Rain In The Winter

Rain In The Winter
124.


__ADS_3

Ken dan Bram turun dari mobil mereka yang berhasil masuk ke dalam parkiran khusus di perusahan Rain, mereka sudah memantau dan tahu hari ini Lidia tidak ada di perusahaan.


Ken dan Bram segera menyambut Bianca yang dari tadi tampak tegang menunggu momen dia bertemu dengan Suaminya, dia hampir menunggu selama 1 Minggu dan akhirnya Ken mengatakan hari ini dia bisa bertemu dengan Suaminya, karena hal itu dia sangat semangat, bahkan tubuhnya yang sakit sama sekali tak dihiraukannya, sepanjang jalan menuju perusahaan itu, dia hanya mengelus perutnya, dalam hatinya dia mengatakan bahwa bayinya akhirnya akan bertemu dengan ayahnya.


Luke juga turun dari mobil, dia langsung mencoba mencoba lift khusus yang biasa mereka gunakan, dia kemarin sudah meng-hack sistem perusahaan dan memasukkan sidik jarinya agar bisa membuka dan mengakses semua tentang gedung itu tanpa perlu akses masuk.


Ken tadi merayu Siena untuk tidak ikut karena mereka akan kewalahan untuk menjaga 2 wanita, apalagi Bianca butuh sesuatu yang ekstra perhatian, karena itu yang pergi hanyalah Luke, Ken dan Bram.


Luke nyatanya berhasil membuka lift khusus yang ada di parkiran itu.


"Ayo," kata Luke melihat pintu lift itu terbuka.


"Nyonya, ayo," kata Ken membawa Bianca ke Lift itu, Bram yang terakhir ikut, dia memastikan semua aman di sana.


Akhirnya mereka masuk, Luke menggunakan peralatannya untuk mencari di mana Rain sekarang, Ken hanya melihatnya saja, untung saja Luke punya kehebatan seperti ini.


"Tuan ada di ruangannya," kata Luke melirik ke arah Ken.


"Bagaimana aksesnya? Kau sudah bisa membuka ruangan Tuan?" Tanya Ken, bagaimana pun sistem keamanan sudah menghapus mereka dari data.


Luke tersenyum cerah khasnya membuat Ken mengerutkan dahinya.


"Tentu, aku bisa masuk ke mana saja di perusahaan ini sekarang," ujar Luke bangga.

__ADS_1


"You've Arrived," suara dari Lift terdengar, membuat Luke, Ken, Bianca dan Bram langsung siaga, sebenarnya mereka masuk ke perusahaan ini dengan ilegal, jadi bisa saja mereka ditangkap oleh pihak berwajib.


Bram langsung keluar, melihat ke arah kanan dan kiri, terlihat ruangan itu kosong melompong.


"Aman," ujar Bram sebelum membiarkan Ken, Bianca dan Luke keluar.


Ken dan Luke segera berjalan menuju ruangan Rain, ruangan ini biasanya dijaga oleh Luke atau Ken, namun kenapa sekarang kosong? Apakah Rain tidak memiliki Asisten sekarang?


Luke segara memasukkan sidik jarinya dan seketika pintu itu bisa terbuka dan segera mereka masuk ke dalam, Ken dan Bram yang bertugas menjaga Bianca.


Ruangan itu sepi, namun mereka langsung bisa melihat sosok pria yang duduk di meja besar di depan mereka.


Rain menatap ke arah orang-orang yang baru saja berhasil masuk ke dalam ruang kerjanya, dia mengerutkan dahinya, dia meminta tak ada satupun orang yang boleh masuk ke dalam ruangannya, karena semenjak dia sadar, dia merasa dia hanya sendiri di dunia ini.


"Siapa kalian?" Ujar Rain berdiri.


Bianca menerobos Ken dan Bram yang membentenginya, perlahan berjalan menuju ke arah Rain, matanya memancarkan kerinduan yang sangat, air matanya keluar begitu saja, sangat bahagia akhirnya bisa melihat kembali sosok pria ini padahal Bianca merasa sudah tak akan lagi bisa melihatnya. Bianca benar-benar terharu hingga tak bisa menahan tangis bahagianya, ingin menghambur memeluk suaminya namun tertahan dengan raut bingung Rain.


