
Mobil melaju cepat menuju rumah sakit.
Mawar hanya tertuju pada ibunya yang masih pingsan.
Sttttttt...
Mobil berhenti di depan pintu rumah sakit.
Lelaki itu bergegas turun dari mobil dan memanggil suster.
"Suster...!!, cepat kesini, ada keadaan darurat", ucap lelaki itu lalu membuka pintu mobil belakang dan menggendong mbak Lastri dari pangkuan Mawar.
"Cepat sus", ucap lelaki itu.
"Baik dok", seru suster itu mendorong ranjang dorong mbak Lastri masuk ke ruang ugd.
Mawar menangis menunggu lelaki itu selesai memeriksa ibunya.
Yang Mawar baru ketahui bahwa lelaki itu ternyata adalah seorang dokter, dari ucapan suster tadi yang memanggil lelaki itu dengan sebutan dokter.
Lelaki itu keluar dari ruang ugd.
Mawar pun beranjak dari tempat duduknya dan bergegas menghampirinya.
"Dok, gimana keadaan ibuku..??", ucap Mawar menghapus air matanya.
"Ibumu baik baik saja, ia masih belum sadar karna efek dari obat yang ku berikan, biarkan ia beristirahat dulu, nanti jika sudah siuman ibumu bisa langsung di bawa pulang, ia hanya syok tadi, dan kakinya juga sudah saya obati dan perban, mungkin butuh 4-5 hari untuk pulih", ucap dokter muda itu.
"Alhamdulillah, terima kasih dok", ucap Mawar merasa lega.
"Panggil saja saya Malik, kalau boleh tau, nama mbak siapa..??", ucap dokter itu dengan ramahnya.
"Saya Mawar, panggil saja saya Mawar", ucap Mawar dengan sedikit menunduk, itu sudah kebiasaan Mawar, bahwa dihadapan lelaki atau lawan jenis, pak kyai sudah mengajarkannya untuk menjaga pandangan matanya.
___
Sore itu mbak Lastri sudah siuman dan beransur ansur badannya sudah sedikit memiliki tenaga.
"Mawar, ayo kita pulang, nanti biaya rumah sakit mahal", ucap mbak Lastri.
"Sudahlah buk, jangan pikirkan itu, insyaallah Mawar punya tabungan untuk membayar pengobatan ibuk, yang penting ibuk sehat ya", ucap Mawar menyuapi ibunya.
Mawar memang memiliki sedikit tabungan dari hasilnya berjualan Mukenah yang ia tekuni setahun akhir akhir ini, tapi namanya usaha butuh modal besar.
Dan tabungan itu rencananya akan digunakan Mawar untuk membeli bahan baku mukenah lebih banyak lagi, agar dagangannya semakin maju.
Tapi ibunya lebih penting dari segalanya.
Uang bisa dicari, tapi ibu tidak ada duanya lagi di dunia ini.
Selagi kita masih diberi kesempatan berbakti, maka berbaktilah.
Tokk..tokkk
"Assalammualaikum", ucap dokter Malik masuk ke ruangan mbak Lastri.
__ADS_1
"Walaikumsalam", ucap Mawar dan ibunya.
"Gimana buk, sudah baikan..??", ucap dokter Malik memeriksa keadaan mbak Lastri.
"Alhamdulillah nak, Mawar juga sudah cerita tentang nak dokter, makasih ya atas pertolongannya", ucap mbak Lastri.
"Sesama manusia harus saling membantu buk", ucap Dokter Malik menyelesaikan pemeriksaannya.
"Apakah saya boleh pulang dok ...??", ucap mbak Lastri.
"Keadaan ibuk sudah cukup baik, ibuk boleh pulang hari ini", ucap dokter Malik.
"Alhamdulillah, Mawar, ibuk sudah boleh pulang", ucap mbak Lastri merasa senang.
"Ya sudah buk, biar Mawar bayar administrasi ibuk dulu", ucap Mawar keluar dari ruangan.
"Saya tinggal dulu ya buk", ucap dokter Malik mengejar Mawar.
"Mawar...!!", seru dokter Malik memanggil Mawar.
Tapi sepertinya Mawar tak mendengar panggilan dokter Malik.
Mawar tiba di tempat resepsionis.
