
Saat mereka hampir saja selesai makan, sebuah ketukan keras terdengar dan buru-buru, semua orang yang ada di sana langsung melihat serempak ke arah pintu itu.
"Nyonya, Nyonya, apa Anda di rumah?" suara Yuri terdengar keras, membuat Bianca langsung segera bangkit dari duduknya, namun sebelum sepenuhnya berdiri tangan Bianca dipegang oleh Rain.
"Itu hanya Yuri," ujar Bianca pada Rain yang menatapnya.
"Biar aku saja, makan lah," kata Rain menarik tangan Bianca, Bianca akhirnya menurut, dia hanya mengangguk perlahan.
Rain lalu segera berdiri, perlahan dia mendekati pintu itu, dengan satu jarinya dia mencoba mengintip dari jendelanya dan dengan perlahan dia membuka pintu itu.
Yuri sama kagetnya dengan Bianca saat pertama kali melihat Rain, dia bahkan seperti melihat hantu, Yuri sampai mundur 3 langkah ke belakang.
"Tuan?" kata Yuri, ada bersit ketakutan membayangkan pria ini ada di sini sekarang.
Rain hanya bergeming melihat ke arah Yuri yang mulai tampak panik, jangan-jangan yang mengantar Tuan dan Nona mudanya adalah Tuannya ini sendiri, jangan-jangan dia sudah mencelakakan Nyonya dan Si kembar.
"Tuan, bagaimana mungkin? Tuan Anda tak bisa mencelakakan Nyonya juga Tuan dan Nona muda bukan? Tuan mereka keluarga Anda apapun yang dikatakan oleh Nona Lidia, mereka adalah keluarga Anda, tolong jangan sakiti mereka Tuan," kata Yuri dengan sangat panik bahkan rasanya lututnya sudah lemas memikirkan apa yang sudah dibuat Rain pada Nyonya dan keluarga kecilnya.
Rain memiringkan wajahnya melihat wanita yang ada di depannya sekarang sudah berderai air mata, separah itukah dia dipikiran orang-orang ini, pantas saja Bianca begitu ketakutan ketika melihat dirinya, bahkan Yuri yang dulunya hanya bekerja dengannya sangat ketakutan melihatnya.
"Bibi Yuri?" kata Gio muncul di dekat kaki Rain dengan gayanya yang lucu.
"Ha?" kata Yuri yang sudah berwajah penuh air mata.
"Bibi Yuri kenapa menangis?" tanya Gwi lagi yang baru muncul, Rain lalu tersenyum melihat gadis kecilnya segera refleks menggendongnya dan anehnya Gwi malah mau saja di gendong oleh Rain, bagaikan mereka sudah begitu dekatnya.
__ADS_1
"Yuri? Ada apa?" tanya Bianca yang akhirnya muncul, membuat Yuri sampai melongo melihat keluarga kecil yang tampak lengkap itu sekarang, Yuri sekarang malah kembali menangis, melihat gambaran tentang Nyonya, Tuan dan si kembar dalam satu saat seperti ini bagaikan mimpi, apakah dia mimpi di siang bolong seperti ini?
"Nyonya, aku sangat cemas, guru Tuan dan Nyonya muda mengatakan mereka pulang dibawa oleh seorang pria, aku bahkan sampai tak bisa memikirkan apapun," kata Yuri di tengah nangis senggugukannya.
"Tidak apa-apa, ayo masuk dulu, akan aneh jika dilihat tetangga," kata Bianca keluar dari rumah dan segera mengajak Yuri masuk.
Yuri serasa masih di dalam mimpinya, pasalnya ini seperti tidak nyata, melihat Gio dan Gwi tampak bahagia duduk bersama Tuannya adalah impiannya, Bianca melirik ke arah Yuri yang segera menghapus air matanya dengan kasar.
"Maafkan aku Nyonya, aku hanya panik," kata Yuri mengelap ingus yang ada di hidungnya.
"Tidak apa-apa, Tuan Rain juga tidak seperti yang kita pikirkan," ujar Bianca pada Yuri, Yuri juga pasti sangat ketakutan pada sosok pria ini seperti saat pertama kali Bianca melihatnya.
"Apa Tuan sudah ingat semuanya kembali?" tanya Yuri penasaran, melihat Gwi yang bergelayut manja memeluk leher Rain dari belakang, seolah digendong oleh Rain, bagi Bianca dan Yuri itu pemandangan yang sangat langka mengingat sifat Rain. bahkan untuk Bianca, senyum manis dan ceria Rain itu hanya terjadi saat bersama Gwi dan Gio.
