
Bianca membuka pintu perlahan yang menunjukkan sosok Ken di sana, Bianca ingin mengatakan ada apa? Tapi suaranya seolah tersekat dan tak bisa keluar.
Ken yang melihat wajah Bianca yang semakin kacau itu hanya tampak kaget namun dia tak ingin bertanya, bahkan Ken saja merasa sedih dan tertekan melihat keadaan Kakak Iparnya dan anak-anaknya begini, apalagi perasaan Bianca.
"Kakak, Siena mengatakan bahwa dokter sudah selesai memeriksa darah dari Gio dan Gwi, dokter ingin bertemu dengan Kakak sekarang," kata Ken pelan.
"Baiklah," kata Bianca singkat dengan suara sengaunya, dia mencoba untuk melangkah keluar dari ruangan itu dengan tertunduk, tak ingin Ken mengatamati wajahnya yang menyedihkan itu.
"Kakak, jangan khawatir tentang keadaan Kak Rain di sini, ada kami yang akan selalu memantaunya, Jika Kak Rain pun sudah sadar, dia pasti lebih meminta kakak Fokus pada si kembar, percayalah aku tahu Bagaimana sifat Kak Rain, dia rela menyerahkan segalanya untuk anak-anaknya, dan aku rasa dia akan mengerti saat dia sadar dan kakak tak ada di sini, dia pasti akan mengerti jika kakak lebih memilih ada di antara Gio dan Gwi," kata Ken seolah bisa membaca apa yang ada di pikiran Bianca, kata-kata itu pula seolah menjawab kegundahan hati Bianca.
Dari tadi dia bertanya-tanya, bagaimana dia bisa ada di sini namun juga ada di tempat anaknya, Bianca tentu ingin bersama buah hatinya selalu, namun dia juga ingin ada disaat Rain membuka matanya, dan itu membuatnya bingung harus bagaimana? peryataan dari Ken ini mempertegas keputusannya.
...Sekali lagi aku akan menjaga mereka untuk mu....
"Baiklah, terima kasih, aku percayakan dia pada kalian, jika Si kembar sudah baikan, aku pasti akan datang," kata Bianca menarik hidungnya yang tersumbat.
"Ya, Kak, ada kamar kecil di ruang tunggu, lebih baik sedikit menyegarkan diri beberapa menit, agar saat Gio dan Gwi melihat ibu mereka, mereka tak akan sedih," ujar Ken, tampak sekali memperhatikan wajah Bianca yang kesedihannya terpatri jelas, Bianca hanya mengangguk lalu berjalan meninggalkan Ken, sesuai dengan sarannya, Bianca menyempatkan sejenak saja mencuci wajahnya dan juga mengikat rambutnya kembali.
Bianca segera melangkah ke lantai anaknya di rawat, wajahnya terlihat lebih segar walaupun tak bisa menutupi matanya yang sembab yang membuatnya tampak suram.
Bianca membuka pintu kamar rawat anaknya, melihat Siena, Yuri dan dokter Irene yang menunggunya segera menatap ke arahnya, si kembar nyatanya masih nyaman di alam mimpinya.
"Nyonya Bianca, Saya ingin berbicara pada anda di ruangan lain, di sini takut menganggu Tuan dan Nona muda karena saya harus menyampaikannya dengan jelas," kata Dokter Irene tampak tersenyum, ditangannya map putih digenggamnya erat.
Bianca menarik napasnya panjang walau masih terhalang dengan hidungnya yang berair, "baiklah."
"Aku akan menemani kakak, Yuri Tolong jaga Gwi dan Gio ya," ujar Siena, dia harus tahu juga, setidaknya bisa menjadi orang yang bisa diajak bertukar pikiran oleh Bianca, menyerahkan semua beban ini pada seorang wanita kecil ini saja, bisa-bisa dia akan meledak.
Bianca tersenyum sedikit yang malah terlihat menjadi senyuman getir, dia mengangguk mengiyakan bahwa Siena boleh ikut, Siena segera mengikuti Bianca, dokter Irene memimpin jalan mereka.
Dokter Irene membawa mereka ke ruangan yang tak jauh dari ruang rawat si kembar.
__ADS_1
"Silakan duduk, Nyonya dan Nona," ujar dokter Irene mempersilakan, Bianca dan Siena langsung menurut duduk tepat di seberang dokter Irene, ruangan ini seperti ruangan untuk konsultasi.
"Baiklah, saya sudah mendapatkan hasil darah dari Tuan dan Nona muda, seperti yang kita harapkan darah mereka belum Reaktif, namun darah dari Gio sedikit lebih tinggi hasilnya dari pada Gwi, hal ini bisa mengindikasi jika Gio bisa saja terkena penyakit ini lebih dulu dari pada Gwi, " ujar dokter Irene.
Bianca menarik napasnya lagi, seluruh urat di tubuhnya rasanya tegang mendengarkan penjelasan dari dokter Irene.
"Lalu?" Ujar Bianca.
"Untung saja anda menyetujuinya, jika tidak, kita tak tahu pasti kapan penyakit ini bisa menunjukkan gejalanya, Nyonya, aku rasa kita bisa melakukannya sekarang, kebetulan sekali mereka sedang tidur hingga tak akan terlalu membuat trauma mereka lebih parah," ujar Dokter Irene.
