
Brankar Rain segera di dorong masuk ke dalam rumah sakit, melewati lorong-lorong yang cukup suram bagi Bianca, Dia mencoba untuk bisa menyamakan langkahnya dengan para dokter dan juga para perawat yang sudah bersiap ketika mendapatkan kabar bahwa keadaan Rain sudah tak sadarkan diri.
Bianca mencoba terus memautkan tangannya agar dia bisa mengenggam tangan Rain, susah sebenarnya, beberapa kali hampir saja terlepas karena mereka sangat buru-buru membawa Rain ke tempat perawatan khusus, semua berpacu dengan waktu.
Bianca mengatur napasnya sejenak saat brankar itu masuk ke dalam lift, matanya sudah tampak cukup bengkak, namun dia sudah tak lagi menangis, dia melirik pria itu, masih saja tak membuka matanya, wajahnya pucat namun tangannya masih terasa begitu hangat, bahkan rasanya suhu badannya meningkat, Bianca hanya bisa menggigit bibirnya, lemas sebenarnya melihat orang dikasihi hanya terbaring lemah, namun dia mencoba menguatkan dirinya sendiri.
Pintu lift terbuka, dokter dan perawat di sana segera mendorong ranjang rumah sakit itu, namun karena harus keluar satu persatu, pegangan tangan Rain terlepas, dan dengan cepat mereka memasukkan Rain ke dalam sebuah pintu, Bianca awalnya sedikit terdiam, lalu dia sadar untuk mengejar suaminya, saat dia masuk ke dalam ruangan itu, dia bisa melihat Rain menghilang di ujung lorong, masuk ke dalam sebuah ruangan.
Suasana lorong rumah sakit itu remang dan dingin, walaupun di luar masih pagi, tapi cahaya matahari tampak tak masuk ke dalamnya, Bianca mencoba untuk berlari ke ruangan itu, hanya ada seorang perawat wanita dengan baju lengkap khas di ruang operasi atau ICU berdiri di sana.
"Maaf Nyonya, anda hanya bisa mengantar sampai di sini, kami harus segera menangani Tuan Rain, Anda silakan menunggu di sana, ada ruang tunggu khusus," kata perawat itu menerangkan bahwa Bianca tak bisa masuk lebih dalam.
Perawat itu melihat wajah Bianca yang cemas namun tak mengatakan apapun, sepertinya semua hal yang ingin dia tanyakan tercekat di tenggorokannya.
"Kami akan memberikan informasi apapun pada Anda segara, maaf saya masuk dulu," ujar perawat itu segera masuk ke ruangan yang nyatanya lebih dingin hawanya dari pada tempat Bianca sekarang.
Bianca terdiam, dia duduk di depan pintu itu sambil menggenggam tangannya yang terasa dingin, tubuhnya menggigil, tak tahu karena udara dingin atau karena menunggu hal yang tak pasti di balik pintu putih di depannya, napasnya berat dan tipis, namun kesadarannya seperti di awang-awang, bahkan dia merasa cukup bingung.
Bianca memang hanya sendiri, Antony dan Ken harus mengurusi hal lain yang penting dilakukan mereka, jadi hanya Bianca yang bisa mengantar Rain ke ruangan itu. Kesunyian tempat ini membuat telinga Bianca berdengung, menambah suram perasaannya, dalam hati dia hanya bisa berdoa, semoga saja secepatnya dia tahu bagaimana kabar dari Rain.
Kesunyian lorong itu tepercah saat suara derat pintu terdengar malah memekakkan, mata Bianca segera mengedar ke arah pintu itu, menemukan sosok Siena yang tampak juga panik.
"Kakak!" Kata Siena yang segera menghambur berlari dan memeluk Bianca yang terhuyung saat mencoba untuk berdiri, Bianca hanya diam bagaikan mayat hidup, separuh nyawanya ada di dalam sana, "bagaimana ini bisa terjadi?"
Bianca hanya mengerutkan wajahnya tampak sedih lalu menggelengkan kepalanya, tanda tidak tahu apa yang terjadi, dia bahkan tak tahu bagaimana bisa begini, kemarin semuanya tampak tak akan seperti ini jadinya.
"Ken akan ke sini sebentar lagi, dia yang mengabari istana dan akan membawa darah Yang Mulia Archie ke sini," ujar Siena menjelaskan.
"Ya, terima kasih," ujar Bianca yang segera mengangguk, Siena hanya memandang wanita otu yang menyadarkan tangannya ke tembok belakangnya lalu perlahan kembali duduk, Bianca terlihat memandangi pintu kaca yang kabur dengan mata yang kosong itu lagi, Siena jadi ikut diam dan duduk di samping Bianca, tak berani bertanya atau mengatakan apapun.
__ADS_1
Detik berganti menjadi menit yang menyiksa, menit perlahan berjalan lambat menjadi jam, dan jam bergulir walaupun menyesakkan dada.
Bianca hanya duduk mematung menatap ke arah kaca itu, tak sejenak pun bergerak dari tempat itu, napasnya sangat berat hingga rasanya berdiri pun sudah tak sanggup.
