Rain In The Winter

Rain In The Winter
64. Kemana wanita itu? dia sudah kehilangannya.


__ADS_3

Bianca tentu kaget melihat wanita yang tampak sangat modis itu, wajahnya yang cantik, tubuhnya semampai, dan harumnya bahkan mengisi seluruh ruangan di sana secara langsung, Yuri juga kaget dengan kedatangan wanita itu.


"Siapa kau?" tanya Lily dengan segala keangkuhannya, dia kaget melihat wanita dengan mata bengkak dan wajah kucel di sini, tentu ini bukan tipe Rain pikirnya.


Bianca mengerutkan dahinya, seharusnya dia yang bertanya siapa wanita ini?


"Anda siapa Nona? bagaimana anda bisa masuk?" kata Yuri menyampaikan apa yang ada di kepala Bianca.


Lily bertampang malas, dia melipat kedua tangannya, memandang angkuh pada kedua sosok yang ada di depannya itu.


"Kau tak tahu aku siapa? aku teman wanita Rain, dan lagi pula apa yang kalian lakukan di depan kamarku?" ujar Lily yang tadinya ingin segera masuk ke kamar tempat dia pernah menginap.


Bianca bertampang kaget, dia langsung melihat ke arah kamarnya, ini adalah kamar wanita ini? bagaimana bisa Rain memberikan Bianca kamar yang sama dengan wanitanya?


Bianca kembali melihat ke arah Lily yang berdiri penuh dengan keangkuhan, jika dilihat dari gaya dan juga penampilannya, memang wanita seperti inilah yang cocok untuk Rain, bukan wanita menyedihkan yang sangat putus asa, hanya bisa menangis, dan disakiti sepertinya, Hati Bianca semakin remuk karenanya.


"Lily! apa yang kau lakukan di sini?" suara berat dan besar itu menggema, dinginnya langsung menyebar mengalahkan harum manis dari parfum wanita itu, suara siapa lagi kalau bukan Rain.


Rain memutuskan untuk pulang bahkan baru 10 menit dia sampai di kantornya, dia benar - benar tak bisa memikirkan hal lain selain Bianca, rasanya dia tak bisa bekerja kalau tak tahu apa yang terjadi pada Bianca.


Lily tentu langsung sumringah melihat incaran hatinya sekarang malah muncul, sepertinya mereka benar-benar berjodoh, Lily datang dan Rain pun pulang.


"Rain! sudah lama tidak bertemu, kau tidak pernah datang ke apartemen yang kau belikan untukku," ujar Lily manja, mengucapkannya sejelas mungkin agar gadis kucel di belakangnya sekarang itu bisa mendengarnya.


Hati Bianca sontak merasakan nyeri, apa Rain memang hobi memberikan rumah pada wanita-wanita, Bianca pikir setidaknya Rain masih memikirkannya walau hanya sedikit untuk menjaganya tetap aman dengan cara ingin membelikannya rumah walau akhirnya Bianca menolaknya, tapi setelah tahu dia bukan satu-satunya wanita yang diperlakukan oleh Rain seperti itu, rasanya hatinya sudah habis terkoyak dan tercabik, adakah yang bisa membuat lebih sakit dari ini? Bianca hanya meggenggam tangannya erat.

__ADS_1


Rain tak peduli dengan Lily yang memasang wajah menggodanya, matanya tertuju pada sosok Bianca yang tampak sangat muram, sorot mata indahnya itu tampak menyuram, Bianca dengan segala kekuatan yang dia punya berusaha tegar, dia harus bisa melewati 2 orang ini, setelah itu dia akan bebas.


Biaca segera ingin melangkahkan kakinya, Lily hanya memandang wanita itu dengan tatapan remeh, Rain mengikuti setiap gerak gerik wanita itu, dengan menunduk dia melewati Rain.


"Tunggu," ujar Rain dengan suara tegasnya.


Bianca ingin melanjutkan jalannya, meninggalkan pria itu segera, namun entah kenapa, suara pria itu membuatnya kaku seketika, bagaikan memiliki kekuatan magis, bahkan Bianca tak bisa mengontrol tubuhnya sendiri.


"Mau kemana?" tanya Rain pada Bianca, Bianca hanya bergeming, "lihatlah aku," ujar Rain yang mendekati Bianca, membuat Lily mengerutkan dahinya tak percaya.


Sekali lagi perkataan Rain bagaikan perintah tak terbantahkan, Bianca perlahan melihat ke arah Rain.


"Aku akan pulang, bukankah tugasku sudah selesai? tak perlu sungkan untuk mengatakannya padaku," ujar Bianca dengan suara bergetar, Rain membesarkan matanya, bahunya yang dari tadi terangkat karena menahan emosi dan kesal, turun perlahan, bagaimana Bianca tahu soal itu.


