Rain In The Winter

Rain In The Winter
210.


__ADS_3

Rain duduk di ruang tengah villa itu, melihat dokter Derian yang juga tak dikenalinya sedang melakukan pemeriksaan padanya, Rain hanya diam saja karena menurut Antony dia adalah dokter pribadinya.


"Bagaimana?" Tanya Rain.


"Selain dari kehilangan memori Kembali, anda tak punya masalah yang lain, untuk masalah bagian otak, saya harus menyarankan anda ke rumah sakit untuk dilakukam CT-scan, tapi saya yakin anda tak akan ingin melakukannya," ujar Dokter Derian, tahu benar bagaimana sifat Rain.


"Hmm..." Gumam Rain mengiyakan.


"Bagaimana ini terjadi?" Tanya Bianca yang juga ada di sana, walau sikap Rain tak terlalu berubah tetap saja merasa asing dengan Rain yang sekarang.


"Sejauh ini saya menduga perubahan suhu yang ekstrim membuat efek sampingnya muncul," ujar Dokter Derian pada Bianca.


Bianca sedikit mengerutkan dahinya, tak menyangka keputusan mereka untuk membuat bahagia anak-anak mereka malah membuat efek samping dari penyakit ini malah timbul.


"Sampai kapan ini akan bertahan?" Ujar Bianca. Rain melirik Bianca, tak bisakah dia menerima dirinya yang sekarang?


"Tidak bisa kita prediksi, kita harus lihat bagaimana besok," ujar dokter Derian lagi.


"Baiklah, yang harus aku lakukan sekarang hanyalah tidur bukan? Lalu melihat besok apakah aku kembali lagi atau tidak?" Tanya Rain.


"Ya, kurang lebih seperti itu."


"Kalau begitu, baiklah aku akan beristirahat lebih dahulu," kata Rain berdiri, melirik Bianca, dia hanya ingin membuat Bianca mendapatkan suaminya kembali, walaupun merasa sedikit kecewa, kenapa tak bisa menerima dirinya yang begini? Bukannya dia juga memperlakukan Bianca dengan baik.


"Makan malamlah dulu," ujar Bianca yang melihat suaminya langsung masuk saja ke kamar mereka, sepertinya mendengar kata-katanya namun tetap memilih masuk. Bianca memandang ke arah Antony dan Dokter Derian, seolah dia berpamitan ingin mengejar Rain dan meninggalkan mereka.

__ADS_1


Bianca membuka pintu kamarnya, melihat Rain duduk di sisi ranjangnya.


"Kau ingin tidur sekarang?" Tanya Bianca lagi melihat wajah Rain yang datar, Bianca tahu ada yang mengganjal perasaan Rain sekarang, perubahan wajahnya terlihat sekali.


"Ya, berdoalah besok aku sudah mengingatmu," ujar Rain membaringkan tubuhnya.


Mendengar nada suara Rain Bianca semakin yakin pria ini punya sesuatu dihatinya, dan sepertinya ini karena Bianca.


Bianca mencoba mendekati pria itu, duduk di tepi ranjang di dekatnya.


"Ada apa?" Tanya Bianca pelan.


Rain hanya diam, namun tak lama dia melirik sosok wanita di sampingnya, wangi tubuh Bianca bisa tercium olehnya, wangi lembut yang membuatnya serasa ingat namun juga tidak menemukannya dimana dia ingat wangi itu.


Rain secara tiba-tiba menaikkan tubuhnya, menghadapi Bianca langsung hingga wajah mereka begitu dekat.


"Bukan begitu, bukannya kau yang mengatakan ini membuatmu kesusahan? Kau tampak bingung, kau katakan otakmu menolak semuanya tapi perasaanmu seolah mengatakan lain, aku tak ingin kau selalu merasakan hal itu," ujar Bianca lembut sambil memegang tangan suaminya, merasa cukup lucu Rain terlihat cemburu akan dirinya yang dulu.


Rain terdiam, suara lembut dan sentuhan tangan Bianca itu mengendurkan amarahnya, dia lalu menarik tubuh Bianca dan kembali mencium bibir Bianca, kali ini lebih ganas seperti semakin liar pemainan lidah dan ciumannya, semakin liar melakukannya rasanya dia akan bisa mengingatnya, sialnya itu hanya serasanya saja, Rain tak pernah bisa sampai mengingatnya bahkan setelah dia membuat Bianca kehabisan napas dan bibirnya sedikit bengkak karena ulahnya yang menghisap dan juga menggigit seluruh yang ada di dalam rongga mulut Bianca, dia melepaskan ciumannya setelah melihat Bianca sedikit meronta Karena kehabisan napas.


