
Bianca membuka matanya, samar melihat wajah tenang yang masih ada di sampingnya, Bianca tersenyum manis, merasa suaminya begitu menggoda saat tidur seperti ini, tubuh mereka berdua masih sama-sama polos namun sudah berada di bawah selimut tebal mereka.
Bianca kembali mendekati Rain, merasakan kehangatannya yang menurutnya jauh lebih hangat dari pada miliknya. Karena ulah istrinya itu Rain sedikit terusik tidurnya.
"Kau sudah lama bangun?" Tanya Rain dengan suara seraknya, matanya masih juga tertutup tapi dia sudah tahu Bianca bangun.
"Ehm? Bagaimana kau tahu aku sudah bangun?" Tanya Bianca yang bingung, bagaimana Rain masih menutup mata tapi tahu dia sudah bangun.
Rain tidak menjawab dia malah tersenyum tipis namun manis, dia kembali merangkul tubuh istrinya itu, perlahan membuka matanya yang seindah permata, menatap wajah cantik istrinya.
"Karena kau begitu gelisah," ujar Rain.
"Aku lapar," ujar Bianca lagi manja.
"Baiklah, aku akan minta mereka mengantarkan makanan," kata Rain yang ingin melepas pelukannya dari Bianca, namun baru saja dia mengangkat tangannya Bianca langsung menangkapnya dan memposisikannya kembali seperti tadi. Rain mengerutkan dahinya, bagaimana dia bisa meminta makanan untuk Bianca.
"Tapi aku tidak mau kau pergi," kata Bianca lagi manja, mengundang senyuman dari Rain.
"Kalau begini bagaimana bisa makan? Kau akan tetap lapar, itu tak Bagus," ujar Rain.
"Mungkin memandangiku saja aku akan kenyang," goda Bianca mencolek hidung suaminya.
"Tak akan, jangan terlalu mengikuti film-film romantis itu, aku akan memesan makanan, kau mandilah," ujar Rain, tak seperti tadi yang lembut, ini kembali seperti Rain yang suka memerintah, Bianca membangkitkan tubuhnya, melihat Suaminya dengan melengang tanpa busana pergi ke arah kamar mandi, Bianca mencucurkan bibirnya.
"Jangan berwajah seperti itu, nanti aku cium loh," kata Rain mengintip dari kamar mandinya.
Bianca melirik pria itu dengan senyum nakalnya, Bianca lalu mencucurkan lebih bibirnya,membuat Rain akhirnya terpancing tertawa kecil, wajah ceria Rain itu benar-benar sangat menawan.
Bianca menyibakkan selimutnya, tanpa canggung lagi berjalan langsung ke arah kamar mandi, dan menerobos masuk sebelum Rain sempat menutupnya, Bianca berdiri di depan Rain.
"Mau apa?" Kata Rain melihat wajah sumringah istrinya yang polos tanpa busana.
__ADS_1
"Mandi, kau menyuruhku mandi bukan?" Kata Bianca dengan wajahnya yang menggoda, Menaikkan rambutnya membuat pose yang cukup menantang.
Rain mengerutkan dahinya, namun merasa konyol dengan apa yang dilakukan oleh Bianca, Bianca melirik ke arah Rain dengan lirikan yang sangat mengundang, dia lalu berjalan perlahan ke arah shower dan menghidupkannya, perlahan membasuh tubuhnya namun dengan gerakan dan beberapa kali berpose menantang Rain.
"Kau ini ya!" Kata Rain yang akhirnya tak tahan juga melihat tingkah istrinya itu, bergabung segera menunju ke arah shower dan segera mencium Bianca sambil mendekap pelan tubuh wanitanya itu, dibawah air hangat yang mengalir, membuat sensasi dan rasa yang berbeda bagi keduanya.
---***---
Setelah makan malam yang hangat, Bianca dan Rain akhirnya memutuskan untuk keluar kembali melihat keadaan desa kecil yang ternyata lebih hidup karena lampu-lampu kuning yang banyak menghiasinya.
Suasana malam itu lebih indah, langit bagaikan sebuah layar lebar berwarna hitam yang kontras dengan suasana di bawahnya yang putih, di atasnya juga penuh dengan taburan bintang yang membuatnya menjadi sedikit abu-abu.
Bianca sangat menikmati pemandangan itu menurutnya pemandangan malam ini begitu indah, mereka duduk di sebuah meja taman yang ada di dekat mereka bermain salju tadi siang.
"Wow, aku baru sadar kenapa bisa ibuku menyukai salju," kata Bianca tak jemu melihat malam dan tumpukan putih di sekitarnya.
