Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Hancurnya keluarga Yahya


__ADS_3

Semenjak berita aib itu tersebar.


Bisnis Yahya berantakan.


Ia sering melamun dan marah marah tak beralasan.


Keharmonisan keluarga yang dulu sekarang telah musnah.


Hutang mulai di mana mana.


Saat perusahaan kacau balau, dan pemasukan tak ada.


Pak Yahya mengambil pinjaman bank untuk menutup kebutuhan hidup dan gaya hidup dari anak dan istrinya yang sangat fantastis.


Di saat pak Yahya sedang membutuhkan dukungan moral untuk bertahan.


Bu Dara malah memilih untuk tak meninggalkan hidup mewahnya.


"Pokoknya aku gak mau miskin ya pa..!!", ucapan bu Dara waktu itu terus terkenang di ingatan pak Yahya.


Sedangkan Rahel, anak yang tak bisa diandalkan sama sekali.


Bahkan perhiasannya yang bisa sedikit mengurangi beban rumah malah ia gunakan untuk bisa hura hura di diskotik.


"Arkkkkk..!!", teriak pak Yahya mengobrak gabrik semua dokumen di ruang kerjanya.


Mendengar suara berisik dari ruang kerja suaminya, bu Dara bergegas melepas masker wajahnya dan berlari ke ruang kerja.


Betapa terkejutnya ia, melihat semuanya telah berantakan, dengan pak Yahya yang menangis histeris di lantai.


"Pa..!!, papa gpp...??, ini kenapa pa..??", seru bu Dara mendekat ke arah suaminya.


Pak Yahya memandang tajam ke arah istrinya.


Ia seakan ingin meledak saat itu juga.


"Apa ini ma...!!!, hahh..!!, apa gunanya semua ini...!!", teriak pak Yahya mencabut pore back di hidung istrinya dan menarik jaring penutup rambut bu Dara.


"Kenapa sih papa ini...!!, stop..!!, papa kan tau ini semua perawatan rutin mama..!!", teriak bu Dara lebih kencang dari suaminya.


Pak Yahya kemudian tertawa seperti orang gila.


"Biaya perawatanmu satu minggu saja itu bisa digunakan untuk menyambung makan kita beberapa bulan kedepan..!!", seru pak Yahya mendekat ke arah istrinya.

__ADS_1


"Itu kan tugas papa sebagai suami...", ketus bu Dara memperbaiki rambutnya.


Tiba tiba telfon bu Dara berdering.


"Rahel..??", ucap bu Dara mengangkat panggilan vidio call dari Rahel.


"Hay ma...!!, lihat nih aku lagi sama siapa...!!, sama teman teman aku waktu kuliah dulu, hahahaha, gak nyangka kan ma kita bisa ketemu lagi di diskotik ini, aku mau ngabarin kalau aku mau pulang pagi, bye ma, love you", ucap Rahel menutup telfonnya.


"Lihat..!!, anak sama ibu sama aja..!!, gak ngerti kondisi kita kayak gimana sekarang", seru pak Yahya terduduk lemas di sofa sambil meremas kepalanya sendiri.


"Papa mau salahin mama..!!, inget pa...!!, papa lebih banyak andil dalam manjain Rahel..!!, papa sendiri kan yang bilang, kita itu cuma punya Rahel..!!, jadi biarin dia hidup have fun", seru bu Dara tak terima.


Sesaat kemudian, telfon pak Yahya juga berdering.


"Ya..!!, kenapa lagi..??, kan udah saya bilang, handel semua sampai berita itu menghilang dari peredaran", seru pak Yahya dengan nada membentak.


Tak berapa lama, raut wajah pak Yahya kembali syok.


Ia seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"A, a..., apa..??, proyek kita semua gagal..!!, investor mundur..??, bangkrut...!!", seru pak Yahya menjatuhkan ponselnya ke lantai.


"Apa pa..??, bangkrut...!!, gak pa, aku gak mau hidup miskin...!!", teriak bu Dara mengguncang tubuh pak Yahya yang masih mematung.


"Pa...!!", teriak bu Dara mencoba menolong suaminya.


Ia pun mencoba memeriksa denyut nadi pak Yahya.


Ia tercengang tak percaya, badan bu Dara terduduk tak berdaya di lantai.


"Gak mungkin...!!", seru bu Dara tak percaya.


Bu Dara terdiam sejenak dan beranjak dari duduknya.


Ia mondar mondir di sebelah suaminya yang tergeletak di lantai.


Bukan malah memikirkan nasib suaminya.


Tetapi memikirkan nasibnya kedepan.


"Aku gak mau nanggung semuanya..!!, aku juga gak mau urus mayatnya, lebih baik aku kabur", seru bu Dara bergegas pergi dari tempatnya dan mengambil semua barang berharga yang tersisa.


Secepat kilat ia langsung keluar dari rumah itu.

__ADS_1


"Maafin aku pa, aku gak mau hidup susah", seru bu Dara pergi dari rumah itu dan tak ada kabar lagi darinya sejak saat itu.


Beberapa jam kemudian.


Rahel berjalan sempoyongan memasuki rumah.


"Bye....!!!, thanks ya..!!", seru Rahel melambaikan tangan kepada teman temannya.


Rahel berjalan menuju kamarnya dengan kondisi mabuk.


Kebetulan pembantunya sedang pulang kampung, jadi hanya ada pembantu sementara yang datang pukul 8 pagi sampai 5 sore untuk membersihkan rumah dan memasak.


Langkah Rahel terhenti saat melihat silaunya lampu dari ruang kerja Pak Yahya.


"Tumben subuh subuh gini lampu masih nyala..??, mereka bertengkar kali ya, jadi gak tidur seranjang, hahahaha, udah tua juga..!!", ucap Rahel berjalan mendekat ke arah ruang kerja pak Yahya.


"Pa...!!, udah subuh..!!, pindah gih ke kamar", ucap Rahel seketika langkahnya terhenti.


Tubuhnya yang dari tadi berjalan sempoyongan menjadi kuat berdiri tegak.


Matanya seketika melotot dan syok melihat tubuh papanya tergeletak kaku di lantai.


"Pa...!!", teriak Rahel berlari mendekati tubuh pak Yahya.


Ia mencoba mengecek kondisinya dan mencoba membangunkannya, tetapi denyut nadi sudah tak teraba di tangannya.


Rahel seketika menangis histeris.


"Ma...!!", teriak Rahel mencari keberadaan bu Dara.


Tetapi bu Dara tak ada di setiap ruangan.


Lalu Rahel membuka almari baju mamanya.


Ia seakan tak percaya yang telah ia lihat.


"Kosong...!!", seru Rahel mengecek setiap laci yang ada, terutama laci perhiasan Bu Dara.


"Mama...!!!", teriak Rahel berlari sambil menangis kembali ke tempat jasad pak Yahya berada.


Rahel menangis di depan jasad Pak Yahya begitu lama.


Sampai pembantu sementaranya dan sopir mereka menemukan Rahel yang terus duduk mematung di depan jasad Pak Yahya.

__ADS_1


__ADS_2