Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Kelahiran


__ADS_3

Pyarr....


"Aduhhh...!!", seru Rahel menjatuhkan gelas yang ia pegang.


Ia berusaha berjalan dengan menahan sakit, memegangi perutnya yang telah membesar.


Ia berusaha meraih ponselnya yang berada di sudut meja ruangan.


"Awwhhh..!!, sakit...!!", rintih Rahel yang berjalan dengan bersandar di tembok apartemen Susan.


Kala itu Susan sedang ada projek di luar, meninggalkan Rahel sendiri di usia kandungannya yang sudah tua.


Siapa sangka, ia akan melahirkan hari ini, 2 minggu lebih awal dari perkiraan dokternya.


Rahel dengan susah payah bisa meraih ponselnya.


Ia segera menghubungi nomer Susan tapi tak tersambung.


"Ayook Susan, kenapa gak aktif sih..!!, awhhh..!!", rintih Rahel melihat air ketubannya yang telah pecah.


"Susann...!!!!", teriak Rahel membanting ponselnya karna tak bisa menghubungi sahabatnya itu.


Karena mendengar kegaduhan, pemilik apartemen di sebelah Susan pun mencoba mengetuk pintu apartemen milik Susan.


Tokk..tokk..


"Halloo, are you okey...??", seru seseorang yang mendengar jeritan Rahel.


Rahel yang menahan sakit, mengumpulkan tenaganya untuk menjawab seseorang yang ada di depan pintu apartemennya.


"Help..!!, help me please, i will give birth", teriak Rahel sekuat tenaga.


Wanita yang sedari tadi gelisah didepan pintu apartemen segera berlari memanggil petugas pengelolah apartemen.


Mereka segera membuka pintu apartemen Susan dengan menggunakan kunci duplikat.


Mereka sangat terkejut melihat Rahel sudah terduduk kesakitan di lantai.


Mereka segera membawanya ke rumah sakit terdekat dan menghubungi Susan selaku pemilik resmi apartemen itu tapi hasilnya nihil.


Dilain tempat, Susan sudah selesai dengan urusannya.

__ADS_1


Ia mengambil ponselnya dan melihat catatan riwayat panggilan di ponselnya selama ia meninggalkan ponselnya di mobil.


"Rahel...??", ucap Susan heran melihat catatan panggilan telfon berulang ulang dari Rahel.


Susan pun mulai gelisah.


"Kok petugas apartemen juga telfon..??", seru Susan dan segera menghubungi ulang Rahel, karna tak ada jawaban ia kemudian menghubungi petugas apartemen miliknya.


Saat Susan di beritahu tentang keadaan Rahel, ia segera bergegas menemuinya.


"Oke, thanks you", ucap Susan menutup telfonnya dan bergegas menuju rumah sakit tempat Rahel melahirkan.


Sesampai di sana ia sudah ditunggu wanita yang menemukan Rahel saat itu di apartemen.


Ia membawa Susan ke ruangan bersalin Rahel.


Susan menunggu di luar karna proses persalinan Rahel belum selesai.


"Come on sis, push..!!, again..!!", seru dokter yang membantu persalinan Rahel.


Susan menunggu dengan mondar mandir di depan pintu persalinan.


Ia melihat ke arah jam tangannya.


Sesaat kemudian, terdengar suara tangisan dari dalam ruangan.


"Syukurlah", ucap Susan lega.


1 jam berlalu, Rahel sudah dipindahkan ke ruang rawat.


Susan menggendong bayi Rahel dan menunjukkannya pada Rahel.


"Hallo mommy, baby girl datang...!!", seru Susan mendekat ke arah Rahel yang seolah tak suka dengan kedatangannya.


"Stop..!!, jauhin bayi itu dariku", ketus Rahel.


"Rahel....!!, dia itu bayi mu lhoo", ucap Susan mencoba membuat Rahel menggendong bayinya.


"Gara gara dia aku kesakitan, **** * ku di robek, digunting, dikoyak, dijahit, kamu tau gak sih Susan..!!", seru Rahel menjauh dari bayinya sendiri.


"Trus, gimana bayi ini..??", ucap Susan menatap bayi malang di dekapannya.

__ADS_1


'Buang aja, masalah selesai", ucap Rahel dengan nada tak ragu sedikitpun.


"Tapi ini anakmu Rahel", seru Susan tak habis pikir dengan sikap Rahel.


"Kamu kan tau tujuan aku kemari untuk apa, berarti kamu tau dong aku gak mau anak itu", ucap Rahel memalingkan pandangannya.


"Okey, terserah kamu mau lakuin apa sama bayi ini, tapi jangan lakuin disini, aku gak mau karir aku terseret karna masalah kamu ini, terserah kamu mau apain anak ini, tapi setelah kamu pulang ke Indonesia, dan sebelum itu kamu harus rawat bayi ini, ngerti...!!!", seru Susan sudah hilang kesabarannya karna menghadapi sikap Rahel yang keterlaluan.


Susan pun meletakkan bayi itu di pangkuan Rahel yang masih acuh dengannya.


Seketika bayi itu menangis.


Dan Rahel lagi lagi tak mempedulikannya.


"Kamu denger kan ucapanku barusan Hel, selama kamu disini, kamu harus rawat bayi itu", ucap Susan tegas.


"Lalu..??", seru Rahel.


'Susui dia Rahel, dia lapar", ucap Susan mencoba membuat Rahel mengerti.


"Ogahhh..!!", ketus Rahel.


"Rahel...!!, apa aku telfon orang tua kamu..??", ucap Susan menggertak.


"What..!!, okey, okey", ucap Rahel kemudian mencoba menyusui anaknya.


"Awhhhhh..!!", teriak Rahel membuat bayinya hampir jatuh jika tak di tangkap oleh Susan.


"Rahel..!!", seru Susan Marah.


"Sakit tau...!!, udah **** * sakit minta ampun, payuda*a juga harus sakit, udah deh beliin dia susu formula aja, aku mau tidur, capek...!!", ucap Rahel menutup dirinya dengan selimut.


Susan ingin kembali memarahi Rahel, tetapi bayi dalam gendongannya terus saja menangis.


Akhirnya ia membawanya keluar dan meminta susu formula pada suster yang bertugas.


Tak lama kemudian bayi itu kembali tenang.


Susan melihat ke arah bayi itu.


Ia merasa iba dan merasa ikut bersalah karna menjadi bagian dari rencana Rahel.

__ADS_1


Ia akhirnya memutuskan bahwa bayi itu tak akan terlantar atau terbuang sia sia selama ia masih ada.


"Tenang sayang, semoga ada wanita yang akan merawatmu lebih baik dari ibu kandungmu", ucap Susan menimang nimang bayi itu.


__ADS_2