"Ya, aku juga akhirnya tahu," kata Rain datar saja, tangannya menggenggam erat tangan Bianca.
"Kenapa?" Tanya Rain melihat wajah bertekuk dari Bianca.
"Aku kira kau akan menggoda mengatakan bahwa salju itu ternyata seindah diriku," ujar Bianca tersenyum hampir tertawa. Rain mengerutkan dahinya, akhirnya tertawa kecil karena hal itu, dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku tak akan mengatakan hal seperti itu," kata Rain lagi menjaga wibawanya.
"Huh, padahal aku ingin kau mengatakan hal itu," dengus Bianca, merajut yang dibuat-buat.
"Lebih suka mengatakannya atau aku langsung memperlakukanmu seperti itu?" Tanya Rain lagi melihat cucuran bibir Bianca yang akhir-akhir ini sering dilakukannya dan selalu sukses membuat Rain gemas.
"Haha, itu curang, tentu lebih baik dilakukan," ujar Bianca lagi tertawa kecil. Rain hanya menaikan sedikit sudut bibirnya, lalu kembali melihat ke arah pemandangan yang ada di depan mereka, hening sejanak.
"Ibuku tak suka hujan," ujar Rain tiba-tiba, membuat Bianca mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Maksudnya?" Tanya Bianca.
"Ibuku tak suka hujan, aku pernah mendengar bahwa baginya hujan sangat kelam dan selalu mengingatkannya tentang kesedihan," kata Rain lagi.
"Lalu kenapa dia memberikan namamu Rain?" Kata Bianca.
"Nama kecilku bukan Rain, ibuku mengubahnya saat tahu ayahku meninggal, mungkin karena dia merasa aku selalu mengingatkannya pada ayahku dan dia selalu sedih, makanya dia mengganti namaku menjadi Rain, dulu namaku hanya Arthur," kata Rain tersenyum kecut.
"Benarkah?" Kata Bianca tak tahu ternyata seperti itu, dia berpikir mungkin karena orang tua menyukai sesuatu, maka dia memberi nama yang baik untuk anaknya itu.
"Ibuku berubah menjadi wanita yang sangat dingin setelah kematian ayahku, dia tak ingin bersamaku berbulan-bulan sebelum dia meninggal, suatu saat dia tiba-tiba pulang dengan seorang anak perempuan yang masih sangat kecil, aku kira itu adikku, namun ternyata dia menculik anak itu dan karena menolak menyerahkannya dan ingin membunuhnya, penegak hukum yang mencarinya menembaknya sampai mati di depanku, saat itu umurku masih 6 tahun."
Bianca terdiam, sangat kecil Rain sudah harus menyaksikan pemandangan yang sangat-sangat traumatis baginya.
"Sejak saat itu aku hidup diurus oleh pengasuh yang menamakan bahwa aku harus menjadi orang sukses untuk membalaskan dendam ku, aku tidak bisa bermain seperti anak biasanya, belajar dan bekerja hingga akhirnya aku tahu semua hal itu sia-sia, orang yang harusnya aku lenyapkan, sudah lenyap sebelumnya," ujar Rain pada Bianca, menatapnya dengan tatapan sendu.
"Ayahku bukanlah ayah yang bisa dijadikan panutan, aku juga sudah lupa bagaimana memiliki orang tua."
"Lalu?"
"Aku hanya takut aku juga tak bisa menjadi orang tua yang baik, aku takut aku akan menjadi seperti ayahku," kata Rain menatap Bianca dengan serius, Bianca yang mendengar itu membesarkan matanya, anak?
"Kau ingin memiliki anak dariku?" Tanya Bianca tak menyangka, dia hanya belum memikirkannya.
"Kau tidak ingin?" Tanya Rain.
"Ya tentu, tapi kau yakin mau memilikinya denganku? Kau tahu bagaimana perjalanan hidupku bukan?" Kata Bianca, baginya dia belum pantas untuk mendapatkan hal seperti itu.
"Aku yakin kau akan menjadi ibu yang sempurna," ujar Rain dengan segala kelembutannya, membuat Bianca terdiam segera, Pria ini memang jarang berkata manis, namun sekali berkata dia akan membungkam semuanya, "jangan buru-buru,kita tunggu saja, tapi aku yakin aku akan sangat senang mendengar kita akan memiliki anak, jagalah dia untukku nantinya."
"Ya," kata Bianca perlahan, perasaannya begitu hangat di tengah salju yang dingin.
__ADS_1
Rain tersenyum hangat, membawa Bianca di dalam pelukannya, bersandar menghabiskan malam, di bawah bintang-bintang yang indah.