
Bianca mengulas senyum saat Rain menatapnya, jauh tampak lebih santai daripada saat dia tinggalkan tadi, Rain menaikkan sudut bibirnya lalu meremas tangan istrinya yang sedari tadi dia genggam.
Mobil mereka memasuki jalan perkotaan, kota yang sangat ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang, keadaan jalanan sedikit macet, membuat Bianca sedikit mengerutkan dahi.
"Sedang ada apa?" Tanya Bianca.
"Perayaan lentera, setiap tahun sebelum musim yang lebih dingin mereka melakukan perayaan Lentera, kemarin pembukaannya yang langsung di pimpin oleh Yang Mulia Raja dan Presiden," kata Supir mereka menjelaskan kenapa malam ini begitu ramai.
"Benarkah?" Tanya Bianca, pantas saja semua orang rata-rata seperti membawa lentera atau setidaknya sumber cahaya, mereka tampak ramai di sana. Bianca tampak sedikit tertarik melihatnya, namun dia tahu suaminya tak akan suka dikeramaian seperti itu, karena itu dia urungkan untuk melihat lebih lanjut.
"Hentikan mobilnya," ujar Rain tiba-tiba setelah melihat istrinya bersandar di kursinya.
Tentu perintah dari Rain ini sedikit membuat semua orang kaget, untung lah mereka juga berjalan pelan jadinya berhenti pun tak terasa terlalu mendadak.
"Ingin apa?" Tanya Bianca.
"Ikut saja," kata Rain sambil membuka pintu, menarik lembut Bianca yang sedikit kaget.
"Papi, Mami, mau kemana?" Tanya Gio langsung.
"Papi mau pergi sebentar dengan mami, Gio dan Gwi akan di temani oleh Bibi Yuri malam ini," kata Rain memberikan pengertian pada anaknya.
"Hati-hati Papi dan Mami," ujar Gwi mengerti.
"Aku titip mereka sejenak," kata Rain menatap serius Yuri.
"Baik Tuan," ujar Yuri langsung.
Rain segera menutup pintu mobilnya, mobil itu segera berjalan, Bianca yang masih cukup kaget hanya diam melihat mobil itu pergi, mereka berada di pinggir jalan yang cukup ramai orang berlalu lalang, kebanyakan adalah pasangan muda yang menghabiskan waktunya bersama.
Rain menatap istrinya yang hanya menggunakan gaun yang tak cukup tebal untuk menghalau dinginnya malam ini.
Rain membuka jas yang dia gunakan, perlahan memakaikannya pada Bianca, Bianca yang mendapatkan perlakuan seperti ini dari Rain hanya bisa memandang suaminya itu dalam diam, udara memang cukup dingin, namun kelakuan Rain membuat Suasana menghangat, sehangat hati Rain sekarang.
Rain menarik bagian kerah jas itu, merapatkannya agar terasa hangat bagi Bianca.
"Sudah cukup hangat?" Tanya Rain.
Bianca hanya sanggup mengangguk, detak jantungnya sekali lagi tak karuan, bahkan mungkin lebih gugup dari pasangan-pasangan muda disekitar mereka.
__ADS_1
"Baguslah, ayo berjalan-jalan," ujar Rain kembali menggenggam tangan Bianca, perlahan menyusuri jalan-jalan yang ramai dan indah.
Perayaan Lentera ini membuat seluruh jalan tampak terang benderang, seluruh kota di hiasi dengan lampion maupun lampu-lampu yang indah dan berwarna-warni, pohon-pohon yang mulai berguguran daunnya tampak menambah sendu suasana malam itu.
"Kau tidak kedinginan?" Tanya Bianca yang melihat Rain hanya menggunakan kemeja putihnya.
"Aku tidak punya masalah dengan dingin, mungkin karena itu aku bisa menikahi gadis salju sepertimu," canda Rain yang membuat Bianca mengerutkan dahinya namun sekaligus tersenyum, candaan yang aneh.
"Kita hendak kemana?" Tanya Bianca lagi.
"Entahlah, mungkin menyusuri jalan ini, aku hanya ingin melihat-lihat sekaligus menghabiskan waktu lebih lama denganmu," ujar Rain lurus sambil terus menggenggam erat tangan Bianca.
"Bukannya kau tak suka keramaian?" Tanya Bianca.
