Rain In The Winter

Rain In The Winter
108. Dia tak sendiri.


__ADS_3

Luke memandang lautan yang mulai menerang karena pagi telah menyingsing datang, lautan yang tampak begitu tenang, bahkan ombaknya tampak beraturan dari semalam.


Mata Luke sudah lelah menyisir lautan yang tak berujung, semenjak dia tahu ada kabar apa yang terjadi pada Helikopter Rain, secepat mungkin dia langsung datang ke tempat yang dikabarkan menjadi tempat kecelakaan, dengan para tim pencari dan beberapa orang dari pihak militer mereka menyusuri semuanya, namun tanda-tanda keberadaan Rain tak di temukan, padahal tepat jam 3 pagi tadi, mereka akhirnya menemukan jasad pilot yang menerbangkan Helikopter itu.


Luke menutup matanya sejenak, menekan kedua ujungnya mengapit batang hidungnya yang mancung, sesaat saja namun cukup membuat matanya segar, tak ada rasa kantuk yang terasa, semalaman ini dia terus terjaga di atas laut yang ternyata cukup dingin menusuk.


"Belum ada tanda-tanda sama sekali," kata kepala pencari berdiri di samping Luke.


"Aku harap secepatnya menemukan kepastian, apakah Tuan Rain masih selamat atau …" ujar Luke tak bisa meneruskan, wajah cemas tak pernah pudar di wajahnya semenjak kemarin.


"Aku sarankan untuk mulai menurunkan ekspektasi kalian, mungkin sekarang yang tepat adalah bisakah kita menemukan jasadnya atau tidak," kata ketua tim pencari itu, Luke yang mendengar itu mengerutkan dahinya, di dalam hati dia belum bisa melakukan itu, dia yakin Tuannya masih hidup walaupun sudah hampir 12 jam Tuannya juga belum ditemui.


"Aku yakin dia masih selamat," kata Luke tak ingin menghilangkan keyakinannya.


Ketua tim pencari itu mengerti, setiap kali ada kecelakaan seperti ini semua orang pasti menolak hal itu hingga mereka mendapatkan jasadnya atau waktu yang akan memupuskan sendiri kepercayaan itu, Ketua tim pencari itu menepuk pundak Luke, Luke tak bergeming. Dia percaya, tak akan semudah itu Tuannya pergi, dia baru bahagia, kenapa harus secepat ini pergi.


Luke berdiam beberapa menit hingga dia mendengar suara ponselnya satelitnya, Luke lalu segera mengangkatnya.


"Kapan kau datang?" Tanya Luke datar, baru kali ini dia tak menyunggingkan senyum hangat dan ramahnya.


"Hari ini, aku akan tiba di sana," suara Ken terdengar Tegas.


"Baik, aku menunggumu," ujar Luke, dia mematikan panggilan itu, kembali menatap ke arah lautan, indahnya matahari yang terbit tak bisa dia rasakan walau ada di depan matanya.

__ADS_1


Tuan Anda di mana?


---***---


Ken menutup panggilannya, dia melirik ke arah mata cantik yang tampak sedih dan berharap di sampingnya.


"Apa katanya?" Kata Siena.


Siena benar-benar syok mendengarkan hal ini, walau Rain bukan sosok kakak yang hangat tapi Rain yang sudah menyelamatkan dirinya, selain itu dia juga yang memperkenalkannya dengan calon suaminya ini.


"Tidak ada, Luke ingin aku ke sana, sepertinya Tuan Rain belum ditemukan juga," kata Ken berat mengatakannya.


Siena menutup mulutnya yang menunjukkan ke kagetannya, kenapa harus ada kabar duka di bulan yang dia rasa akan menjadi bulannya, seminggu lagi dia akan menikah dengan Ken, walau tak ada kabar bahwa Rain akan datang, tapi setidaknya dia tetap berharap bisa mendapatkan kata selamat dari kakaknya itu.


"Pasti, kita tak bisa patah semangat, berdolah, siang ini aku akan pergi ke sana," kata Ken.


"Aku ikut!" Kata Siena segera, Ken tampak memunculkan wajah tak setujunya.


