
Bianca membuka matanya perlahan, dia melihat anaknya berbaring di sebelahnya, Bianca mengerutkan dahinya, rasanya kemarin dia tertidur dengan posisi bukan berbaring dan juga tak menggunakan selimut, Seingatnya dia masih terduduk dan juga masih menggendong anaknya, namun sekarang dia berbaring di ranjang Gwi, dan Gwi ada di sampingnya tertidur lelap.
Bianca menyanggah tubuhnya melihat keadaannya, kemarin seingatnya baju tidur berbentuk kemeja yang dia gunakan sudah terbuka semua kancingnya agar memberikan suhu tubuh nya buat Gwi, tapi kenapa saat ini semua sudah terkancing tapi.
Bianca melirik ke arah belakang, Gio masih nyaman tertidur, begitu juga Yuri yang ada di sofa masih menutup matanya.
Bianca kembali mengerutkan dahinya, siapa yang memindahkan? Apa mungkin dokter Irene? Dia beberapa kali menanyakan apakah Bianca ingin membaringkan tubuhnya atau tidak, tapi rasanya jika Dokter Irene maka apakah mungkin wanita kecil itu bisa memindahkan posisi Bianca tanpa di bantu, atau dia minta tolong dengan perawat Pria? Bianca jadi sedikit geli memikirkan tubuhnya digendong oleh pria lain.
Pintu kamar ruang rawat itu terbuka, sosok dokter Irene dan seorang perawat datang, wanita itu menebar senyum, perawat itu segera memeriksa keadaan Gio, sedangkan dokter Irene memeriksa keadaan Gwi.
Untung saja pagi ini suhu Gwi benar-benar sudah normal, dokter Irene menghela napas lega.
"Sudah normal Nyonya, setelah ini kami akan mengambil kembali sampel darah Nona dan Tuan muda agar diperiksa keefektifan dari serum itu, semoga penyakit itu sudah non-aktif," kata Dokter Irene.
"Terima kasih dokter," kata Bianca masih setengah berbaring di sisi Gwi, dia lalu segera duduk perlahan agar anaknya tak terganggu.
"Tuan Muda Gio juga suhunya normal," ujar perawat itu.
"Baguslah, semua dalam keadaan baik hari ini, kalau begitu saya permisi dulu," kata dokter Irene bergegas ingin keluar agar secepatnya bisa melakukan hal lainnya lagi.
"Dokter, terima kasih juga sudah membantu untuk menidurkan saya di ranjang," kata Bianca, masih berpikir kemungkinan paling besar hanya dokter ini yang bisa membuatnya jadi tertidur.
Dokter Irene berhenti lalu mengerutkan dahinya ke arah Bianca.
"Maaf Nyonya, tapi setelah anda menolak terakhir kalinya, baru kali ini saya masuk ke kamar ini lagi, jadi saya rasa bukan saya yang membantu anda untuk tidur, bukannya anda sendiri yang berbaring?" Tanya Dokter Irene.
Bianca cukup kaget mendengar apa yang dikatakan oleh dokter Irene, kalau bukan dia siapa lagi? Yuri kah?
"Mami, papi yang melakukannya," ujar Gwi yang tiba-tiba terbangun, Bianca saja kaget tak menyangka putri kecilnya sudah bangun.
__ADS_1
"Saya permisi dulu Nyonya," ujar Dokter Irene, Bianca hanya mengangguk lalu segera melihat ke arah putrinya yang tampak menggeliat, Papi? Rain?
"Papi?" Tanya Bianca.
"Huum," gumam Gwi sambil memiringkan tubuhnya ke arah ibunya menatap mata ibunya dengan matanya yang sudah tampak cemerlang, jauh dari sorot matanya kemarin yang memancing kekhawatiran.
"Gwi sedang bermimpi ya? " kata Bianca sedikit mencolek hidung anaknya, bisa saja Gwi bermimpi karena efek panas tubuhnya semalam, lagi pula Rain masih ada di lantai atas, jikalau pun dia sudah sadar pasti Ken atau Siena sudah mengabarkan hal itu padanya dan tak mungkin tiba-tiba saja Rain bisa datang ke sana dan membantunya untuk berbaring, keadannya pasti tak sebaik itu.
"Tidak, Papi benar-benar datang, Papi gendong Gwi lalu Papi bilang Gwi anak yang hebat karena Gwi sudah sembuh, papi kiss pipi Gwi dan bilang Gwi harus tidur lagi, setelah itu papi menggendong mami setelah itu menyelimuti mami dan Gwi, papi Kiss dahi mami dan Gwi setelah itu Gwi tidur lagi," celoteh Gwi yang membuat Bianca mengerutkan dahinya, cukup panjang anaknya menceritakan hal itu mengundang senyuman manis di bibir Bianca, anaknya pasti sedang bermimpi.
