
Malam semakin larut.
Para tamu undangan juga sudah telah meninggalkan tempat acara.
Pak Bram dan semua nya kerabat dan anak anak Fatimah memutuskan untuk pulang ke rumah masing masing.
Kini di rumah besar dokter Malik, hanya ada sepasang pengantin yang akan menghabiskan malam dengan berdua saja.
Kini Mawar duduk termenung di depan cermin.
Ia sudah memantapkan hati semaksimal yang ia bisa.
Tapi apalah daya, bayangan akan Burhan masih melekat di hati dan pikiran Mawar.
Ia merasa bersalah telah melanggar ucapan nya sendiri untuk tak menikah lagi.
Tapi demi sang ayah, ia juga tak bisa berbuat apa apa.
Bakti kepada ayah kandung nya ialah yang utama bagi nya kini.
Klik (pintu terbuka).
Nampak dokter Malik Masuk ke dalam kamar pengantin mereka dengan perasaan gugup.
Ia mencoba berjalan mendekati Mawar yang masih memakai kebaya putih, penampilan yang berhasil membuat dokter Malik terkagum kagum selama acara pernikahan berlangsung.
"Fatimah sudah memindahkan barang barang mu di almari itu", ucap dokter Malik terlihat begitu canggung untuk berada di dekat Mawar.
"Iya mas, aku tahu", ucap Mawar mulai melepas riasan bunga melati di jilbab nya.
Tak sengaja pandangan dokter Malik terpusat pada cermin di hadapan mereka.
Ia lagi lagi di buat hanyut akan cinta nya.
Melihat Mawar tengah duduk dan sibuk melepas riasan nya serta dirinya yang berdiri tepat di belakang Mawar, membuat dokter Malik tersenyum kecil.
Andai saja, gumam dokter Malik memilih pergi dari sisi Mawar.
Tapi sebuah sentuhan halus ditangan nya membuat langkah kaki nya berhenti.
"Mas mau kemana ?, apa mas tak ingin membantu ku melepas jilbab ?", seru Mawar membuat batin dokter Malik semakin tersayat.
Tanpa berkata apapun, dokter Malik menggenggam tangan Mawar dan mengajak nya duduk di tepi ranjang.
Membuat Mawar gugup dan ketakutan di setiap langkah kaki nya.
"Kamu takut Mawar ?", tanya dokter Malik mencoba tak menampakkan kesedihan hati nya.
"Tidak mas, aku adalah istri mu sekarang, malam ini aku milik mu", ucap Mawar tanpa berani memandang wajah sang suami.
__ADS_1
Cukup lama dokter Malik terdiam menatap raut wajah Mawar yang terus tertunduk, ia ingin memuaskan keinginan nya untuk menatap sang bidadari hati nya kala itu, sebelum kesempatan itu terlewat dan hilang begitu saja.
Sikap diam dokter Malik yang cukup lama menatap nya, membuat Mawar berinisiatif melepas jilbab nya sendiri.
Ia merasa itu saat nya bagi nya untuk melaksanakan kewajiban nya sebagai seorang istri.
Bismillah, gumam Mawar memasrahkan diri nya.
Namun tangan dokter Malik tiba tiba menghentikan gerak tangan nya.
"Biarkan jilbab itu tetap pada tempat nya", ucap dokter Malik membuat Mawar tercengang dan bingung.
Sebelum Mawar sempat berucap apa pun.
Dokter Malik mengulurkan sebuah dokumen kepada Mawar.
"Apa ini mas ?", tanya Mawar semakin heran.
"Bacalah", pinta dokter Malik.
Mawar pun hanya menurut akan perintah suami nya.
Ia mulai membaca dokumen yang kini telah berada di tangan nya.
Raut wajah Mawar mulai menegang, dan berangsur angsur berubah sayu, ada bendungan air mata yang tiba tiba tercipta di mata Mawar.
Air mata kini terlihat mengalir di pipi nya.
