
Sementara setelah beberapa bulan pun mereka berpisah.
Mawar dan Dokter Malik masih ada rasa satu sama lain.
Meskipun kali ini mereka sudah berpisah jarak, dan mungkin saja mereka tak akan pernah bertemu kembali satu sama lain.
Tetapi, walaupun di pikiran Mawar ia ingin melupakan Dokter Malik sepenuhnya.
Tapi di hati dan doanya, ia masih mengharapkan Dokter Malik adalah jodohnya.
Dokter Malik pun kian murung, terlebih setelah mengetahui rencana dari papinya yang menjodohkannya dengan Rahel tanpa persetujuannya.
Dokter Malik lebih fokus pada karirnya, ia jarang berkumpul di rumah walaupun hanya sekedar makan masakan maminya.
Bu Maryam sangat kesal dengan perilaku dan tabiat suaminya yang selalu semaunya sendiri.
Tapi ia juga tak berdaya di buatnya.
"Malik tak pulang lagi...?", ucap Bram duduk di meja Makan.
"Malik akan menginap di Rumah sakit malam ini", ucap Bu Maryam terus saja sibuk dengan dapurnya.
"Sekalian saja ia pergi dari rumah ini", ketus Bram membuat bu Maryam makin marah.
"Apa segitu bencinya kamu dengan aku dan Malik pi.??", seru bu Maryam menghentikan tangannya yang sedang mencuci piring.
Bram pun langsung bangkit dan menggebrak meja, lalu pergi keluar rumah melajukan mobilnya tanpa sepatah katapun meninggalkan Bu Maryam yang mencoba menahan air matanya yang akan jatuh.
__ADS_1
"Astagfirullah, suami dan ayah macam apa yang kau berikan pada hamba dan anak hamba ya Allah", ucap Bu Maryam.
Sedangkan di sisi lain, Mawar menghibur dirinya dengan menjahit setiap hatinya gundah.
Ia bekerja keras membangun karirnya sendiri.
Kini, usahanya pun membuahkan hasil.
Ia sudah memiliki beberapa pegawai dan tempatnya sendiri untuk menjahit dan menjual mukenah produksinya, seperti saat ia dipesantren dulu.
Pelanggannya berdatangan setiap harinya.
Azizah pun turut ia jadikan bagian dari usahanya itu.
Azizah mengurus kain kain yang datang.
Jika kain itu terasa tak bertekstur bagus menurutnya, Mawar akan mengembalikan kain itu sesuai pilihan Azizah.
Adzan isya berkumandang.
Tempat ruko Mawar sudah sepi pelanggan, dan ini waktunya untuk tutup toko.
"Mawar, ayo pulang..??", ucap Azizah menutup pintu ruko.
"Ayo Azizah", ucap Mawar menggandeng azizah menuju ke kos san mereka.
Sesampai di rumah, ia berpisah dengan Azizah di teras, karna memang tempat kos mereka berdampingan.
__ADS_1
Di lihatnya ibu tersayangnya sudah terlelap menunggunya di sofa.
Mawar mengunci pintu rumah dan menyelimuti ibunya.
Segera ia mengambil wudhu dan melaksanakan sholat isya.
Disisi lain, dokter Malik pun sedang mengerjakan shalat isya di musholah rumah sakit.
Mereka sama sama khusu' melaksanakan kewajiban mereka kepada sang pencipta dan pemilik hidup di tempat yang jauh dan berbeda.
Di penghujung shalat mereka berdoa untuk kelangsungan hidup mereka.
Mereka berdoa untuk orang orang yang mereka cintai dan untuk ketabahan hati mereka dalam menjalani takdir dari Allah.
Mereka juga meminta agar dipertemukan jodoh sesuai hati mereka.
Mereka tak menyebutkan nama.
Tapi dalam angan angan, hanya ada dokter Malik di hati Mawar dan hanya ada Mawar di hati dokter Malik.
Entah bagaimana Allah menjawab doa mereka, hanya doa yang bisa mereka panjatkan dan lakukan untuk sekarang ini.
"Ya Allah, jika memang ia jodohku dekatkanlah kami, jika ia bukan jodohku ikhlaskanlah hatiku melepasnya, hanya engkaulah yang sebaik baiknya pembuat rencana yang baik bagi hidup kami", ucap Mawar dalam doa.
Mereka sama sama mengakhiri doa mereka bersama sama walaupun dalam jarak yang jauh sekalipun.
Tidak ada ikatan yang lebih kuat dari pada cinta dan kasih sayang.
__ADS_1
Yang membedakannya ialah, bagaimana kita mempertahankan ikatan cinta itu.
Dengan iktiar yang baik atau dengan cara cara yang buruk dan licik untuk mempertahankan sebuah hubungan.