Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Kesempatan kedua yang sia sia.


__ADS_3

Semenjak kepergian mbak Lastri.


Mawar tak seceria dahulu.


Ia sering menangis dalam shalatnya, dan tidur dengan memeluk foto kedua wanita yang sangat berarti dihidupnya.


Kegiatan Mawar pun lebih terbatas dari pada dahulu.


Ia yang dulunya penuh semangat dan pekerja keras, sekarang ia hanya fokus menjadi ibu rumah tangga dan merawat Bram, orang tua satu satunya yang ia miliki.


Tepat hari itu, penyelidikan dokter Malik membuahkan hasil.


Rekaman cctv di kediaman Mawar yang terbakar masih bisa di ambil file nya.


"Mas bisa liat sendiri rekamannya", ucap teknisi yang membantu dokter Malik menyelamatkan file itu.


Amat terkejutnya dokter Malik melihat siapa dalang dari pembakaran itu.


Bahkan bukti itu diperkuat dengan rekaman cctv yang ia ambil dari jalan utama perumahan tempat Mawar tinggal.


"Astaga..!!", seru dokter Malik hampir tak bisa mengontrol pijakan kakinya, ia begitu syok, bahwa wanita yang masih berstatus istrinya itu sangat brutal dan tak punya belas kasih.


Dokter Malik memalingkan muka saat melihat rekaman yang memperlihatkan bagian mbak Lastri yang berlarian menyelamatkan diri saat insiden itu terjadi, hingga ia kehabisan nafas dan tergeletak tak berdaya di dalam rumah itu.


Dokter Malik menangis melihatnya.


Ia tak kuasa menahan kesedihannya.


Bagaimana jika itu ibu kandungnya...??, apakah sanggup seorang anak menyaksikan ibunya bertarung dengan ajal seperti itu...??.


Semoga husnul khotimah buk, gumam dokter Malik dalam hati dan bergegas mengambil cd itu, lalu bergegas menuju kerumahnya.


Karna sejak kejadian itu Burhan tak tega meninggalkan Mawar sendirian di rumah bersama anak anak, alangkah lebih baik jika ia bersama bu Maryam dan ayah kandungnya untuk sementara waktu.


Jadi Mawar sekeluarga tengah tinggal di rumah dokter Malik.

__ADS_1


Dokter Malik termenung di dalam mobilnya.


Ia bingung harus memberitahu kenyataan itu atau tidak kepada Mawar.


Rahel pantas di hukum karna kesalahannya.


Tapi apakah Mawar sanggup menghadapi kenyataan itu...??.


Bahwa pembunuh ibunya ialah ibu kandung dari Fatimah, anak yang ia rawat seperti anak kandungnya sendiri.


Beberapa saat kemudian.


Dokter Malik telah sampai di kediamannya.


Ia masuk ke dalam rumah dan melihat Burhan sedang menggendong Aqly di ruang tamu.


Dokter Malik memandang kesekeliling, ia takut Mawar berada di sekitar mereka.


Dokter Malik menghampiri Burhan dengan wajah yang nampak gugup dan gelisah.


"Burhan, bisa ikut aku sebentar", ucap dokter Malik meletakkan tasnya di sofa.


Mereka pun berjalan menuju ke teras depan.


Dokter Malik mencoba memberitahukan fakta itu pada Burhan terlebih dahulu.


"Apa..!!", seru Burhan tak percaya dengan apa yang dokter Malik sampaikan.


"Aku takut memberitahukan ini pada Mawar", ucap dokter Malik.


"Lebih baik kita urus ini berdua saja, kita laporkan Rahel tanpa Mawar tau yang sebenarnya", ucap Burhan memberi solusi.


Saat Burhan dan dokter Malik tengah mengobrol di teras.


Mawar tak sengaja membereskan mainan Aqly dan Fatimah di sofa.

__ADS_1


Mawar melihat tas dokter Malik tergeletak di atas sofa.


"Lebih baik aku taruh di tempat kerjanya", ucap Mawar membawa tas dokter Malik dan meletakkannya di meja kerjanya.


Saat Mawar meletakkannya, tak sengaja cd di tas itu jatuh.


"Astagfirullah..!!", seru Mawar memungut kaset itu.


Ini apa....??, gumam Mawar dalam hati penasaran, karna di atas kaset itu tertulis tanggal kejadian kebakaran di rumahnya.


Mawar pun menyalakan laptop dan memutar rekaman itu.


Betapa syok nya ia melihat rekaman cctv itu.


Tubuhnya gemetar dan tak kuasa berdiri.


Ia terduduk di lantai dan berteriak histeris.


Bahkan ia sangat tak berdaya saat melihat detik detik saat mbak Lastri akan tewas.


Semua orang bahkan Burhan dan dokter Malik segera berlari menemui Mawar.


"Masyaallah..!!, kenapa Mawar..??", ucap Burhan mendekap Mawar agar tak histeris.


Mawar menunjuk dengan tangannya yang semakin gemetar.


Dokter Malik pun menyadari apa yang tengah membuat Mawar hilang kendali.


Burhan hanya menatap dokter Malik dan mencoba menenangkan Mawar.


"Kamu benar mas..!!, tak pantas wanita itu di beri kesempatan kedua, kesempatan kedua itu ternyata hanya sia sia, malah membawa ajal bagi ibuku", teriak Mawar histeris.


"Istigfar nak", seru bu Maryam mencoba menenangkan Mawar.


"Dia harus di hukum buk", seru Mawar tersedu sedu.

__ADS_1


"Pasti, dan aku yang akan memastikan itu", ucap dokter Malik mengambil cd itu dan melajukan mobilnya menuju ke kantor polisi.


__ADS_2