Bianca tampak menarik napas panjangnya seolah habis menahan napas yang sangat panjang, melihat mata sayu, bibir merah yang sedikit bengkak dan pipi merona merah karena kelakuannya memancing nafsu yang tiba-tiba muncul begitu saja, wanita ini istrinya bukan? Tak masalah jika dia meminta melakukannya bukan? Lagi-lagi ini serasa adalah pengalaman pertama bagi Rain.


"Kalau begitu bantu aku untuk tidur," ujar Rain menerkam tubuh Bianca yang kaget, Bianca langsung terlentang dibuatnya, Rain langsung menciumi pipi dan leher Bianca yang masih kaget.


"Rain, ini sepertinya tak bisa kita lakukan," ujar Bianca, merasa aneh walaupun yang akan menggaulinya sekarang sama-sama Rain dan suaminya.

__ADS_1


"Kenapa?" Ujar Rain, dia suaminya bukan? Apalagi Rain kepalang terlena dengan Bianca, walaupun dia hanya mengaku-ngaku istrinya, dia rasanya tak ingin melepaskan wanita ini, dia sudah merasa nyaman padanya bahkan sebelum 24 jam mengenalnya.


"Ini terasa aneh bagiku," ujar Bianca sedikit tercekat, walau dia sedang berbincang dengan Rain, nyatanya pria itu tetap melakukan aksinya, menyentuh dan menyusur tubuhnya, apalagi tangannya mulai menyusup dibalik bajunya, seolah mencari sumber panas di antara dinginnya ruangan itu.


"Aku suamimu bukan?" Tanya Rain lagi melepaskan sejenak bibirnya dari tubuh Bianca yang mulai panas menerima semua sentuhan Rain.


"Iya, tapi ...." Kata Bianca, rasanya aneh, seperti digauli suami sendiri tapi secara bersamaan seperti baru bertemu orang asing dan langsung berhubungan, rasanya benar-benar membingungkan bagi Bianca.


"Mungkin dengan cara ini aku bisa ingat esok hari," kata Rain membujuk Bianca yang sudah menatapnya sayu, wajah Rain seperti meminta izin, dia tak ingin dikatakan pemaksa dalam hal seperti ini, melihat hal itu dan mendengarkan kata-kata Rain itu Bianca hanya bisa mengangguk, akhirnya menyerah juga, lagi pula ini suaminya bukan?


Pergumulan yang menghangatkan tubuh keduanya, membuat suhu dingin disekitarnya tak terasa lagi, pergulatan yang syahdu nan nikmat itu benar-benar membuatnya akhirnya menemukan kepuasannya masing-masing, memperkokoh rasa yang memang sudah ada dan mengubah rasa asing menjadi kenyamanan yang nyata.


Rain tampak tertidur setelah melakukan hal yang cukup ganas bagi Bianca, tubuh Bianca saja rasanya cukup letih namun dia memutuskan untuk mencari tahu keadaan anak-anaknya, seharian ini mereka lebih banyak bermain dengan pengasuh dan Yuri karena Bianca lebih fokus pada Rain.


Bianca segera keluar, melihat ruangan tengah dan ruangan yang lain sudah sepi, Bianca lalu berjalan menuju ruangan tidur anak mereka masing-masing, saat membuka pintunya ternyata anak-anaknya sudah tidur.


"Mereka kelelahan dan udara dingin sepertinya membuat mereka gampang mengantuk Nyonya," ujar salah satu pengasuh Gwi dan Gio.


"Ya, tak apa-apa, kalian juga istirahat lah," ujar Bianca.


"Baik Nyonya, terima kasih," ujar mereka.


"Yuri, kau juga istirahatlah, terimakasih sudah menjaga si kembar," kata Bianca melihat Yuri.


"Tak perlu khawatir nyonya, kami akan beristirahat, Anda juga, anda tampak lelah," ujar Yuri yang tahu keadaan Tuannya, Yuri menyangka Bianca kelelahan hanya karena memikirkan suaminya.

__ADS_1


"Baiklah, selamat malam semuanya," ujar Bianca meninggalkan mereka.


Bianca kembali ke kamarnya, melihat suaminya tampak tidur nyenyak, Bianca menarik selimut menutupi dada suaminya yang polos, dan perlahan dia baru naik ke sisi ranjangnya, perlahan melihat salju yang turun lalu mulai terlelap.


__ADS_2