"Kalau papi ada di sini, kenapa Papi sekarang tidak ada di sini? " tanya Biaca.
"Gwi juga tidak tahu, mungkin papi pergi lagi," kata Gwi dengan wajahnya yang imut.
"Gwi rindu papi ya?"
Gwi mengangguk pelan, dia memang merindukan papinya, walau hanya baru beberapa saat bersama, tapi Gwi sangat sayang pada papinya itu.
"Iya, Mami, apa sekarang papi masih sakit?" tanya Gwi lagi.
"Iya, papi masih sakit, setelah kalian sehat pasti pasti akan sehat nantinya," kata Bianca, dia sedikit menggigit bibir bawahnya, berusaha untuk menyakinkan dirinya juga bahwa itu yang akan terjadi nantinya.
"Kalau papi masih sakit, kenapa mami tidak menjaga papi? " polos Gwi menanyakan hal itu pada ibunya, Bianca tersenyum lebih lebar, mencium pipi anaknya yang sudah tak semerah semalam.
"Karena papi meminta mami agar menjaga Kak Gio dan Gwi dulu, setelah Kak Gio dan Gwi sembuh mami baru akan menjaga papi," kata Bianca.
"Kalau begitu Gwi ingin cepat sembuh, Biar bisa sama-sama dengan mami menjaga papi di sana," kata Gwi lagi, Bianca menebar senyumnya lalu mengangguk menanggapi perkataan putrinya, semalaman putrinya ini sudah membuatnya sangat khawatir, untunglah dia sehat sekarang.
"Mami? " kata Gio yang tiba-tiba sudah terduduk, dia sedang mengucek matanya.
__ADS_1
"Selamat pagi Gio," kata Bianca melihat anaknya di ranjang sebelahnya.
"Pagi Mami, Mana Papi?" tanya Gio menatap ke arah ibunya.
"Papi?" tanya Bianca bingung, kenapa Gio juga menanyakan Rain.
"Ya, Papi tadi pagi datang, dia bilang Gio anak hebat, tapi sekarang papi dimana?" tanya Gio lagi.
Bianca mengerutkan dahinya, bagaimana bisa Gio dan Gwi mengalami mimpi yang sama? Apa karena mereka kembar dan ikatan batin mereka kuat sehingga mimpi pun sama.
"Selamat Pagi Nyonya, maafkan saya tertidur," kata Yuri langsung berdiri, merasa tak enak saat melihat Nyonya dan si kembar malah sudah bangun lebih dahulu.
"Oh, tidak apa-apa," kata Bianca sedikit melirik ke arah Gio lagi yang sekarang jadi sibuk melihat robotnya.
"Mami, Gwi lapar," kata Gwi memegang tangan ibunya, mengalihkan fokus dan pikiran Bianca padahal dia baru saja ingin menganalisa perkataan dari Gio dan Gwi tadi.
"Aku akan meminta makanan pada perawat," insiatif dari Yuri yang segera keluar dari ruangan itu.
"Sebentar lagi ya, kita makan setelah di antarkan," kata Bianca memberikan pengertian pada anaknya, Gwi mengangguk pelan.
Tak lama pintu ruang rawat itu kembali terbuka, Dokter Irene dan beberapa perawat datang guna mengambil sampel darah dari Gwi dan juga Gio, sayangnya mereka harus diambil darahnya dari lipatan tangannya, tak bisa dari selang infus yang sudah terkena cairan infus, Bianca kembali harus miris melihat Gwi dan Gio yang kembali meronta dan menangis karena tangannya disuntik untuk mengambil darahnya. Namun tangis Gwi dan Gio tak sedramatis kemarin, beberapa saat setelah di suntikan, Gwi sudah tenang di pelukan ibunya, sedangkan Gio sudah diam saja di ranjangnya.
"Sakit?" tanya Bianca yang melirik Gwi yang hanya bergelayut manja di bahu ibunya.
"Iya, sakit tapi Gwi janji tidak nangis lagi," kata Gwi manja.
"Anak pintar, tapi Gwi janji dengan siapa? " tanya Bianca memegang tangan anaknya.
"Sama papi, Gwi ingin cepat sembuh biar melihat papi," kata Gwi.
__ADS_1
Bianca tersenyum namun dengan cepat menggigit bibirnya, kenapa Siena belum datang juga memberikan kabar Rain? Hal ini sedikit membuat Bianca merasa penasaran.