"Tak Suka bukan berarti tak bisa di tempat seperti ini, aku yakin kau juga ingin berjalan sepeti ini kan?" Tanya Rain menatap istrinya, pipinya sudah memerah seperti biasanya jika terkena panas atau dingin, mendengar hal itu malah semakin membuat merah wajah Bianca.
"Bagaimana dulu aku memintamu menikah denganku?" Tanya Rain.
"Ehm? Aku tak yakin itu permintaan pernikahan, lebih seperti kau memaksaku menikah denganmu," ujar Bianca menerawang
"Dan kau mau?"
"Memaksa ya? Terdengar memang seperti diriku," ujar Rain.
"Ya, seperti itulah," kata Bianca lagi.
"Dimana kita menikah?" Tanya Rain.
"Di kapal pesiar milikmu, kita menikah di sana, dan hanya ada kita berdua dengan Luke juga Yuri," jelas Bianca lagi.
"Itu juga seperti diriku," kata Rain.
"Tentu dirimu, siapa lagi?"
"Kita bulan madu di sana?"
"Tidak, Ehm, aku punya masalah sebelumnya, sehingga kita harus menunda bulan madu, kita bulan madu di kabin di sebuah pegunungan bersalju," kata Bianca, dia tersenyum mengenang hal itu.
"Baiklah, akan ku coba mengingatnya," kata Rain lagi tersenyum melihat wajah Sumringah istrinya.
__ADS_1
"Baiklah, jangan pernah melupakannya lagi," kata Bianca sedikit mengancam dengan wajahnya yang malah membuat Rain gemas.
"Kau tidak punya cincin pernikahan?" Tanya Rain.
"Kita punya, punya mu mungkin di singkirkan oleh Lidia, sedangkan punyaku hilang saat pelarian, aku tak pernah mendapatkannya kembali, entah bagaimana bisa hilang, padahal aku menyimpannya dengan sangat baik," kata Bianca, dia baru sadar, apakah ini salah satu dari perbuatan Bram?
Rain berhenti berjalan di daerah yang tak terlalu ramai, memegang jari manis Bianca, seperti dia mengukurnya dengan jarinya, membuat Bianca mengerutkan dahinya.
"Kenapa?" Tanya Bianca mengamati wajah Rain.
Rain tak langsung menjawab, melayangkan tatapan tajam namun juga sendu secara bersamaan hal itu membuat Bianca jadi mencoba menebak apa isi kepala suaminya sekarang.
"Menikahlah denganku lagi," ujar Rain lembut.
Bianca mengerutkan dahinya bingung, kenapa harus menikah lagi?
"Maksudmu?" Tanya Bianca
"Kau bilang aku memaksa mu untuk menikahi ku kan? Kali ini aku akan mengajak dirimu menikah dengan baik, lagi pula aku sama sekali tak punya kenangan apapun tentang pernikahan kita sebelumnya, ayo melakukannya lagi, di ujung jalan ini aku melihat sebuah tempat ibadah yang sederhana namun cukup indah, ayo mengikat janji sekali lagi, dan kali ini aku akan janji untuk mengingatnya selamanya," ujar Rain menatap ke arah Bianca yang membuat Bianca merasa benar-benar tersentuh, rasanya air matanya segera ingin menguasai bola matanya yang indah.
"Benarkah?" Tanya Bianca
"Ya," tegas Rain.
Bianca kembali terdiam tak bisa mengatakan apapun, dia lalu menunduk sejenak, lalu kembali menatap suaminya.
"Boleh aku bertanya sesuatu sebelumnya?" Tanya Bianca yang membuat Rain mengerutkan dahinya.
"Ya?"
"Bagaimana perasaanmu saat tadi bertemu dengan Ceyasa?" Tanya Bianca, perubahan wajah Rain tadi sedikit masih mengusiknya.
Rain menaikkan sudut bibirnya mendengar pertanyaan istrinya ini.
"Jadi ini yang ada dipikiranmu dari tadi?" Tanya Rain.
"Hanya sedikit, sejujurnya aku melihat perubahan wajahmu saat melihat Ceyasa, dan aku juga tahu bagaimana perasaanmu dulu padanya, jadi aku ingin tahu bagaimana sebenarnya perasaanmu saat melihatnya tadi," kata Bianca pelan sambil mengelus dada suaminya.
Rain kembali tersenyum, dia ternyata suka mengetahui bahwa Bianca nyatanya cemburu padanya.
__ADS_1