"Belum, dia belum ingat apapun, " kata Bianca pada Yuri.
"Entahlah," kata Bianca, dia pun tak tahu persis bagaimana mereka bisa kembali berasama, mungkin memang benar, pikiran mungkin bisa melupakan, namun perasaan tetap tertaut selamanya.
"Jadi Nyonya, pria yang selama ini bersama Anda?" kata Yuri.
"Ya, dia Tuan Rain, tapi Tuan Rain meminta untuk merahasiakan tentang dirinya pada siapapun, dia hanya akan menunjukkan dirinya pada orang yang bisa dia percaya," kata Bianca, Bianca mengerutkan dahinya tersadar dengan apa yang baru dia katakan pada Yuri, jika begitu berarti Rain tidak percaya dengan Bram? Apa karena Rain tahu Bram memiliki perasaan dengan Bianca atau ada hal lain yang tersembunyi.
"Baik Nyonya, Anda bisa percaya pada saya, Nyonya ada yang bisa saya bantu?" kata Yuri lagi.
"Tidak, makanlah sudah siang, kau pasti lelah sudah bekerja, kami baru saja selesai makan," kata Bianca.
__ADS_1
"Baik Nyonya," kata Yuri kembali menyeka ujung matanya, merasa semuanya sangat mengagetkannya, dia bahkan beberapa kali memukul pipinya, benar-benar seperti mimpi melihat keluarga kecil itu ceria bermain bersama.
Rain menghabiskan waktu cukup lama bermain dengan Gio dan Gwi hingga akhirnya kedua anaknya itu tampak lelah dan ingin tidur siang.
"Mami, Gwi ngantuk," kata Gwi mengucek matanya berjalan ke arah ibunya, memegang tangan Bianca seolah mengajaknya untuk tidur.
"Ingin tidur?" kata Bianca bertanya pada putri kecilnya yang lucu, Bianca menggendong anaknya itu.
"Iya," kata Gwi merebahkan tubuhnya dipundak Bianca.
"Baiklah, aku akan menidurkan Gio dan Gwi dulu, tunggulah di sini," kata Bianca melirik ke arah Rain.
Rain hanya mengangguk, namun saat Bianca ingin bangkit sambil mengendong Gwi yang ada di pundaknya, Gwi menjulurkan tangannya ke arah Rain, Rain segera menggapai tangan kecil anak perempuannya itu, saat Bianca berdiri, Rain pun ikut berdiri, Gwi menggenggam tangan Rain begitu eratnya sehingga saat masuk ke dalam kamar itu, Rain bahkan tak sampai hati untuk melepaskan tangannya, Gwi tampak sudah tertidur di gendongan ibunya namun tangannya masih saja mengenggam tangan Rain.
"Eh?" kata Bianca melihat Rain mengikutinya dari belakang.
"Genggamannya sangat kuat," kata Rain saat Bianca perlahan meletakkan Gwi di ranjangnya, Rain mengikutinya, Gio langsung segera tidur di sisi adiknya.
"Mami, tidur di sini," kata Gio segera menepuk sisinya yang lain, Bianca segera naik ke ranjangnya dan berbaring di sini Gio, Gio langsung memeluk tubuh ibunya, tanpa menunggu lama dia segera tampak menutup matanya.
Rain menaikkan sudut bibirnya, melihat hal ini membuatnya sedikit teringat sesuatu, kilasan tentang keluarga sederhana yang ingin dia miliki, begini saja ternyata sudah cukup membuatnya senang.
"Berbaringlah jika ingin," kata Bianca melihat Rain yang cukup kaku posisinya karena tangannya di genggam oleh Gwi.
Rain hanya diam, namum dia mengikuti kata-kata Bianca, dia berbaring di sisi Gwi, dengan mencagak kepaalnya dia memandang Bianca yang tampak mengusap-usap pipi Gio, cara yang selalu ampuh membuat anaknya itu lelap.
__ADS_1
"Kapan mereka lahir?" kata Rain.
"Tiga tahun yang lalu saat aku dalam pelarian, mereka sempat tak bisa lahir karena keadaan memang sulit kemarin," kata Bianca kali ini tangannya mengelus kepala Gwi, membuat anaknya itu refleks tersenyum, sebuah hal yang dari dulu memang dilakukan oleh Gwi jika dia tertidur dan kepalanya di elus.