
"Perlahan Ummar," instruksi dari dokter Malik yang terus ia ulang saat diri nya tengah membantu terapi kesembuhan Bos besar hari itu.
Perlahan Bos besar nampak mengikuti semua yang di ajarkan mertua nya saat itu.
Dengan tangan dan kaki yang masih gemetar saat melatih gerak, namun Bos besar tetap bersikeras tak mau beristirahat sedikitpun sampai sesi terapi nya benar benar selesai.
Sementara Fatimah terus berada di sudut ruang tunggu sembari membawa al quran kecil di tangan nya.
Hati nya tak henti henti nya melantunkan ayat demi ayat yang tertulis di sana sembari menunggu sang suami keluar dari ruang terapi.
"Perlahan nak, perlahan!," seru dokter Malik dengan sigap nya menopang tubuh Bos besar yang nampak telah kelelahan dengan beragam terapi nya hari itu.
Namun hanya senyum kecil yang di tampakkan oleh sang menantu, membuat dokter Malik begitu salut akan kegigihan dari menantu nya.
Aku akan cepat sembuh dan mengatakan semua kebenaran tentang diri ku ini pada keluarga mu dokter, aku tak bisa membayangkan jika tuan Danu atau dari orang lain lah kau mengetahui semua kebenaran nya, batin Bos besar sembari menurut tanpa melawan sedikit pun saat diri nya di arah kan kembali ke kursi roda nya untuk mengakhiri terapi nya hari itu.
"Bagaimana terapi pertama nya ayah?," seru Fatimah segera datang saat sang suster memanggil nya masuk.
"Aku tidak pernah mendapati seorang pasien yang begitu berambisi untuk sembuh seperti Ummar nak, bahkan tahap terapi yang biasa nya di lakukan sampai hari ketiga sudah ia kuasai di hari pertama nya," sanjung dokter Malik ikut berbahagia dengan kemajuan dari suami putri nya itu.
"Alhamdulillah ayah, sertakan doa mu juga di setiap usaha nya," ucap Fatimah begitu bahagia saat mendengar hasil itu.
__ADS_1
"Kalian mau langsung pulang?," tanya dokter Malik sembari meresepkan obat untuk sang menantu.
"Aku akan mengunjungi kakek lebih dulu, aku belum sempat menemui nya sampai hari ini," ucap Fatimah membuat dokter Malik semakin senang.
"Kalau begitu ayah akan menjadi supir mu hari ini," seru dokter Malik membuat tawa kecil Fatimah sampai terdengar di telinga mereka.
"Ayah tidak perlu melakukan itu, aku sudah membawa supir ku sendiri, dan supir ku itu cukup terbilang unik, aku bahkan setiap hari harus memarahi nya," seru dokter Malik seketika terdiam cukup lama memikirkan ucapan Fatimah.
Namun beberapa saat kemudian, ia juga ikut tertawa saat teka teki itu bisa ia pecahkan.
"Bagus, bagus!, terus marahi dia sampai otak nya itu bersih dan sadar nak," sahut sang ayah sembari mengantar Fatimah serta Bos besar keluar dari rumah sakit.
Dari kejauhan, nampak seseorang telah siap dengan keluh kesah dan amarah nya.
"Lama sekali!, aku sampai kelaparan di sini!, kalian tahu berapa jam kalian di dalam hah!," keluh Aqly sembari berkacak pinggang di hadapan Fatimah dan yang lain nya.
"Sudah dik?, sudah kah kau puas dengan ocehan mu, hem!," sahut Fatimah begitu tenang nya tanpa memperdulikan raut wajah Aqly yang semakin kesal saja saat mendengar nya.
Namun tanpa menjawab sepatah kata pun.
Aqly segera mengambil alih tugas membantu Bos besar masuk ke dalam mobil nya seakan dia sudah tahu tugas yang harus ia lakukan saat itu.
__ADS_1
"Titip salam untuk kakek nak," seru dokter Malik membuat Aqly berdecak pelan.
"Baik ayah, assalammualaikum," sahut Fatimah bersamaan dengan laju mobil mereka yang kian meninggalkan area rumah sakit.
"Kita menepi dulu di resto kesukaan mu dik," seru Fatimah membuat Aqly sedikit melupakan kekesalan nya.
"Kau yakin?," sahut Aqly meyakinkan.
"Tentu, kau bisa pesan apapun yang kau mau," ucap Fatimah membuat senyum Aqly sedikit merekah.
"Apapun?, benarkah?," sahut Aqly sembari membayangkan semua makanan yang ingin ia pesan.
Dengan tersenyum kecil, Fatimah hanya mengangguk membenarkan semua yang telah ia ucapkan.
"Siap!, ayo kita makan," seru Aqly membuat Fatimah berusaha keras menahan tawa nya.
Sementara Bos besar hanya tertegun menyaksikan cara Fatimah mendidik Aqly.
Terkadang ia akan bersikap keras dan seenak nya kepada sang adik, tapi terkadang ia akan memanjakan dan menyayangi nya selayak nya seorang kakak yang begitu peduli pada adik nya, sungguh kau tidak pernah bisa di tebak Fatimah, batin Bos besar begitu takjub setiap berada di dekat Fatimah.
Gadis sederhana namun begitu istimewa, batin Bos besar tak henti henti nya mengagumi sosok Fatimah.
__ADS_1
Jika nanti aku sembuh, aku akan kembali melamar mu dan menikahi mu dengan cara yang lebih baik Fatimah, semoga kau mau menerima ku kelak, batin Bos besar begitu lelah nya hingga ia perlahan mulai tertidur dengan pulas nya sebelum sampai ke tempat tujuan mereka selanjutnya.