Rain mengerutkan dahinya, menatap wanita kecil nan ringkih berjalan ke arahnya, tentu dalam ingatannya wanita itu tak ada, namun melihat wajahnya yang tampak cekung dan lelah, Rain merasa ada perasaan aneh dengan wanita ini.


"Rain?" Suara Bianca bergetar, membuat semua orang di dalam ruangan itu tahu bagaimana kesedihan yang tertahan.


"Kau siapa?" Tanya Rain, ada wajah dengan kerutan dan perasaan dingin tak ramah dari mulutnya, semenjak dia hilang ingatan, begitu banyak orang yang datang dan mengaku-ngaku dekat dengannya, tentu hal itu membuatnya pusing dan tak percaya, apalagi kebanyakan mereka semua ternyata adalah penipu.

__ADS_1


Bianca terdiam, dia berhenti melangkah mendekati Rain, hatinya tersentak, benarkah pria ini tak mengenalinya?


Rain membuang pandangannya jauh ke belakang, menemukan seorang yang akhirnya dia kenali.


"Kau!" Kata Rain keluar dari meja kerjanya, menunjuk ke arah Ken, membuat Bram dan Luke menatap ke arah Ken. "Kau pria yang bisa mengetahui kode aksesku, pantas saja, kau ini adalah seorang hacker hingga bisa masuk ke dalam sini," ujar Rain menatap ke arah Ken dengan senyuman sinis.


"Tuan, kami semua ini adalah bawahan Tuan dan kami ingin Tuan bisa tahu sebenarnya," kata Ken segera.


"Benarkah? Lalu wanita ini? Dia juga bawahanku?" Tanya Rain dengan senyuman sinisnya, sejak kapan dia punya keinginan menjadikan wanita lemah seperti ini menjadi bawahannya.


"Rain? Kau benar tidak mengenaliku?" Tanya Bianca lagi, tak percaya, apakah tak ada sedikitpun perasaan yang muncul di hati Rain setelah melihatnya?


Rain semakin mengerutkan dahinya, berani sekali dia memanggil Rain dengan namanya saja, Rain mendekati Bianca, berhenti di depannya tepat, menatap wajah Bianca yang menatapnya lekat, entah kenapa Rain merasa tak sanggup untuk menatap mata itu, mata indah dengan air mata yang memantulkan cahaya hingga tampak berkilau, namun di dalamnya dia melihat kesedihan tak berdasar, itulah yang membuatnya tak tahan melihatnha, kenapa bisa terjadi seperti ini?


"Kali ini kau ingin mengaku sebagai siapa? Adik angkatku?" Tanya Rain seolah mengejek Bianca, sudah banyak pula wanita yang tiba-tiba muncul dan mengatakan mereka punya hubungan dengan Rain, Jadi baginya dia tak akan percaya dengan mereka.


"Aku adalah istrimu," kata Bianca pada Rain yang awalnya tampak kaget, dia mengerutkan dahinya lebih dalam, namun langsung berubah menjadi tawa yang mengejek, tipuan apa lagi ini?


Rain melihat ke arah Bianca dari atas hingga bawah, tak ada satupun dari wanita ini yang menurutnya bisa menarik dirinya kecuali wajahnya yang tampak campuran Eropa dan Asia, yang lain, sama sekali bukan seleranya, terlalu kecil dan kurus, bagaimana bisa dia menikahinya.


"Jangan sembarangan, aku tak mungkin menikahimu," ujar Rain segera ingin pergi dari sana, perkataan itu membuat hati Bianca sakit, seolah terkoyak sudah, bagaimana Rain bisa mengatakan hal itu.


"Rain!" Kata Bianca yang segera memegang lengan Rain. Membuat Rain menatap dengan tajam wajah Bianca, dia benar-benar tak suka di sentuh oleh orang yang tak di kenalnya.

__ADS_1


"Lepaskan!" Kata Rain dengan nada sangat dingin, namun Bianca mencoba bergeming, padahal Bianca cukup takut mendengar suara Rain. Lagi-lagi Rain tak sanggup melihat mata Bianca, dia merasa kesedihan yang terdalam itu membuatnya lemah. Dia tak suka perasan ini.


"Lepaskan!" Kata Rain memaksa, di memaksa melepaskan tangan Bianca membuat Bianca bahkan hampir terhuyung jatuh, untung Bram segera sigap dan menangkap Bianca.


__ADS_2