Lily yang dari tadi memperhatikan mereka hanya bisa membuka mulutnya tak percaya melihat Rain mengandeng tangan wanita yang bahkan menurutnya tak ada menariknya, dia bahkan membawa wanita itu ke kamarnya, padahal Rain kemarin terlihat sangat anti jika ada orang yang mendekati kamarnya.


"Well nona, jika anda mau menunggu silakan menunggu, aku ingin berjaga kalau saja Nona Bianca memelukanku," ujar Yuri sedikit sombong, dari awal tak suka gaya wanita ini.


"Kau siapa?" tanya Lily kesal, dia ingin mengatakan bahwa dirinya lebih pantas dari pada wanita itu, tapi dia harus tahu dulu siapa wanita ini.


"Aku asisten pribadi nona Bianca yang diminta khusus oleh Tuan Rain untuk menyiapkan semua keperluan Nona Bianca," kata Yuri yang berlalu pergi begitu saja membuat Lily semakin kesal melihatnya.


---***---


Rain menarik Bianca langsung tanpa Bianca bisa melawan, dia masuk ke dalam kamarnya, setelah pintu tertutup barulah tangan Bianca dilepaskan oleh Rain.

__ADS_1


Rain langsung memutar badannya, menatap Bianca antara bingung, kesal, dan merasa bersalah. Dia bingung karena bagaimana bisa Bianca tahu tentang hal itu, Kesal karena kenapa dia baru tahu akar permasalahannya adalah ini, kenapa Bianca tak langsung mengatakannya dari tadi pagi, pantas saja dia bertanya kapan dia di izinkan pulang, pasti karena dia merasa Rain dengannya hanya pura-pura saja, dan tentu rasa bersalah itu tak perlu ditanyakan.


"Dari mana kau tahu hal itu?" tanya Rain langsung.


"Dari mananya tidak penting, sekarang aku tahu, itu tidak masalah bagiku," kata Bianca mengulum senyumannya.


"Bagaimana tak menjadi masalah untukmu? kalau ini tak jadi masalah kau tidak akan menangis, berhentilah membuat gimmick seolah kau tak punya masalah," ujar Rain yang tampak meluapkan kesalnya, tak sengaja dia melakukan itu, namun dia benar-benar tak suka sikap dari Bianca yang seolah tak mempermasalahkan namun tingkahnya berbeda.


Bianca terdiam mendengarkan luapan kekesalan Rain di hadapannya, kesalnya yang dari tadi dia tahan akhirnya tak bisa dia bendung.


"Lalu kau ingin apa? kau ingin aku marah dan berteriak seperti ini menumpahkan betapa kesalnya aku mendengarkan semua hal ini? kau ingin tahu seberapa hatiku sakit mendengarkan bahwa aku hanya gadis yang dimanfaatkan untuk mendapatkan tujuanmu, betapa aku sakit mengetahui seluruh kebahagaian, sentuhan, kelembutan dan semua yang kau berikan adalah palsu! ternyata dari semuanya, kau tak ada bedanya dengan pria lainnya," kata Bianca dengan uraian air mata yang membuat Rain hanya bisa terdiam, entah kenapa dia merasakan sakit yang sama, apalagi melihat mata itu berlinang air mata, dia tak menyadari telah melukai Bianca bahkan lebih dalam.


"Bianca, aku …" kata Rain yang awalanya mau luruskan semuanya.


"Rain, kali ini, biarlah aku yang mengatakan bahwa aku tidak perlu mendengar penjelasanmu, seperti kau selalu tak ingin mendengarkan penjelasanku, biarkan aku hanya tahu ini saja, jangan lagi ada kepura-puraan, jika memang apa yang kau lakukan padaku membawa hasil yang baik maka aku akan senang,aku dengar juga aku adalah ancaman terbesar bagimu, Sekarang, lebih baik kita berdiri sendiri-sendiri, selamat tinggal," ujar Bianca secepat yang dia bisa keluar dari kamar Rain, Rain mendengar itu butuh beberapa detik hingga sadar dia harus mengejar Bianca.


Dia segera keluar, melihat sosok gadis itu dengan cepat sudah hampir mencapai pintu utama, Rain segera mengejarnya, namun langkahnya terhenti karena Lily menghadangnya.


"Kau mau kemana?" tanya Lily sedikit kesal karena dia sama sekali tak dianggap di sana.


"Kau minggir atau aku bisa berbuat hal yang bahkan kau tak bisa bayangkan," ujar Rain kesal, matanya merah dan tajam membuat Lily ciut juga.


dengan perlahan dan ogah-ogahan dia menyingkir, merasa Lily menghambatnya dan terlalu lama menyingkir, Rain mendorong tubuh Lily hingga Lily terjatuh, untung ada sofa di dekatnya. Lily dengan wajah cemberut dan kesal menatap Rain yang segera pergi.


Rain membuka pintu utama itu, melihat lorong apartemennya yang kosong, dimana wanita itu, dia sudah kehilangannya.

__ADS_1


__ADS_2