"Baik, Lakukanlah yang terbaik untuk mereka," ujar Bianca, matanya yang lelah itu kembali berkaca-kaca.
"Pasti, baik, itu saja yang ingin saya sampaikan, sekarang saya akan menyiapkan semuanya untuk penyuntikan serum darah pangeran Xander, setelah ini kita akan memantau keadaan Tuan dan Nona muda 24 jam ke depannya," ujar Dokter Irene berdiri, tak ingin buang-buang waktu lagi.
Bianca dan Siena pun ikut berdiri, Bianca mengangguk, dia harus menyiapkan dirinya untuk menghadapi apa yang akan terjadi pada kedua anaknya.
Bianca menggigit bibirnya, hanya bisa melihat dari sudut ruangan ketika Dokter Irene menyuntikan serum itu pada infus kecil di tangan Gio, dia duluan yang diberikan serum itu, lalu dokter Irene menyuntikkannya pada Gwi, Gwi sedikit terbangun dan mulai merengek Kembali, namun Bianca dengan sigapnya memegang tangan putri kecil.
"Mami, Gwi ga mau di suntik lagi," ujar Gwi.
"Tidak, tidak sakit kan? Itu obat buat Gwi dan kak Gio, setelah ini kalian akan baik-baik saja," kata Bianca menenangkan putri kecilnya, untung saja penyuntikan ini benar tak membuat mereka merasakan sakit.
Gwi mengangguk pelan, melirik ke arah infusnya lalu mengamatinya, takut menggerakkan tangannya dan nantinya malah merasa sakit.
"Besok ini bisa di lepaskan Mami?" Ujar Gio yang ternyata sudah bangun juga, terbangun karena suara rengekan adiknya, Gio tampak sudah biasa melihatnya infusnya, dia bahkan sedikit menyentuh-nyentuh infusnya, saat nyeri dia menghentikannya, rasa penasarannya sungguh besar.
"Ya, semoga besok sudah bisa dilepaskan," kata Bianca menatap ke arah dokter Irene.
"Kita lihat, tergantung dengan bagaimana respon tubuh dari Tuan dan Nona muda terhadap serum ini, jika minimal, esok pagi pasti sudah bisa dilepaskan," kata Dokter Irene menebar senyum ramahnya.
"Kapan biasanya efek samping itu akan terlihat?" tanya Bianca, dia harus bersiap-siap yang terburuk yang bisa terjadi.
__ADS_1
"1 jam setelah penyuntikan biasanya sudah terlihat, jangan takut, sejauh ini efeknya hanya demam ringan," ujar Dokter Irene.
"Baiklah," kata Bianca menatap kedua anaknya yang seolah mendengarkan kata-kata Dokter Irene dengan seksama, padahal mereka tak mengerti apa yang sudah diucapkannya.
"Baiklah, saya permisi dulu, saya akan ada di ruangan perawat, jika terjadi apa-apa, panggil saya dengan menekan tombol itu," kata dokter Irene.
"Ya, terimakasih dokter," ujar Bianca mencoba mengulas senyumnya.
"Terimakasih dokter," ujar Gio dan Gwi serentak, membuat senyum di ruangan itu terpancing semuanya, Dokter Irene segera keluar.
"Bibi Yuri, Gio ingin duduk," kata Gio yang segera dibantu oleh Yuri, Gwi melirik kakaknya, ingin juga duduk namun takut infusnya terasa sakit.
"Karena Gio dan Gwi sudah sangat hebat hari ini, bibi akan membelikan apapun keinginan Gio dan Gwi, Gio dan Gwi ingin apa?" Tanya Siena dengan tingkahnya yang mencoba membuat kedua anak ini senang.
"Benarkah? Gio ingin robot yang besar!" Ujar Gio tentu paling semangat, bahkan seperti tak sedang ada di rumah sakit.
Bianca tersenyum, mengelus kepala anaknya yang pemberani dan pengertian ini, selalu mengalah untuk adiknya, dia hanya berdoa Gio tak mengalami efek apapun karena hasil darahnya yang lebih parah dari Gwi.
"Baiklah, Bibi akan cari yang besar, Gwi ingin apa?" Tanya Siena menatap anak imut itu yang masih tampak takut.
"Teddy Bear, Gwi hanya ingin Teddy bear," ujar Gwi.
"Hanya itu? Ingin yang besar?" Tanya Siena lagi mencolek hidung Gwi yang membuat anak itu tertawa.
"Tidak, ingin yang bisa di peluk saja," ujar Gwi lagi, sekarang sudah terbiasa dengan suasananya.
"Baiklah, bibi akan membelikannya untuk kalian, tapi janji jangan nangis lagi ya, mami jadi sedih jika kalian menangis," ujar Siena melirik ke arah kakak iparnya yang juga mengulas senyum manis, Bianca membalas senyuman Siena dan merasa beruntung memiliki Siena di sini, jika tidak dia tak tahu lagi bagaimana melewati semua ini.
"Baik, bibi," serempak mereka mengatakannya, kembali memancing tawa mereka.
"Anak pintar," ujar Siena lagi.
__ADS_1