
Mbak Lastri terlihat sangat khawatir menunggu sambil mondar mandir di teras rumah menunggu kepulangan Mawar serta Burhan.
Terlebih ia baru saja mengetahui bahwa Geyna juga tidak berada di rumah.
"Astagfirullah mi...!!, mami kemana...??", seru mbak Lastri terus saja mondar mandir di teras rumah.
Sementara Geyna ternyata sedang mengendarai mobilnya menyusul Mawar dan Burhan.
"Tunggu Mami sayang..!!, mami sebentara lagi sampai", ucap Geyna sambil mempercepat laju mobilnya.
Beberapa menit kemudian, mobil Geyna berhenti di tepi jalan di sebrang rumah bordil.
Pandangannya tertuju pada mobil Burhan yang berhenti tak jauh dari mobilnya.
Geyna menghampirinya dan terkejut melihat Burhan yang tengah pingsan di dalam mobil.
"Burhan...!!", seru Geyna mengetuk pintu mobil tetapi tak ada respon sama sekali dari Burhan.
Tiba tiba perasaan Geyna seakan gelisah.
Ia memandang ke arah rumah besar yang dulu adalah miliknya.
Sebaiknya aku cari Mawar dulu, ia tak aman berada di dalam rumah itu, terlebih bersama Gea, gumam Geyna dalam hati.
Geyna bergegas menuju ke rumah besar.
Ia tak menyangka, kakinya akan menginjak rumah ini lagi.
Ia berinisiatif masuk melewati serambi belakang.
Ia sangat tau setiap detail rumah itu, karna ia dibesarkan disana.
Saat ia melewati bagasi belakang, ia melihat banyak bensin dalam tong.
Ia terdiam sejenak memandangi tong tong itu.
"Semua ini harus diakhiri, atau hidup Mawar tidak akan tenang", ucap Geyna mengambil beberapa tong berukuran kecil dan membawanya mendekati rumah besar.
Geyna menuangkan bensin di sekeliling rumah itu sampai tak tersisa.
Ia kemudian mengunci setiap pintu belakang yang ada dan masuk dengan mengendap ngendap mencari keberadaan Mawar.
Saat ia membuka salah satu kamar.
Geyna menemukan Fatimah yang tengah digendong oleh seseorang.
"Siapa kamu..??, kamu kaki tangan Gea kan..!!", seru Geyna mencoba mengambil Fatimah dari gendongan Susan.
"Bukan, saya hanya membantu merawat Fatimah saja, apakah kamu ibu dari Mawar..??", ucap Susan ketakutan.
"Iyaa, kenapa kamu bisa mengenalku..??, dan apakah kamu tau dimana Mawar..??", seru Geyna mengguncang guncang tubuh Susan.
"Syukurlah ada yang datang menolongnya, tolonglah Mawar buk, dia orang baik", ucap Susan menangis.
"Memang kenapa dia..??", seru Geyna gelisah.
"Gea berencana menjualnya, saat ini dia sedang berada di dalam kamar bersama lelaki hidung belang", ucap Susan menjelaskan keberadaan Mawar.
Geyna pun panik dan bergegas ingin mencari Mawar.
"Tunggu..!!, ini kunci kamar Mawar, kamar diujung sana, aku mencurinya dari saku kawanku", seru Susan berpihak pada Mawar.
__ADS_1
Geyna mengambil kunci itu dan segera berlari menuju kamar yang dimaksud Susan.
Ia mengambil sebuah vas bunga dan segera membuka kamar itu.
Saat pintu dibuka.
Mawar sedang ketakutan berada di sudut kamar, memegangi pipinya yang memerah dan mulut yang berdarah.
Lelaki itu terkejut saat Geyna masuk tanpa seizinnya kedalam kamar.
"Geyna...!!, bukannya kamu sudah mati..!!", seru lelaki itu yang ternyata ialah salah satu mantan pelanggan Geyna yang dulu.
"Ya..!!, dan sekarang Geyna yang baru datang kembali ke sini untuk menjemput anaknya, apa yang telah kau lakukan padanya...??", seru Geyna mendekati lelaki itu dengan air mata yang menetes dari matanya.
"Dia pantas aku tampar..!!, ia tak mau melayaniku, aku sudah bayar mahal untuknya", seru Lelaki itu menatap Geyna yang seolah menantang dirinya.
"Beraninya tangan kotormu memukul anakku..!!", seru Geyna mengangkat vas yanga ia sembunyikan di belakang punggungnya dan memukul lelaki dihadapannya itu.
"Awhhh..!!, kurang aj*r kau Geyna..!!", seru lelaki itu kemudian pingsan dan tersungkur kelantai.
Geyna pun bergegas memapah Mawar keluar dari kamar itu.
"Mi...!!, Mawar takut..!!", seru Mawar menangis terisak isak di pelukan Geyna.
Saat itu Geyna merasakan perih yang teramat dalam menusuk hatinya, ia ikut menangis merasakan derita Mawar.
Ya Allah..!!, kejamnya aku ingin menjual anakku seperti ini di masa lalu, gumam Geyna dalam hati.
"Sudahlah Mawar, kita sekarang jemput Fatimah ya", ucap Geyna bergegas kembali ke kamar tempat Susan dan Fatimah berada.
"Fatimah...!!", seru Mawar memeluk Fatimah.
"Maafkan aku mbak, aku tidak tau menahu dengan rencana Rahel dan Gea, aku disini hanya demi Fatimah", ucap Susan memohon maaf pada Mawar.
