Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Kecurigaan yang semakin mencuat.


__ADS_3

Pandangan Rani semakin buram, namun ia masih memiliki sebagian kesadaran nya saat itu.


"A- aku sekarang adalah Rani, bukan Rea!, jadi enyahlah kau dari sini!," sentak Rani bersamaan dengan datang nya angin kencang yang berhasil melepas cadar yang ia kenakan saat itu.


Terlihat wajah cantik Rea di sana, wajah yang menggambarkan identitas asli nya yang sengaja ia sembunyikan dari semua orang.


Tanpa sebuah jawaban, lelaki itu hanya menatap sendu sembari menangis merintih di tempat nya berdiri.


Perlahan bagian bagian tubuh nya mulai luruh dan lepas satu persatu, darah mengalir dari tubuh nya dengan bau amis yang begitu menyeruak tak tertahan kan.


"Mbak, rasa nya sakit mbak, tolong, tolong!, tolong!," seru lelaki itu dengan suara yang semakin melengking terdengar dengan bentuk tubuh yang semakin remuk tak karuan.


Membuat Rea kembali menjerit dan langsung pingsan pada saat itu juga.


___##____


"Cukup!, aku mohon Mira," seru Fatimah saat Mira serta Tia kini telah berhasil menyusul nya sampai ke rumah sakit.

__ADS_1


Fatimah semakin gelisah karna kedatangan Mira serta Tia kehadapan nya bersamaan dengan membawa sebuah kabar buruk lain nya.


Kabar tentang kecurigaan mereka terhadap sosok Rani yang di sangkut pautkan dengan hilang nya Rea secara misterius beberapa minggu ini.


Sedangkan di sisi lain, kondisi Bos besar saat itu masih dalam keadaan yang mengkhawatirkan.


Dua hal itu semakin membuat Fatimah terguncang.


Lampu igd kini tiba tiba berubah menjadi hijau.


Itu menandakan dokter telah selesai melakukan tindakan kepada Bos besar.


"Bagaimana kondisi suami saya dok?," tanya Fatimah seketika saat dokter terlihat keluar dari dalam ruangan.


Belum sempat dokter menjawab, nampak tangan sang dokter mencoba memeriksa dokumen yang ada di tangan salah satu suster nya kemudian ia nampak terlihat serius membuka lembaran lembaran kosong yang ada di tangan nya.


"Tolong, setidak nya beritahu saya kalau suami saya sekarang sedang dalam keadaan baik baik saja," sambung Fatimah membuat sang dokter cantik itu kini membuka masker medis nya.

__ADS_1


"Anda istri nya?," tanya balik sang dokter dengan tatapan heran.


Seketika Fatimah hanya mengangguk menjawab pertanyaan dari sang dokter.


"Begini buk, beliau sudah berhasil melewati masa kritis nya, benturan di kepala nya tidak menimbulkan luka dalam, namun guncangan nya begitu hebat hingga membuat nya mungkin tak sadarkan diri dalam beberapa hari ke depan. Kami sudah memberikan tindakan kepada kaki dan tangan nya. Tapi..," ucap sang dokter seketika menghentikan penjelasan nya saat itu.


"Tapi apa dok?, jangan berbelit belit," seru Mira tak sabar di buat nya.


"Kenapa data pasien masih kosong?, apakah suster kami belum menemui anda?," tanya sang dokter membuat Fatimah kebingungan sembari memandang ke sekeliling.


"Kak?," ucap Tia membuyarkan diam nya Fatimah saat itu.


"Nanti saya akan urus semua nya dok, maaf," ucap Fatimah sembari menatap ke arah sang suami yang nampak samar terlihat dari celah kaca kecil di pintu ruangan igd.


"Baiklah, saya tunggu," sahut sang dokter segera bergegas pergi dari sana.


"Fatimah, jangan bilang kalau..," ucap Mira mencoba menebak namun di hentikan oleh Fatimah.

__ADS_1


"Kita cari Rani sekarang, jangan sampai kita benar benar tertipu dengan nya." ucap Fatimah memberi perintah pada Mira dan Tia.


__ADS_2