Pintu lorong itu terbuka kembali, kali ini sosok Ken dan Luke terlihat datang dengan cepat, Bianca hanya melihat sejenak dan matanya kembali ke arah pintu itu, setiap detiknya berharap pintu bergerak terbuka.
"Bagaimana?" Tanya Siena saat suaminya mendekat.
Ken melirik ke arah Bianca yang diam dan matanya yang kosong, Bianca pun hanya diam saja.
"Darahnya sudah aman, sudah diproses untuk dilakukan pembuatan serum, bagaimana dengan keadaan kakak?" tanya Ken.
"Belum ada kabar apapun, kemana Antony?" Tanya Siena, biasanya asisten Rain itu sangat setia dengannya.
"Dia mengurus sebuah tugas yang sebelum di serahkan oleh Kak Rain," kata Ken lagi, Siena sedikit mengerutkan dahinya, apakah itu tugas penting hingga Antony lebih memilih melakukan tugas itu dari pada di sini menjaga Tuannya.
"Aku akan mengambilkan minuman untuk kalian," kata Luke, melihat suasana tegang di sana.
Tepat setelah Luke keluar dari sana, pintu di depan Bianca segera terbuka, Bianca yang tadinya tampak lemas pun langsung terlonjak berdiri mendekat ke arah siapapun itu yang keluar dari pintu itu.
"Bagaimana keadaan Rain?" Tanya Bianca langsung tanpa basa basi. Matanya yang sayu tampak berharap.
"Keadaan Tuan Rain stabil, dia di bawa kesini tepat waktu, walau ada perdarahan, namun sangat minimal dan dapat segera di atasi, kita hanya menunggu serumnya, selanjutnya melihat reaksi dalam tubuhnya," kata dokter itu sedikit tersenyum.
"Jadi apakah dia akan sembuh? apakah dia segera sadar?" Tanya Bianca dengan sangat berharap.
"Mari berdoa seperti itu, sebentar lagi Tuan Rain akan segera dibawa keluar untuk pemeriksaan MRI, saran saya untuk tetap menunggu di sini, periksaannya tak akan terlalu lama," kata dokter itu menangkap kekhawatiran Bianca.
Bianca menarik napasnya dalam dan berat, sejenak saja rasanya bebannya hilang sementara.
__ADS_1
"Bagaimana dengan dokter pribadi Tuan Rain, dia sudah bisa datang?" Tanya dokter itu menatap ke arah Ken.
"Sedang di jemput oleh asisten yang lain," ujar Ken lagi. Rio yang bertugas melakukannya.
"Baiklah, lebih cepat lebih baik, Nyonya, tenang saja, keadaan Tuan Rain baik-baik saja dan stabil, doakan saja dia cepat sadar, saya kembali ke dalam untuk melanjutkan pemeriksaan selanjutnya," ujar Dokter itu ramah, dia mendorong pintu itu lalu segera masuk.
Bianca sekali lagi menarik napasnya, menatap ke arah Siena dan sedikit tersenyum yang dibalas oleh Siena dengan senyuman leganya juga.
Akhirnya Bianca bisa sedikit tersenyum, kata-kata dokter itu entah benar atau tidak, setidaknya benar-benar memberikan angin segar untuk Bianca.
---***---
Dokter itu segera masuk ke dalam ruangan Rain, melihat para koleganya sedang sibuk mengawasi keadaan Rain.
"Bagaimana serum nya?" Tanya dokter Malvis dengan serius.
"Sedang di centrifuge, sebentar lagi akan segera bisa di gunakan, keadaannya untuk saat ini stabil," kata dokter yang lain.
"Baguslah, untungnya darahnya adalah darah murni tanpa serum antibodi milik keluarga kerajaan yang lain," kata dokter Malvis menatap monitor dengan sangat serius, ingat dulu bagaimana gentingnya suasana saat menyelamatkan Suri.
"Tapi aku sedikit khawatir dengan masalah lainnya, ada kerusakan sel saraf yang cukup mengkhawatirkan, apalagi diperburuk oleh penyakit ini, aku rasa dia bisa saja mengalami masalah memori kembali," ujar asisten dokter yang lain menunjukkan gambaran otak Rain sebelumnya.
"Kalau begitu kita harus cepat melakukan pemindaian otak ulang, berdoalah tak ada lesi lain yang semakin meluas karena penyakit ini, jika tidak …" kata dokter Malvis menatap ke arah asistennya itu yang tampak sepemikiran dengan Dokter Malvis.
"Siapkan Tuan Rain untuk pemindaian Otak, segera lakukan dan minta hasilnya secepat mungkin, lakukan sekarang sebelum serum itu selesai," kata dokter itu memberikan perintah, membuat para perawat dan dokter lain siaga mendengarnya, mereka segera mengangguk dan menyiapkan diri Rain yang akan segera keluar dari ruangan itu untuk pemindaian.
---
1 dulu ya kak ... esok lagi yaa...
__ADS_1
salam super wkwkwk