
"Sudah dingin, buatkan makanan hangat," kata Rain, tak melirik sedikit pun pada sosok wanita yang ada di dekatnya, satu hal yang Bianca tahu tak berubah dari Rain, jika sudah terpaut dengan laptop dan kerjaannya, Maka siapa pun tak bisa menganggunya.
Bianca sedikit melirik ke arah pria itu, sial sekali, 4 tahun ini tak ada yang berubah darinya, wajahnya masih sama tanpa menunjukkan penuaan sama sekali, tentunya sangat memanjakan mata saat menatapnya, untunglah hal itu Rian turunkan pada si Kembar.
Bianca diam saja, dia mengambil makanan yang sudah dia tata tadi di meja, dia lalu meletakkan semuanya di atas troli makanannya. Dia lalu perlahan berjalan ke arah dapur, sebenarnya tergiur melihat pintu keluar yang kosong, rasanya dia ingin berlari dan pergi dari ruangan ini segera, namun hal itu urung di lakukannya karena sekali lagi mengingat pekerjaannya, anggap saja dia sedang melayani pria paling arogan di dunia, lagipula Rain juga tak mengingatnya, dan dia juga harus melupakan pria ini.
Bianca memasakkan 2 telur mata sapi yang matang, 2 tomat panggang, 2 bacon sapi, roti bakar tanpa apapun, dan tentunya kopi hangat yang diseduh dengan air mendidih, semuanya adalah sarapan kesukaan Rain dulu, entah bagaimana Bianca bisa melakukan ini lagi, saat dia selesai dia juga baru sadar kenapa dia harus membuat makanan kesukaan Rain? seharusnya buat saja yang biasa, toh dia hanya tamu biasa tanpa ada hal yang istimewa.
Rain yang sibuk dengan pekerjaannya terpengaruh dengan bau kopi yang menyeruak saat perlahan Bianca membawakannya, wanginya sangat keluar hingga menggoda Rain.
Bianca perlahan meletakkan piring sarapan sederhana itu dan juga kopi buatannya saling berdampingan tepar di depan Rian. Rain menatap makanan itu, dia lalu melirik Bianca yang bersikap profesional kembali ke pojok ruangan di samping troli dorong makanannya.
Rain mengerutkan dahinya, namun Bianca tak bisa melihat bagaimana mimik wajah Rain karena dia berdiri di belakangnya.
__ADS_1
Rain memandang makanan yang di buat oleh Bianca, dia kaget melihat sarapan sederhana itu, dalam hatinya bertanya bagaimana wanita itu tahu semua yang dia suka untuk makan sarapan, sudah 4 tahun ini dia tak pernah sarapan dengan menu ini, menu kesukaannya yang selalu disediakan ibunya untuknya.
Rain mulai menggapai sendoknya, mencoba mengoyak telur mata sapinya, dia kembali heran bagaimana wanita itu tahu Rain hanya akan memakan mata sapi yang matang, dari kecil dia merasa jijik dengan lelehan dari kuning telur yang kurang matang, hal itu bisa membuatnya tak jadi makan, bagaimana wanita sepertinya itu tahu? Bukannya seorang pelayan hotel atau seorang wanita penipu yang mengaku-ngaku jadi istrinya tak akan tahu sedetail ini kecuali memang dia punya koneksi dengan orang terdekat Rain, lagi pula untuk apa dia membuat Rain terkesan jika tadi saja dia seperti ingin kabur darinya.
Rain mengambil sedikit telur itu, mencoba merasakan sedikit, hambar, persis seperti yang dia suka, tak suka dengan rasa-rasa yang ditambahkan di dalamnya, Rain lalu mencoba rotinya, kosong tanpa olesan apapun.
Rain mengunyah makanan itu namun sambil terus menganalisa, siapa wanita ini di dalam kehidupannya yang hilang? Apakah benar dia istrinya? Tapi tak mungkin dia bisa beristri 2 sekaligus, itu sangat menentang prinsip Rain, apa di kehidupannya yang hilang, Rain benar-benar orang yang berbeda.
Rain menyeruput kopi yang dari tadi sudah membuatnya tertarik, dia terdiam, benar-benar seleranya sekali, karena hal itu tiba-tiba saja Rain bangkit dari duduknya, Bianca yang tadinya hanya diam dan berusaha tak terlihat menjadi kaget, Rain yang tampak tenang tadi tiba-tiba berdiri begitu saja.
Saat Bianca sudah di dekat Rain, Rain melemparkan sebuah kartu nama, Bianca bingung melihatnya.
"Pulanglah, aku akan memanggilmu jika aku butuh," ujar Rain, Bianca tentu tak setuju dengan itu, pekerjaannya cuma 1 hari ini saja.
__ADS_1
"Kapan?" Kata Bianca memastikan.
"Kapan pun, bisa nanti malam, mungkin juga besok," ujar Rain kembali duduk di tempatnya, melirik wanita yang wajahnya tampak keberatan itu.
"Tidak bisa, waktu kerjaku untuk melayanimu hanya hari ini, esok kau akan dilayani oleh orang lain, lagi pula aku akan berhenti," ujar Bianca, menyodorkan kembali kartu nama itu, Rain tentu bukannya pria yang suka ditolak, dia menatap wajah Bianca dengan tatapan tajamnya, membuat sedikit nyali Bianca yang tadi besar menjadi menciut.
"Pulanglah, dan aku akan memanggilmu jika aku butuh," kata Rain lagi seolah bantahan Bianca semuanya hanya angin lalu saja.
"Tidak bisa, ini hari terakhirku," kata Bianca bersikukuh.
"Perlu aku ingatkan apa yang bisa aku lakukan untukmu dan keluargamu, sikap mu yang akan menentukannya," ujar Rain ketus.
"Jangan mengancamku dengan hal itu," kata Bianca menjadi sedikit takut, jika salah, tentu Rain bisa melakukan apa saja, pikiran Bianca lari kembali ke si kembar.
__ADS_1
"Kita lihat saja nanti, ingat, sikapmu yang menentukannya, jangan coba-coba kabur apalagi tak datang saat aku memintamu untuk datang, jadi terserahmu saat ini mau pulang atau tidak, saat ini aku tidak membutuhkan mu," ujar Rain beranjak dari tempat duduknya, perlahan dia keluar dari ruangan itu tanpa sedikitpun melirik Bianca, Bianca hanya bisa diam, kesal sekali rasanya diperlakukan seperti itu, Bianca bahkan sampai meremas kertas nama itu, melemparkannya ke arah perginya Rain tadi sambil menjerit kesal, apa lagi yang pria itu mau darinya, bukannya dia yang menyuruh pergi 4 tahun yang lalu, sekarang dia malah bilang akan memanggilnya jika butuh? bukan kah itu penghinaan, Memangnya Bianca siapa? Tetap saja pria itu susah di tebak.