"Di sini saja, di sana terlalu berbahaya," kata Ken lagi, dia buru-buru mengambil beberapa keperluannya, sebisa mungkin agar cepat kembali ke negaranya.


"Aku ingin ikut, lagi pula aku yakin Bianca butuh seseorang untuk menguatkannya," kata Siena mengikuti Ken kemana pun pria itu pergi, mendengar hal itu Ken segera berhenti melakukan apa yang sedang dia lakukan, mencoba memusatkan perhatiannya ke arah Siena yang berharap.


"Siena, seminggu lagi acara kita akan dilaksanakan, kau harus di sini mengurusnya, selain itu aku sudah berjanji pada kakakmu untuk menjagamu, di sana masih ada Drake, aku tak akan bisa fokus pada Tuan jika kau ada di sana," ujar Ken menjelaskan.

__ADS_1


"Kita bisa menundanya sejenak, aku yakin walaupun nanti kita menikah Minggu depan, kau pasti tetap berduka, aku akan mengatakan hal ini pada ayah dan ibu, mereka pasti mengerti, aku bisa minta beberapa pengawal dari sini, menjagaku juga dengan Bianca, aku yakin dia sangat butuh teman sekarang," kata Siena lagi menatap Ken dengan mantapnya.


"Siena," kata Ken yang masih tak bisa membiarkan Siena ikut, namun melihat mata teguh dari Siena membuat Ken jadi yakin, dia tahu betapa keras kepalanya wanita ini, tatapan ini sama seperti saat dia memutuskan untuk menjadi pancingan Drake, Ken hanya menarik napasnya, perlahan mengangguk, Siena segera tersenyum dan mengalungkan tangannya pada leher Ken. Ken tetap berwajah kesal.


"Aku janji, aku akan baik-baik saja, cari kakakku dengan baik," kata Siena mencoba menyakinkan Ken, Ken masih kesal namun dia hanya mengangguk pelan, tak tahu harus bagaimana.


---***---


Bianca membuka matanya yang terasa berat, basah karena air matanya yang masih mengalir walaupun dia tertidur.


Begitu dia bangun dia langsung menangis tersedu, tubuhnya gemetar karena sakit hatinya terasa sekali, dia masih tak bisa menerimanya, semua itu hanya mimpi bukan.


"Nyonya, anda sudah bangun?" Tanya Yuri yang menjaga Bianca dari kemarin, Melihat tubuh kecil itu berguncang Yuri segera bangkit.


"Yuri! Yuri! Aku bermimpi aneh, aku bermimpi Rain mengalami kecelakaan, katakan padaku itu hanya mimpi bukan?" Kata Bianca mencoba menyakinkan dirinya bahwa itu hanya mimpi buruk tersedihnya.


Yuri terdiam, dia hanya menggigit bibirnya, tak sanggup menatap wajah sedih itu.


Melihat reaksi dari Yuri, Bianca langsung terdiam, dia menggeleng dengan sangat cepat, dia tak percaya, mimpi buruknya itu ternyata bukan hanya mimpi, Bianca langsung kembali menangis tersedu, kenapa baru saja dia merasakan kebahagiaan tapi dia harus menerima bahwa satu-satunya pria di dunia ini yang mengintainya dan menjaganya harus pergi meninggalkan dirinya.


"Nyonya, ingatlah anda harus menjaga calon bayi anda, keberadaan Tuan juga belum ditemukan, masih ada harapan Tuan pulang dengan salamat," Yuri mengingatkan juga menguatkan setelah membiarkan Bianca mencurahkan kesedihannya.


Bianca terdiam walaupun sesekali masih tampak terisak, kemarin dia ingat Rain datang dan mengantakan bahwa dia ingin Bianca menjaga anak mereka, ya, dia harus menjaga bayi yang ada di rahimnya sekarang ini.

__ADS_1


"Ya, ya aku akan menjaganya," ujar Bianca, lagi pula semua masih bisa terjadi, selama Dia tak melihat langsung jasad Rain, baginya pria itu masih hidup, Ya, Bianca akan tegar untuk Rain dan juga anak mereka, dia harus tegar, dia tak akan sendiri, dia masih punya anaknya, dia akan menjaganya dengan baik hingga Rain kembali padanya nanti.


__ADS_2