
Mawar nampak bersemangat dengan perlengkapan yang ia beli untuk menjahit.
Tak terbayangkan sebelumnya, kegiatan di rumah barunya ini, ia dituntun takdir untuk memulai karirnya lagi dari titik nol.
Disela sela waktunya, mbak Lastri pun membantun Mawar sebisanya.
Sekeras apapun Mawar menyuruhnya istirahat, mbak Lastri akan tetap sibuk dengan kain dan guntingnya.
Hingga terkadang, ia ketiduran di sofa saat menemani Mawar begadang menyelesaikan sampel mukenahnya untuk di jual kecepatnya.
Jam menunjukkan pukul 1 dini hari.
Tubuh Mawar seakan sudah letih untuk bekerja lagi.
Ia hanya butuh istirahat sejenak.
"Huaammm(menguap), ya Allah dah pukul satu", melihat ibunya yang terlelap di sofa dengan masih memegang kain yang rencananya akan ia potong.
"Ibuk, ibuk, Mawar kan dah bilang jangan dipaksain", ucap Mawar sambil mengambil selimut dan memakaikannya di tubuh ibunya.
Sudah Jam 1, lebih baik aku sholat, gumam Mawar sekali lagi melihat ke arah jam dinding.
Mawar berwudhu dan bersiap untuk sholat tahajud.
Dalam shalat sepertiga Malam ini, Mawar tak lupa mendoakan setiap orang orang yang ada di hidupnya, terutama Ibunya dan tak terkecuali Mami nya.
Ia mohon dengan sangat agar ibu kandungnya itu bisa mendapat pencerahan dan memeluk Mawar sekali saja.
Ia juga memohon dilancarkan semua urusan dan usaha Mawar di tempat barunya ini.
Dan di beri hati yang lebih kuat dalam menghadapi setiap takdir hidup yang ia jalani.
Doa yang tak lupa Mawar selalu panjatkan dalam doanya di sepertiga malam......
اَللّٰهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ مَالِكُ السَّمَوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ نُوْرُ السَّمَوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ اَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ وَلِقَاءُكَ حَقٌّ وَقَوْلُكَ حَقٌّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالنَّبِيُّوْنَ حَقٌّ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ حَقٌّ
Aminnn, aminnn ya Allah..
Ia kemudian tertidur di atas sajadahnya.
Seakan tubuhnya juga sudah meminta Mawar untuk segera beristirahat.
___
Keesokan Paginya Mawar sudah nampak mengemas beberapa bungkus mukenah buatannya.
"Buk, Mawar pamit dulu ya, doakan semoga Laris", ucap Mawar mencium punggung tangan ibunya.
"Hati hati ya nak", ucap Mbak Lastri mencium kening Mawar.
"Assalammualaikum", ucap Mawar mulai berjalan keluar dari rumah.
"Walaikumsalam", ucap Mbak Lastri melepas anaknya berjuang demi karirnya.
Mawar memang bukan seorang lulusan sarjana, tapi pola pikirnya melebihi pemikiran seorang yang sudah bergelar sarjana.
__ADS_1
Orang bijak selalu berkata,
...*Guru terbaik di dalam hidup adalah pengalaman itu sendiri*...
Mawar sendiri sudah membuktikan itu.
Tak apa ia bukan lulusan Sarjana, yang terpenting kerja kerasnya dan misi untuk lebih maju ia pegang selalu dan pengalamannya selama ini membuatnya memiliki ide ide baru untuk semua rancangan mukenahnya.
Mungkin keterampilan menjahitnya itu sepele.
Tetapi..!!, harus selalu diingat.
Seorang desaigner gak akan mungkin memiliki brand sendiri jika tidak merasakan jatuh bangun dan mulai menjahit dengan kedua tangannya sendiri.
Seorang Penulis tidak akan bisa membuat sebuah karya tanpa pernah membaca bertumpuk tumpuk karya hebat yang memicu inspirasi dari dalam dirinya.
Tidak ada yang instan, itulah yang selalu ditanamkan Mawar saat mulai merintis karirnya.
Terik Matahari mulai menyengat.
Tak terasa Mawar sudah berkeliling menjajahkan dagangannya sampai waktu sholat dhuhur memanggil.
"Alhamdulillah", seru Mawar mengelap keningnya yang basah karna keringat mendengar suara Azhan dhuhur berkumandang.
Mawar pun berhenti sejenak di sebuah Masjid.
Ia menunaikan shalat di sela sela waktunya berjualan.
Meskipun hari ini, belum satu pun dagangan Mawar terjual.
Terdengar sayup obrolan lelaki pengurus masjid dengan seorang pak ustad di sana.
"Gimana ini pak Nasir..??, kenapa bisa mukenah banyak yang rusak..??, gimana nanti jika ada musafir atau orang orang sekitar yang berniat sholat di sini.
