
"Ayolah gadis ku!, apa kamu tak lelah menghindar terus dari ku?," seru Tuan Darji dengan tatapan penuh nafsu ke arah Fatimah.
"Aku bukan gadis mu!, jangan pernah panggil aku seperti itu!," sahut Fatimah membuat Tuan Darji tertawa.
"Baik!, baik!, jika kamu tak suka. Apa lebih baik aku panggil kamu sayang ku?, seru Tuan Darji kembali tertawa dengan kencang nya.
Sementara di sisi lain, Fatimah semakin gemetar ketakutan di buat nya.
"Tolong lepaskan aku," ucap Fatimah dengan nada memohon.
"Kamu mau aku melepaskan mu?, pasti !, pasti aku akan mengabulkan nya," seru Tuan Darji membuat Fatimah tercengang.
"Benarkah?," sahut Fatimah dengan nada tak percaya.
"Tentu!, kemarilah. Ya ampun!, pasti kamu begitu ketakutan ya pada ku," ucap Tuan Darji dengan raut wajah penuh penyesalan.
Dengan beberapa ucapan baik saja, itu cukup untuk membuat Fatimah berfikir bahwa Tuan Darji benar benar akan menolong nya.
Perlahan, Fatimah mencoba berjalan mendekati Tuan Darji.
Saat jarak mereka hanya tinggal 2 meter saja.
Dengan cepat Tuan Darji berusaha memeluk Fatimah.
Sontak hal itu membuat Fatimah terkejut dan kembali berusaha menjauh dari Tuan Darji.
Namun langkah Fatimah sangat kalah cepat dibandingkan Tuan Darji.
Hingga Tuan Darji berhasil memeluk tubuh Fatimah meskipun hanya dalam hitungan detik saja, sebelum akhir nya Fatimah bisa melepaskan diri dari cengkraman Tuan Darji kembali.
"Kenapa kamu terus melawan pada ku!, cepatlah!, aku tak sabar menikmati tubuh mu itu!," sentak Tuan Darji semakin bernafsu ketika tangan nya telah berhasil memegang perawakan Fatimah yang menurut nya akan lebih menggoda jika tersibak dari gamis nya itu.
Fatimah begitu tercengang dan terpukul dengan apa yang telah ia dengar.
Ia tak menyangka, seorang lelaki akan mudah berucap palsu dan begitu mudah nya melecehkan harga diri perempuan.
"Menjijikkan!, jauhkan tangan kotor mu itu dari ku!, dan bersikap lah untuk tidak bermuka dua!," sentak Fatimah tersedu sedu.
__ADS_1
Sontak ucapan Fatimah itu malah memancing amarah Tuan Darji, meskipun Fatimah saat itu mengatakan nya dengan berderai air mata.
"Kamu berani menghina ku!, seumur hidup ku baru hari ini aku di hina!, kamu bilang apa?, aku menjijikkan!, aku kotor!," teriak Tuan Darji dengan amarah yang siap meledak.
"Pergi!," seru Fatimah merasa tak sudi berada satu ruangan dengan lelaki bejat seperti Tuan Darji.
"Kali ini kamu harus membayar semua penghinaan mu ini!, aku akan buat kamu mati lemas saat melayani ku!, jangan harap ada kelembutan yang kamu rasakan malam ini!," sentak Tuan Darji menatap tajam ke arah Fatimah sembari terus mencoba mendekati Fatimah kembali.
Dengan tatapan bingung dan ketakutan, Fatimah terus saja berusaha mencari cara untuk lepas dari tekanan Tuan Darji.
Qāla rabbisyraḥ lī ṣadrī. Wa yassir lī amrī. Waḥlul ‘uqdatam mil lisānī. Yafqahū qaulī, insyaallah, batin Fatimah menyerahkan diri nya sepenuh nya kepada Tuhan nya.
Seketika tatapan Fatimah tertuju pada garpu di atas piring bekas makan siang nya hari itu.
Entah kenapa hari itu tidak ada satu pun yang membawa nya keluar dari kamar usai Fatimah menghabiskan makan siang nya.
"Kita mulai dengan cadar mu itu," ucap Tuan Darji berusaha membuka cadar Fatimah.
