
"Bagaimana keadaaan Nyonya?" tanya Bram setelah melihat Yuri keluar dari kamar utama di asrama tentara milik Bram.
"Sedang berusaha untuk tidur, untung saja Nyonya bisa makan beberapa suap bubur dan susu," ujar Yuri, Bram hanya bisa mengangguk kecil wajahnya yang dari tadi cemas sedikit lebih tenang.
"Nona, luka anda tidak boleh kena air dulu 3 hari ini, minum obat antibiotik agar tidak terjadi infeksi, sementara tak perlu ada yang ditakutkan, hanya luka kecil," kata dokter berbaju militer itu selesai membersihkan dan juga merawat luka Siena, Siena yang mendngar hal itu hanya bisa mengangguk mengerti.
"Saya selesai Ketua," ujar dokter itu berdiri tegak sambil memberikan hormat, Bram hanya mengangguk, Dokter itu segera keluar dengan perkakasnya. Bram termasuk salah satu orang yang dihormati di markas militer ini, pangkatnya dulu sama dengan Ken.
"Bram, apakah sudah mendapatkan kabar tentang Ken?" tanya Siena yang sama sekali tak memperdulikan luka di tangannya.
"Belum Nona," kata Bram yang memang belum mendapatkan jawaban apapun tentang keberadaan Ken.
Siena mengerutkan dahinya, entah kenapa perasaannya benar-benar tidak nyaman sebelum dia tahu bagaimana kabar dari Ken.
"Bram …" kata Siena lagi.
"Saya akan segera mencarinya, Nona, silakan Anda beristirahat di ruangan lainnya, jangan khawatir, ini wilayah militer, tidak akan ada yang berani untuk menganggu keamanannya," ujar Bram lagi dengan serius.
"Baiklah, Terima kasih," ujar Siena, Bram hanya memberikan salam dan setelah itu dia keluar dari ruangan itu.
Siena masuk ke dalam kamar yang dikatakan oleh Bram, kamar yang sederhana sekali, bahkan tak ada apapun di dalamnya, hanya lemari dan sebuah ranjang, khas sekali asrama tentara, dia jadi tersenyum, ingat akan masa kecilnya, ayahnya pun pernah membawanya ke asramanya, persis seperti ini.
Siena mengambil ponselnya, duduk di sisi ranjang yang cukup terasa keras karena jarang ditiduri, Siena mencoba menelepon Ken, namun tetap saja panggil itu tak bisa masuk, begitu juga telepon satelitnya. Siena menarik napasnya panjang, mencoba menata perasaannya, mungkin hanya khawatir dengan segala hal yang terjadi sekarang.
Siena baru saja keluar dari kamar mandi saat dia melihat ponselnya bergetar, dengan cepat dia segera menyambar ponselnya, melihat nama Ken ada di layarnya, Siena langsung mengangkatnya dengan senyuman.
"Halo! Ken! Kenapa ponselmu tak bisa dihubungi? Kau pasti lupa lagi mengisi dayanya kan?" Cerca Siena, ras khawatirnya membuat dirinya menjadi begitu banyak bertanya namun senyuman manis itu masih ada di wajahnya, lega akhirnya kekasih hatinya itu menghubunginya.
__ADS_1
Siena diam, senyumnya berubah menjadi senyuman canggung dan dahinya berkerut, beberapa lama dia menunggu tak ada suara terdengar menjawab satupun pertanyaannya, hanya napas berat terdengar.
"Aku sangat merindukan suaramu."
Suara itu langsung membuat Siena membesarkan matanya, dia tahu suara itu, dia yakin dia mengingat suara berat yang licik itu.
"Kau!" Kata Siena panik, bagaimana ponsel Ken ada padanya? Jangan-jangan?
"Ya, kau tidak merindukanku, kau tahu kau sangat membuatku frustasi saat kau hilang tiba-tiba dan saat aku tahu kau bersama pria tak berguna ini," ujar Drake, menaikkan kakinya ke meja kerja Rain, melirik ke arah Ken yang sudah di ikat tangan dan kakinya namun belum sadar juga.
"Kau apakan dia? Dimana Ken?" Tanya Siena dengan wajahnya yang cemas, emosi tampak sangat di matanya.
"Dia masih selamat, tapi jika Sampai malam ini kau tak ada, aku tak bisa menjamin keselamatannya, bahkan kau tidak akan bisa lagi melihat jasadnya," kata Drake dengan senyum sinisnya, membayangkan wajah cantik Siena yang dihiasi dengan wajah cemasnya.