??", ucap seorang yang terlihat dari penampilannya yang memperlihatkan bahwa ia seorang Ustad di sana.
"Saya juga bingung pak, saya sudah bersihkan seluruh Masjid seperti biasanya, hal ini juga tak pernah terjadi, dari mana datangnya tikus tikus itu..??", ucap pengurus masjid kebingungan.
"Astagfirullah, terus bagaimana ini..??" keluh pak ustad.
Mawar yang mendengar perdebatan mereka mencoba untuk mendekat.
"Assalammualaikum Pak", ucap Mawar.
"Walaikumsalam", ucap kedua lelaki di hadapannya secara bersama sama.
"Maaf sebelumnya, saya tak sengaja mendengar pembicaraan bapak berdua, kalau boleh tau kenapa ya pak..?", tanya Mawar.
"Begini nak, masjid kita semua mukenahnya rusak di koyak tikus, padahal sebelumnya tak ada tikus di sekitaran Masjid, kami juga heran", ucap pak Ustad menjelaskan.
"Boleh saya memberi solusi pak..??", tanya Mawar.
"Ya boleh, apa itu ...??", ucap pengurus masjid penasaran.
Mawar pun berjalan ke arah tas jualannya dan mengambil beberapa bungkus mukenah.
Kedua lelaki itu saling pandang melihat Mawar yang mengeluarkan banyak mukenah.
__ADS_1
"Pak, ini saya kebetulan menjual mukenah", ucap Mawar menyerahkannya pada pengurus masjid.
Mereka pun menerimanya, saat melihatnya mereka cukup terkesan dengan keindahan mukenah itu.
"Alhamdulillah, pas sekali, anak siapa namanya..??", ucap pak ustad.
"Mawar pak", ucap Mawar.
"Terima kasih nak Mawar, kami memang membutuhkannya, saya ambil ya..!, berapa semua ini..??", tanya pak ustad.
Mawar seketika menolak uluran uang dari pak ustad.
"Maaf pak, terima saja, saya ikhlas menolong", ucap Mawar tak menerima uang itu.
Pak ustad pun tertegun.
"Masyallah, lalu bagaimana jualan kamu nantinya, apa tak rugi..??", tanya pak ustad.
"Insyaallah pak saya benar benar ikhlas, anggap saja ini awal saya untuk merintis usaha, doakan saja ya pak", ucap Mawar.
"Alhamdulillah, pasti nak Mawar, saya akan doakan semoga dagangannya lancar", ucap pak ustad.
"Amin, terima kasih pak, mari saya pamit, assalammualaikum", ucap Mawar berlalu meninggalkan masjid dan kembali menyusuri jalan untuk berjualan.
Pak ustad dan pengurus masjid sangat kagum dengan keiklasan Mawar.
Di tengah tengah perjuangannya mencari nafkah, ia masih sempat memikirkan sodaqoh.
Sore itu Mawar pulang dengan tas yang sudah berkurang sebagian beratnya.
Mbak Lastri merasa senang, ia pikir dagangan anaknya laku keras di hari pertamanya berjualan.
"Assalammualaikum buk", ucap Mawar mencium punggung tangan ibunya dan segera duduk di samping ibunya.
"Walaikumsalam, minum dulu nak..??", ucap Mbak Lastri menyodorkan air putih yang sengaja ia sudah siapkan di meja untuk Mawar.
"Gimana jualannya, laris..??", tanya mbak Lastri antusias.
"Gak laku satu pun buk", ucap Mawar meneguk air pemberian ibunya.
"Tapi kayaknya tas jualan kamu berkurang banyak barang nak", ucap Mbak Lastri heran.
"Tadi siang Mawar sempet sholat di masjid buk, nah mereka habis terkena musibah serangan tikus yang merusak habis mukenah masjid, ya udah Mawar kasih aja sebagian mukenah Mawar ke masjid, gpp kan buk..??", ucap Mawar menceritakan kejadian di masjid.
Mbak Lastri tertegun mendengar ucapan Mawar.
Ya Allah, anak macam apa Mawar ini..??, gumam mbak Lastri dalam hati.
"Ya Allah nak, mulia sekali hatimu", ucap Mbak Lastri.
"Gpp buk, anggap saja awal usaha Mawar kali ini dimulai dengan mencari pahala Allah yang tak kan terputus lewat perantara Masjid", ucap Mawar.
Mbak lastri pun memeluk anak kebanggaannya itu.
"Iya nak, iyaa, semoga Allah menerima amalan baikmu ya", ucap mbak Lastri meneteskan air mata di atas jilbab Mawar.
Ia bersyukur di hari tuanya, Allah menitipkan anak yang begitu luar biasa untuk bersamanya sampai ajalnya nanti.
__ADS_1