Rain In The Winter

Rain In The Winter
125.


__ADS_3

Rain menatap ke arah Bram yang tampak memeluk Bianca dengan satu tangannya, Bram pun yang notabene hanya bawahan Rain saat dia dibutuhkan menatap ke arah Rain tak kalah tajamnya, bagaimana bisa memperlakukan wanita begitu kasar.


Ken dan Luke saja sampai tak habis pikir, bagaimana Tuannya berubah menjadi begitu kasar bahkan pada wanita, Ken yang sempat mengetahui peringai Rain saat dia dulu Sebelum di penjara akhirnya sadar, Tuannya kembali ke sifatnya yang dulu, kasar dan tak bisa dibantah, hanya mengikuti apa maunya dirinya.


"Rain! Aku mengandung," ujar Bianca dengan derai air mata, mencoba menahan Rain pergi lebih jauh darinya, setidaknya dia harus menyampaikannya, siapa yang tahu hati Rain akan tergugah.


Rain yang berhenti, tanpa melihat ke arah Bianca hanya bergumam singkat.


"Itu bukan urusanku," kata Rain, dia berjalan ke arah mejanya, menekan interkom dan dengan tanpa belas kasih, "Usir mereka semua dari kantorku, jika melawan, lenyapkan saja," ujar Rain membuat semua orang di dalam ruangan itu kaget, Bianca juga kaget mendengarkan perkataan Rain, bagaimana dia bisa menjadi seorang yang benar-benar berdarah dingin, namun belum selesai kekagetan mereka, pintu ruangan itu terbuka, menunjukkan sosok yang sebenarnya sangat tak ingin mereka temui.


"Well, ternyata masih juga mencoba untuk mendekati suamiku," ujar Lidia, Bianca menatap wanita yang wajahnya bagaikan iblis bekedok kemanisannya, Lidia berjalan begitu saja bagai tak ada masalah, namun saat di samping Bianca dia melirik wanita itu, menatapnya sinis dan mengejek.


"Apa yang wanita ini katakan, kak?" Tanya Lidia sambil melipat tangannya.


"Ya, dia mengaku sebagai istriku, terlalu bermimpi bukan?" Kata Rain dengan sikapnya seolah perkataan Bianca tadi adalah lelucon yang bisa dia jadikan bahan becandaan, hal itu tentu membuat Bianca sakit hati, sangat sakit hingga dia hanya bisa tertegun, apa lagi Rain dan Lidia tertawa melihatnya, Rain bahkan terlihat sangat santai duduk di atas mejanya, menyalakan rokoknya dan menghembuskan asapnya mengepul di udara, Bianca kaget, sejak dia bertemu dengan Rain, tak pernah dia melihat Pria itu merokok.


Bukan hanya Bianca yang Kaget, Luke dan Ken pun kaget, Ken semakin yakin, di depannya adalah Tuannya sebelum kejadian balas dendam, karena dia tahu seberapa susahnya Tuannya lepas dari ketergantungan rokok itu.


"Mimpi saja mengatakan suamiku adalah suamimu," kata Lidia menyindir, Bianca membesarkan matanya, bagaimana Rain bisa menjadi suami Lidia, bahkan Dia tahu betapa bencinya Rain pada Lidia.

__ADS_1


Lidia seolah tahu isi pikiran Bianca, dia berjalan dan mendekati Rain, bergelayut mesra, sialnya Rain pun menanggapi tingkah polah dari Lidia, dia melingkarkan tangannya ke pinggang Lidia, persis yang sebelumnya sering Rain lakukan pada Bianca, hal ini sekali lagi meremukkan hati Bianca, mereka bermesraan di depan matanya, bahkan air mata Bianca tak sanggup lagi keluar.


"Gadis itu bersekongkol dengan mereka semua, mereka adalah grup pengkhianat, Gadis itu pernah kakak tolong dulu, namun saat itu dia menyalah gunakan kebaikan kakak dan malah ingin merusak rumah tangga kita, dia juga sudah menyakiti anak kita, hingga Carel akhirnya tak bisa diselamatkan," ujar Lidia, matanya tampak berkaca-kaca, Rain menatap Lidia? Benarkah? Kenapa dia tak tahu dia punya anak dengan Lidia? Lalu benarkah wanita ringkih ini melakukannya, tangannya mengepal kuat! Tak tahu benar atau tidak, namun rasanya dia mudah terbakar emosinya sekarang, mungkin karena ketidakberdayaannya dan dia benar-benar tidak menyukainya, hal itu membuatnya melakukan sesuatu tanpa pikir panjang lagi.