Saat tangan Tuan Darji hampir membuka cadar Fatimah, sontak Fatimah segera berlari ke arah garpu yang berada di atas meja sudut.
"Jangan coba coba mendekat!," sentak Fatimah memperingatkan.
"Mau apa kamu dengan benda seperti itu sayang?, kamu ingin melukai ku?, seru Tuan Darji terus saja berupaya mendekati Fatimah.
"Sudah ku katakan, jangan mendekat!," sentak Fatimah sekali lagi sembari terus memegang erat garpu di tangan nya meskipun dengan tubuh yang semakin bergetar ketakutan.
"Wanita seperti mu tak akan berani melukai orang lain, jadi jangan terus membuang buang waktu ku!, kemarilah!, aku sudah tak sabar lagi!," sentak Tuan Darji membuat Fatimah langsung menempelkan ujung garpu nya di pergelangan tangan nya.
"A, a, apa yang kamu lakukan?," seru Tuan Darji terkejut.
"Kamu benar tuan, aku tak akan berani melukai orang lain, itu dosa besar. Tapi apa kamu pernah mendengar kata mati syahid?," sahut Fatimah seakan baru saja mendapatkan sebuah keberanian besar dalam diri nya.
"Mati Syahid?," seru Tuan Darji menatap aneh ke arah Fatimah.
"Ya!, mati karna mencoba membela apa yang benar menurut ku dan agama ku," seru Fatimah tanpa ragu mulai menyayat tangan nya dengan brutal dan terus berulang ulang.
Seketika Tuan Darji mematung di tempat nya berdiri.
__ADS_1
Ia begitu terkejut saat melihat kenekatan gadis bernama Fatimah itu.
"Wanita macam apa kamu ini!," seru Tuan Darji segera berlari tunggang langgang keluar dari kamar Fatimah.
--------
"Ada apa Tuan?," seru Bos besar begitu terkejut saat melihat Tuan Darji berlari keluar dari rumah nya.
"Gadis macam apa yang kamu tawarkan pada ku!, aku minta uang ku kembali!, dan aku tak akan lagi menginjakkan kaki ku di sini!," sentak Tuan Darji bergegas memasuki mobil nya dan pergi dari sana. Menimbulkan tanda tanya besar dalam benak Bos besar dan semua orang yang ada di sana.
Bos besar segera berlari dengan penuh amarah menuju ke kamar Fatimah diikuti oleh semua orang yang merasa penasaran dengan apa yang sebenar nya telah membuat Tuan Darji begitu marah dan ketakutan.
Begitu masuk ke dalam kamar Fatimah, mereka begitu terkejut saat melihat Fatimah dengan kondisi kedua tangan yang telah berlumuran akan darah dan penuh akan luka goresan dan sayatan.
Bahkan Aqly begitu syok dan tak percaya dengan apa yang tengah ia lihat.
Dengan tubuh yang sudah lemas, Fatimah masih terus mencoba melukai tangan nya, saat garpu itu akan ia arahkan ke muka nya semua orang sontak menjerit ketakutan di buat nya.
"Hentikan wanita bodoh!," teriak Bos besar mencoba menghentikan aksi nekat Fatimah.
Namun, Fatimah hanya menatap sendu ke arah semua orang dan tak berselang lama ia pun pingsan sebelum sempat menggores wajah nya.
Para Body guard segera bergegas mengangkat tubuh Fatimah ke atas ranjang.
Sementara Bos besar masih mematung menatap Fatimah yang kini tengah tak sadarkan diri.
"Bos!, dia masih hidup, apa yang harus kita lakukan?," seru Mira bergegas memeriksa kondisi Fatimah.
"Panggilkan dokter pribadi kita, aku tak mau dia mencoreng nama ku saat masuk ke rumah sakit," seru Bos besar saat tersadar dari lamunan nya.
Saat yang lain nya mulai meninggalkan kamar Fatimah.
Entah kenapa Bos besar masih betah berada di kamar itu.
Terus memandangi Fatimah yang tengah di rawat oleh para dokter pribadi nya.
Kenapa dengan wanita ini?, kenapa ia begitu sulit di lumpuhkan?, batin Bos besar menatap heran ke arah Fatimah yang masih tak sadarkan diri.
__ADS_1