Mawar menatap lekat lekat wajah yang tersenyum kecil di hadapan nya.
Ia segera memeluk nya dan mengucapkan terima kasih berulang ulang kali.
Dokter Malik mengusap air mata nya dan mencoba untuk tegar dan tak menangis.
Dokter Malik hanya menampakkan senyum dan senyum di hadapan sang bidadari hati nya itu.
"Terima kasih mas !, aku tak tau harus berucap apa", seru Mawar menangis di pelukan dokter Malik.
Ingin kedua tangan nya membalas pelukan Mawar, tapi ia terlalu rapuh untuk itu.
"Sama sama Mawar, aku tahu ini juga bukan keinginan mu, aku mencoba menghargai keputusan hidup mu yang pernah kau buat dulu", ucap dokter Malik dengan tabah nya.
"Semua yang kamu lakukan ini, sangat berarti bagi ku, kamu rela melakukan semua ini demi janji ku di masa lalu kepada diri ku dan tuhan, terima kasih sekali lagi !", seru Mawar menangis bahagia.
Hati dokter Malik semakin remuk redam, ada rasa bahagia karna ia berhasil membantu Mawar agar tak mengingkari janji nya, tapi juga ada rasa sakit dan hancur di hati nya yang bercampur menjadi satu.
"Kalau begitu, kamu segarkan diri mu dan bersiaplah untuk tidur, aku akan ke ruang kerja ku dulu, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan", ucap dokter Malik melepaskan pelukan Mawar dari tubuh nya.
Perjanjian tertulis pernikahan :
__ADS_1
Pihak pertama atas nama Malik.
Pihak kedua atas nama Mawar.
Surat perjanjian ini di buat atas nama pihak pertama untuk pihak kedua.
Bahwasannya pernikahan ini berlangsung hanya di depan agama dan hukum.
Pihak pertama tak akan menyentuh pihak kedua dengan alasan apapun.
Dan tak akan menuntut hak nya sebagai seorang suami.
Pihak kedua di beri kebebasan untuk membatalkan pernikahan ini kapan pun ia mau.
Pihak pertama atas nama Malik, membuat surat perjanjian ini tanpa paksaan dan tekanan dari orang lain.
Di sah kan dengan Materai dan di jamin oleh hukum.
Dokter Malik masuk ke dalam ruang kerja nya dan langsung terduduk di lantai.
Ia menangis dalam diam sejadi jadi nya di dalam ruangan itu.
Ia luapkan semua kegundahan hati nya, ia lepaskan semua beban yang ada di batin nya.
"Mami !, kuatkan Malik !, peluk Malik mi !", seru dokter Malik meraih foto bu Maryam dan memeluk nya dengan erat.
Sementara Mawar yang telah berganti pakaian dan bersiap untuk tidur merasa khawatir dengan kondisi dokter Malik.
Ia lalu memutuskan membuatkan nya teh dan bergegas mengantar nya ke ruang kerja dokter Malik.
Saat ia sampai di depan pintu, Mawar tercengang mendengar isak tangis dokter Malik yang menyayat hati nya.
Membuat Mawar merasa bersalah dan terduduk di depan pintu.
Begitu baik hati nya, mengorbankan kebahagiaan dan hidup nya demi aku, gumam Mawar dalam hati sembari menutup mulut nya agar tangis nya tak terdengar oleh dokter Malik.
Mereka sama sama menangis akan jalan takdir mereka dan ketidak berdayaan mereka menghadapi nya.
Maafkan aku mas, aku hanya menjadi benalu di hidup mu, gumam Mawar lagi.
Malam yang seharusnya membahagiakan untuk mereka malah mengundang tangis bagi kedua nya.
Hati yang sama sama berserah di hadapan Allah.
Hati yang mampu menekan nafsu dan ego sendiri.
Hati yang selalu berpasrah dengan takdir Allah.
Niscaya Allah berjanji, akan ada bahagia untuk umat nya walaupun itu tak terjadi di dunia fana ini.
__ADS_1