"Habisi mereka!" Kata Rain yang melihat para pengawalnya sudah mulai keluar dari Lift yang pintunya sengaja terbuka, Ken dan Luke kaget tentunya, Bram juga Bianca sama, Ken menatap Bram.


"Akan ku atasi! Pergi dari pintu samping," Ujar Ken dan Luke yang menjadi tameng agar Bram bisa membawa Bianca keluar.


Rain menyipitkan matanya, melihat Bram menarik tubuh Bianca pergi menjauh darinya, bahkan saat itu Gadis itu masih menatapnya dengan tatapan yang tak bisa dia artikan apa maksudnya, ada perasaan tak nyaman melihat pria itu membawa gadis itu? tapi kenapa? kenapa harus tak nyaman? mereka bukan siapa-siapa.


Bram dan Bianca segera menuju Lift bagian samping, sedangkan Ken dan Luke mencoba menahan mereka.


"Jangan meremehkan ku," kata Luke memasang kuda-kuda yang menurut Ken sedikit aneh.


"Punya opsi lain pergi dari sini?" Ujar Ken yang merasa pengawal Rain cukup banyak untuk dia lawan sendiri, Luke baginya malah harus di lindungi.


"Atap, ada Helikopter yang bisa aku aktifkan selama aku masih ada dalam data," kata Luke.


"Ide bagus, ayo!" Kata Ken yang memilih pergi, berharap Bram dan Bianca juga sudah cukup jauh meninggalkan mereka.

__ADS_1


"Kalian tangkap mereka!" Teriak Lidia emosi, kesal karena para penjaganya tampak begitu lamban mengatasi mereka.


Rain hanya diam, dia menatap ke arah depan Kantornya yang kosong, menarik rokoknya panjang, dan mengebulkan asapnya menutup wajahnya, rasanya salah namun apa?


Bram mencoba membuka lift, untung saja saat dia itu ada seorang pegawai yang naik dan membawa beberapa dokumen untuk Rain, saat dia ingin keluar, Bram dan Bianca kaget, Bram langsung mengambil senjata apinya, menodongkannya pada karyawan yang tampak kecil itu, dia langsung ketakutan dan tak jadi keluar, bahkan dokumennya juga jatuh berserakan.


"Lantai 5! Buat!" Kata Bram memaksa keryawan itu, dia dengan kartu aksesnya segera menekan tombol lantai 5 dan seketika pintu lift itu tertutup namun belum sempurna, mereka bisa melihat para pengawal dari Rain sudah hampir dekat, Bianca membesarkan matanya dan hampir berteriak apalagi salah satu dari mereka sudah menginjakkan kakinya ke dalam Lift, namun dengan cepat Bram langsung menendang dada pria itu dengan keras hingga dia terjatuh dan lift pun tertutup.


Karyawan yang ada di dalam itu tampak gemetar takut melihat Ken, Bianca pun cukup kaget melihat semuanya, dia syok dengan keadaan ini, Bagaimana bisa Rain menyuruh orang untuk menghabisi mereka.


"Takut?" Tanya Bram sedikit lembut melihat wajah pucat Bianca, Bianca tampak sedikit kesusahan dalam bernapas.


Bianca tak bisa lagi berkata apapun, dia hanya menggelengkan kepalanya, lalu mencoba mengatur napasnya, Bianca melihat angka di lift, begitu mendekati angka 5, dia menahan napasnya, melihat ke arah pintu yang perlahan terbuka, untunglah ruangan itu kosong, Bram sengaja melakukannya, karena pasti para pengawal menganggap mereka akan langsung ke lantai bawah, dan pasti di sana sudah banyak pengawal.


"Lanjutkan ke lantai satu!" Pinta Bram setelah keluar dari lift itu, karyawan itu mengangguk, setelah pintu hampir tertutup Bram membawa Bianca ke arah tangga darurat.


"Nyonya, dari sini kita harus turun, anda masih sanggup?" Tanya Bram.


Bianca masih ragu, sanggupkah dia turun 5 lantai ke bawah sedangkan keadaannya sekarang begini dan pasti dia tak bisa pelan-pelan turunnya karena tadi saja Bram menariknya dengan sangat cepat hingga dia harus berlari.

__ADS_1


__ADS_2