"Kau tak tahu sedang berurusan dengan siapa! Jangan sakiti dia!" Teriak Siena yang bahkan mengundang perhatian dari Yuri yang ada di luar, Yuri merasa ada yang tak beres, dia langsung menghubungi Bram.
"Aku tahu kau siapa, aku tahu keluargamu siapa, tapi sayangnya di negara ini, kekuatan itu tak berlaku, lagi pula jika kau macam-macam, aku pastikan kau tak akan bisa bertemu dengan tunanganmu yang lemah ini, dia akan ku buat jadi berkeping-keping," ujar Drake lagi tenang, memutar tubuhnya di kursi kerja besar itu.
"Sudahlah, datang ke rumah Kakakmu, aku akan menunggumu 1 jam dari sekarang, ingat, datang sendiri, begitu aku tahu ada yang mengikutimu, siap-siap kehilangan dirinya!" Kata Drake, tanpa aba-aba langsung menutup panggilan itu.
"Drake! Kau! B*j*Ng*n!!" Teriak Siena lagi sangat keras, membuat Yuri semakin yakin, untunglah Bram tak lama datang.
"Ada apa?" Tanya Bram langsung bergegas datang ketika Yuri memanggilnya.
"Aku rasa ada yang tak beres dengan Nona," ujar Yuri yang dari tadi mencoba menguping dari balik pintu kayu.
"Benarkah?" Tanya Bram.
__ADS_1
"Dia berteriak nama Drake, aku yakin ada yang tidak beres," ujar Yuri begitu yakin hingga membuat Bram segera melakukan tindakan, dia langsung mengetuk dengan keras pintu kamar Siena.
"Nona...." Ujar Bram, baru saja dia ingin mengetuk kembali, pintu itu segera terbuka, Siena dengan wajah kusutnya dan air mata yang membasahi mata indah itu membuat Bram semakin yakin.
"Ada apa nona?" Ujar Bram.
"Tidak, tidak apa-apa," ujar Siena dengan wajah datar tertekannya.
"Aku mendengar anda menyebut nama Drake? Apakah Ken?" Kata Bram, intuisinya mengatakan hal itu.
Siena menatap Bram lekat, matanya yang tampak menjadi sayu dan juga bertambah sedih itu membuat Bram yakin bahwa ada masalah dan tebakkannya yang tadi benar adanya walaupun Siena tak menjawab dan hanya keluar sambil tampak berpikir.
"Nona, jangan gegabah, aku akan menyiapkan tim ahli untuk melakukan penyelidikan dan juga penyelamatan untuk Ken, Nona jangan khawatir, dimana dia menyekap Ken?" tanya Bram dengan sigap.
Siena diam, dia menatap Bram, dia tahu Bram bisa melakukan hal itu, tapi jika Drake mengetahui hal itu, dia takut pria yang nekat itu akan menyakiti atau lebih parahnya membuat Ken hilang dari dunia ini.
"Dia mengatakan tak boleh membawa siapapun, dia mengatakan hanya aku yang boleh ke sana," ujar Siena lemah.
"Semua penyadra melakukan itu nona, Mereka mengancam begitu, aku pernah melakukan misi penyelamatan lebih dari 1 kali, dan hampir semuanya berjalan sukses," kata Bram menyakinkan, tak boleh mengizinkan Siena untuk datang sendiri ke sana.
"Hampir? tapi bukan seratus persen bukan? bagaimana jika ini satu dari kata hampir itu? bisakah kau menjamin Drake tak akan melukai Ken? bisakah kau berjanji padaku misi ini akan berhasil seratus persen?" kata Siena lagi.
Bram terdiam dengan wajah datar dan kerasnya, tidak pernah ada yang bisa menjamin setiap misi penyalamatan akan sukses seratus persen, jadi bohong jika dia bisa menjanjikan hal itu.
Siena hanya menatap mata Bram, dari hal ini dia bisa menyimpulan Bram tak akan menjawab pertanyaannya tadi.
"Aku akan pergi," kata Siena ingin masuk untuk mengambil mantel dan ponselnya.
__ADS_1
"Nona, jangan pergi sendirian, itu sama saja bunuh diri, aku sudah berjanji pada Tuan dan Ken untuk menjaga Anda dan Nyonya," kata Bram memegang lengan Siena mencoba menahan wanita itu.
Siena melirik tajam pada Bram, matanya begitu menusuk membuat Bram sedikit tersentak, lalu matanya melihat tangan Bram yang menahan lengannya, melihat itu Bram melepaskannya, bagaimana dia bisa menyentuh Siena.