama dengan Lidia?" Suara itu terdengar lagi.


"Aku akan memberitahu dimana Tuan Rain berada, jika dia sudah dekat aku akan membawa Bianca pergi, dan melaporkan pada Lidia, dia akan segera menghentikan langkah Tuan Rain dengan berbagai cara, itu kerjasama kami berdua," ujar Bram lagi.


"Kau Tahu apa yang terjadi pada Tuan Rain?"


"Ya, Nyonya Lidia yang sudah membuat Tuan Rain menghilangkan memorinya sepuluh tahun ke belakang menggunakan metode dari Amerika, karena itulah dia melupakan semuanya, hal itu yang di jaga oleh Nyonya Lidia, dia selalu memberikan obat-obatan sehingga membuat Tuan Rain tak akan mengingat apapun setelah memorinya terhapus," kata Bram lagi.

__ADS_1


Bianca menggigit bibirnya, rasanya pusing memikirkan semuanya, siapa yang salah dan siapa yang benar terasa kabur baginya sekarang. video itu masih panjang, namun Bianca tak bisa lagi melihatnya.


Pantas saja Rain menekankan sekali agar dia tak mengatakan keberadaan Rain, dia juga tak mengatakan dirinya adalah ayah si kembar karena takut jika Bram datang si kembar akan mengatakan dia sudah bertemu dengan ayah mereka dan membuat Bram membawa mereka pergi lagi, dan dengan hal itu Bianca juga pasti akan percaya, untung saja semua itu tak terjadi.


"Pangeran Rain mengirimkan pesan ini pada Nona Siena yang langsung di bawa ke istana, dia meminta perlindungan untuk istri dan kedua anaknya, beliau ingin Anda untuk menempati properti miliknya di sana, beliau juga pasti sudah memberikan dokumen pada anda bukan?" Kata Tuan Gilbert itu.


"Ya, dia memberiku dokumen tapi aku belum melihatnya," kata Bianca.


"Aku rasa itu adalah hak waris untuk pangeran dan Putri, Beliau juga memberikan beberapa harta untuk Anda, bagaimana pembagiannya, semua ada di dokumen itu, anda harus menyimpannya dengan baik," kata Tuan Gilbert


"Ya."


"Beristirahat lah Yang Mulia, esok pagi kita akan segera mendarat."


"Ya."


Hanya itu yang bisa dikatakan oleh Bianca, bahkan dia merasa gamang berjalan ke koridor menuju kamarnya, dia membuka pintu kamar itu melihat anaknya tidur dengan nyenyaknya, di kepalanya terlintas, jika 3 tahun yang lalu Rain berhasil menemukannya, mungkin mereka sudah hidup bahagia? Mungkin saja anak nya tak harus lahir tanpa seorang ayah, mungkin saja, semua mungkin bukan?


Bianca gemetar mengambil dokumen yang ada di dalam tasnya, dokumen yang di serahkan Rain tadi pagi, dia sibuk memikirkan untuk kepergian ini, jadi dia hanya melihatnya sekilas tanpa membacanya.


Lembar pertama adalah hak tentang rumah yang ada di negara tujuan mereka, lembar kedua menyatakan bahwa Rain sudah menyiapkan setiap anaknya memiliki harta 3 triliun, dan untuk Bianca dia memberikan 5 Triliun. Melihat itu Bianca menutup mulutnya, matanya kembali pedih dan basah, Rain benar-benar memikirkan semua hal untuknya dan Anaknya.


Sebuah catatan kecil jatuh dari dokumen itu, Bianca mengambilnya, membaca tulisan tangan yang seperti adalah tulisan Rain.


Maaf aku tak bisa bersama kalian sekarang, begitu banyak hal yang harus aku selesaikan sebelum aku bisa tenang bersama kalian, selama mereka masih ada, aku yakin mereka akan mencari cara memisahkan aku dengan kalian, Ini hanya sedikit yang bisa aku lakukan, di sana aku jamin kalian aman dan juga pergunakan semua yang aku tinggalkan untuk kebaikan kalian, tunggulah aku jika kau bisa, karena bagaimanapun aku akan berusaha semampuku untuk kembali,


Bianca, tolong jaga lagi mereka untukku.


Tangan Bianca bergetar memegang catatan itu, tak terasa air matanya kembali mengalir, hangat membasahi pipinya diantara badannya yang menggigil, rasanya sakit, sakit sekali membacanya, tiba-tiba saja kepalanya terasa penuh dan juga badannya terasa remuk, perasaan 4 tahun yang lalu saat tahu Rain kecelakaan terasa lagi.


Tanpa sadarnya dia tersedu-sedu menangis di kamar itu, dia menutup mulutnya erat-erat, mencoba membekap dirinya agar tak bersuara. Tak tahu lagi harus bagaimana, dia meringkuk di antara anak-anaknya, kenapa waktu mereka begitu singkat merasakan kehidupan berkeluarga.

__ADS_1


__ADS_2