"Sebenarnya aku itu sahabat dari Rahel, dan aku juga yang menyelamatkan Fatimah dari ibu kandungnya yang ingin membuangnya sembarangan, jadi aku memungut Fatimah kembali dan meletakkannya di depan rumahmu", ucap Susan membuat Mawar dan Geyna terkejut.
"Si, si..., siapa orang tuanya...??", tanya Mawar penasaran.
"Rahel dan Jeri, lelaki yang bersama Rahel saat menyekapmu", ucap Susan membuat Mawar makin tak percaya lagi.
"Teganya mereka mempermainkan nasib anaknya sendiri", ucap Mawar memeluk erat Fatimah dalam pelukannya.
"Ayo kita pergi dari sini", seru Geyna membawa mereka ke pintu serambi belakang.
"Pakailah selimut ini", seru Susan menutup bahu Mawar dengan sebuah selimut.
"Trima kasih", ucap Mawar menarik Geyna agar ikut keluar dari rumah itu, tetapi seakan Geyna menolaknya.
"Mi...!!, kenapa mami berhenti ...??", seru Mawar heran.
"Pergilah Mawar, menjauhlah dari rumah ini, mami akan menemuimu di depan nanti", ucap Geyna menutup kembali pintunya dan menguncinya dari dalam.
"Mi...!!", seru Mawar khawatir.
"Ayo Mawar, kasihan Fatimah", seru Susan menarik tangan Mawar pergi dari rumah itu.
Sementara didalam rumah, Geyna mengunci setiap pintu keluar lainnya.
Ia kemudian berjalan menuju ke ruang tamu dimana Gea dan kawan kawannya sedang berpesta.
Tetapi ia tak melihat keberadaan Rahel.
__ADS_1
Ia hanya melihat Jeri dan Gea beserta beberapa lelaki hidung belang lainnya.
Gea terkejut bukan main melihat Geyna yang berjalan menuju ke arahnya.
"Mami...!!", seru Gea beranjak dari tempat duduknya.
"Siapa dia..??", seru Jeri bingung.
Sedangkan Gea dan para lelaki itu hanya terdiam membisu menatap Geyna.
"Apa kabar Gea..??, aku heran kenapa aku tiba tiba sangat merindukan kebersamaan kita dulu", ucap Geyna tersenyum di hadapan Gea, membuat Gea makin bingung dengan apa yang sedang direncanakan oleh Geyna.
"Jangan diem aja..!!, tangkap dia..!!", teriak Gea dengan kencangnya memberi perintah pada Jeri, membuat para gadis asuhannya pun berhamburan turun dari lantai dua dan bergegas menuju ke arah mereka.
Langkah mereka seketika terhenti melihat Geyna yang tengah berdiri di depan mereka.
"Mami..!!", seru mereka serempak.
"Hay sayang, mami akan akhiri dosa kalian hari ini, tenang, mami juga akan menemani kalian kok", ucap Geyna membuat semua yang ada diruangan itu merasa bingung.
"Apa maksudmu..??", seru Gea penasaran dengan rencana Geyna.
"Aku yang mendidik kalian menjadi pendosa dunia, dan aku pula yang akan mengakhirinya", ucap Geyna meneteskan air matanya.
"Jangan bertele tele", seru Gea merasa dipermainkan.
"Apakah kalian tak mencium bau sesuatu..??", ucap Geyna memberi sebuah isyarat pada mereka.
Gea dan yang lainnya pun terkejut.
"Bensin..!!, ini bau bensin Gea..!!", teriak Jeri ketakutan.
Geyna yang melihat mereka mulai ketakutan pun mengeluarkan sebuah korek api dari sakunya.
"Jangan gila mi..!!, kamu juga akan ikut mati jika menyalakannya", seru Gea mencoba menghentikan Geyna.
Sementara yang lain berhamburan berlari mencari jalan keluar dari rumah itu.
Secepatnya Geyna menutup satu pintu depan yang belum ia kunci dan menelan kunci itu.
Mereka pun terpaku di tempatnya berdiri melihat kenekatan Geyna.
"Aku tak sedang main main, matilah kalian bersamaku", ucap Geyna menyalakan korek api ditangannya yang sempat direbut paksa oleh Jeri.
"Aku sayang kamu anakku, Mawar, maaf mami hanya bisa lakukan ini untukmu, dan mami juga tak akan bisa menemanimu di surga nanti, karna tindakan bunuh diri ini juga akan menyeret mami ke dalam neraka, selamat tinggal", seru Gea melempar korek apinya ke arah genangan bensin yang telah ia siram disekeliling tembok rumah itu.
"Tidak..!!", seru Gea bersamaan dengan api yang menyebar dengan cepat saat korek api itu terjatuh dari tangan Geyna.
Mawar seketika berhenti berlari.
Ia merasakan ngilu dihatinya saat itu.
Ia membalikkan badannya dan melihat rumah besar telah terbakar dan meledak dari dalam.
"Mami...!!", teriak Mawar di tempatnya berdiri.
Ia ingin berlari tapi ditahan oleh Susan dan Burhan yang telah sadar dari pingsannya.
Para warga dengan cepat berlari ke arah ledakan dan sumber api.
Mereka berbondong bondong menyaksikan dan mencoba memadamkan api agar tidak menjalar semakin jauh ke rumah warga warga sekitar.
__ADS_1
Sementara Mawar terus menangis histeris menatap rumah bordil yang terbakar habis bersamaan dengan Geyna didalamnya.
"Maafin Mawar mi", seru Mawar berulang ulang di sela sela tangisannya.