Dokter Malik pun bersembunyi di sudut ruangan, ia tak jadi mengikuti Mawar.
"Sus saya mau bayar tagihan atas nama ibu Lastri", ucap Mawar mengeluarkan dompetnya.
"Bentar ya mbak", ucap Suster mengecek tagihannya.
"Saya belum bayar kok sus, suster salah nama mungkin", ucap Mawar merasa keheranan.
"Benar mbak, tadi sudah ada yang melunasi tagihan ibuk anda", ucap suster.
"Lalu siapa yang sudah melunasinya sus..??", ucap Mawar penasaran.
"Maaf mbak, orangnya tidak menyebutkan namanya", ucap suster.
"Terima kasih sus", ucap Mawar berlalu pergi meninggalkan tempat resepsionis.
"Siapa orang baik yang membantu aku dan ibuk, alhamdulillah ya Allah", ucap Mawar menuju kamar ibunya.
Saat melihat Mawar telah menjauh dari tempat resepsionis, dokter Malik mendatangi suster yang bertugas.
Tanpa ia ketahui, Mawar merasakan sesuatu, entah apa itu, sehingga membuatnya menoleh dan melihat dokter Malik.
Tak sempat Mawar memanggilnya, Mawar melihat ia menuju tempat resepsionis.
Karna penasaran, Mawar menguping pembicaraannya.
"Sus...!!", ucap Dokter Malik mengagetkan Suster di tempat resepsionis.
"Astaga dokter...!!!", seru suster dengan ekspresi kagetnya.
"Maaf, maaf, oh ya sus, makasih ya udah rahasiain nama saya di tagihan ibunya Mawar", ucap dokter Malik.
__ADS_1
"Kembali kasih dokter, yang penting jangan lupa traktirannya ya..", ucap suster terkekeh.
"Beres", ucap dokter Malik melanjutkan candanya dengan suster itu.
Mawar terkejut mendengar pembicaraan mereka.
Manusia macam apa dokter Malik itu.
Ia baru bertemu denganku sekali, tapi mau menolongku dan ibuk ketika kami kesusahan, gumam Mawar dalam hati.
Mawar pun kembali ke kamar ibunya, pura pura tak mengetahui pembicaraan dokter dan suster tadi.
Mawar berberes merapikan kamar rawat ibunya, dan bersiap untuk pulang.
Saat keluar dari pintu rumah sakit.
Dokter Malik tiba tiba berlari menuju mereka.
"Mawar..!!, tunggu..!!", ucap dokter Malik mendekati Mawar dan ibunya.
"Ada apa dok..??", ucap Mawar menundukkan pandangannya.
"Saya antar, kebetulan barang daganganmu ada dibagasi mobilku, boleh kan buk..??", ucap Dokter Malik menawarkan jasanya.
"Apa tak merepotkan dokter..??", ucap mbak Lastri.
"Tidak kok buk, saya sekalian ke arah pulang", ucap dokter Malik meyakinkan.
"Baiklah", ucap mbak Lastri mengiyakan tawaran dokter Malik.
"Mari", ucap dokter Malik membuka pintu mobilnya dan membantu mbak Lastri masuk ke dalam mobil.
Segera dokter Malik melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit.
Mbak Lastri sepertinya merasa, bahwa ada kecocokan antara Mawar dan dokter Malik.
Mereka seperti didekatkan meskipun tanpa mereka paksa.
Takdir lah yang sepertinya mempertemukan mereka berdua.
"Buk, ini rumahnya di mana ya..??", ucap dokter Malik.
"Kami tinggal di pesantren Ummar dokter", ucap Mawar menjelaskan.
"Ohh, pesantren Ummar, milik pak kyai Usman", ucap dokter Malik.
"Kamu kenal kyai Usman nak", ucap mbak Lastri.
"Iyaa buk, mama saya yang kenal dekat dengan pak kyai buk", ucap dokter Malik.
"Masyaallah, dunia itu sempit ya nak", ucap mbak Lastri melempar senyum pada dokter Malik.
Dokter Malik pun membalas senyuman itu, seperti mengiyakan ucapan mbak Lastri.
Karna sejatinya, manusia hanya menjalankan takdir dari Allah.
__ADS_1
Tinggal kita menjalaninya dan memilih jalan yang baik atau buruk di dunia ini.