
Rahel masih mondar mandir di dalam kamarnya.
Ia sudah tak tau caranya menyembunyikan kehamilan ini.
Jika ia diam saja, cepat atau lambat orang tuanya pun akan mengetahuinya.
Bahkan yang terburuk, rencana pertunangannya akan gagal total.
"Gak, gak....!!, aku gak mau perjodohan ini gagal, aku gak mau hidup kekurangan, apalagi harus menikah dengan orang seperti Jeri yang gak bisa bikin aku hidup mewah setiap saat", ucap Rahel berusaha memecahkan masalahnya.
Drrrttt...drttt...
Ponsel Rahel berdering.
Ia segera mengangkat panggilan telfon masuk di ponselnya.
"Hallo..??", ucap Rahel sedikit acuh.
Tak lama raut wajahnya berubah happy mendengar suara dari seseorang yang menelfonnya.
"Susan...???, apa kabar kamu...??, gimana karir kamu di Amerika..??", ucap Rahel sesaat melupakan masalahnya.
Mereka pun berbicara panjang lebar di telfon.
Susan pun sempat menawari Rahel kursus desainer seperti susan dulu.
Di tempat Susan kebetulan di buka kursus untuk jangka waktu 1-2 tahun.
"Emmm, gimana ya..??, kamu tau sendiri, aku tu males kalau urusan gituan, keluargaku dah kaya, aku gak usah susah susah kursus dan kerja hanya untuk makan doang", ucap Rahel sambil tertawa.
"Oke deh, aku cuma mau kabari itu sama kamu, lagian kalau di Amerika kamu juga lebih bisa have fun lagi kan..??, ya gak..?, ucap Susan di telfon.
"Bener juga sih, aku pikir pikir dulu deh, oke...!!, bye....", ucap Rahel menutup telfonnya.
Ia pun merebahkan badannya di ranjang.
Ia lalu memikirkan tawaran dari Susan.
"Kenapa aku gak ambil aja kesempatan itu ya..??, aku bisa buat itu untuk nutupin kehamilanku", ucap Rahel seperti mendapatkan pencerahan terhadap masalah yang menimpanya.
Ia pun bangkit dari ranjang dan bergegas mencari papa dan mamanya.
Rahel melihat papa dan mama nya sedang bersantai di ruang keluarga.
Ia mendekat dan bersandar di bahu mama nya.
__ADS_1
"Malam ma, pa", ucap Rahel bermanja di bahu mama nya.
"Malam sayang", ucap papa dan mama nya hampir bersamaan.
"Ma, Pa, Rahel mau ngomong sesuatu nih", ucap Rahel mengutarakan rencananya.
"Ngomong aja sayang", ucap Mama nya mengelus rambut anaknya.
"Rahel mau minta izin papa sama mama buat kursus desaigner di Amerika", ucap Rahel.
Papa dan mama nya seketika langsung saling berpandangan.
"Papa gak salah denger sayang..??, ngapain juga kamu kursus, kamu itu pewaris satu satunya keluarga Yahya dan sebentar lagi menguasai warisan keluarga Bram, kurang apa lagi cobak...??", seru Yahya bingung dengan permintaan anaknya.
"Iya sayang, lagian kamu tumben..??, biasanya kan kamu gak suka kayak gituan ah, enak shopping sama ke salon aja mendingan, kayak biasanya gitu", ucap Dara.
"Mama...., papa..., ini juga aku lakuin biar pak Bram juga lebih kagum lagi dong ke aku, ya gak..??", ucap Rahel lebih berusaha meyakinkan kedua orang tuanya agar bisa pergi ke Amerika.
"Papa kan bisa beli sertifikat kursus itu buat kamu, seperti sertifikat sertifikat yang udah papa belikan buat kamu, kamu gak sah capek capek lagi", ucap papa nya.
"Ayolah pa, satu tahun aja...", ucap Rahel memohon.
"Lalu perjodohan kamu sama Malik anaknya pak Bram gimana...??", ucap Dara tak mau kesempatan itu lewat.
"Mama sama papa kan bisa bilang kalo aku udah terlanjur mau kejar karir aku dulu lewat kursus itu ma, setaun aja ya..??", ucap Rahel bersikeras dengan rencananya.
"Oke pa, makasih ya..", ucap Rahel kegirangan lalu mencium pipi mama dan papanya.
Orang tua Rahel hanya bisa pasrah dengan permintaan Rahel.
Dari dulu, apapun itu mereka selalu memenuhinya permintaanya tanpa terkecuali.
Hingga sekarang pun, tanpa tau alasan sebenarnya di balik keinginannya pergi ke Amerika, mereka langsung menyetujuinya saja.
Keesokan Malam, keluarga Yahya dan keluarga Bram berangkat menuju resto yang mereka pesan untuk makan malam bersama.
Dokter Malik dan bu Maryam tidak tau sama sekali tentang niat dari Bram yang akan menjodohkan dokter Malik dengan Rahel.
Mereka hanya diminta menemani Bram makan malam dengan rekan bisnisnya.
Keluarga Yahya akhirnya telah sampai di pintu masuk restoran.
Terlihat Keluarga Bram sudah menunggu kedatangan mereka, mereka telah sampai lebih dulu di sana.
"Yahya...!!", seru Bram bangkit dari duduknya dan menyambut temannya itu.
__ADS_1
"Pak Bram, maaf menunggu kami", ucap Yahya memeluk rekan bisnisnya itu.
"Santai saja, kami juga baru saja sampai", ucap Bram dengan senyumnya yang lebar.
Mereka pun saling memperkenalkan antar sesama anggota keluarga mereka, baik bu Maryam, Dara, dokter Malik bahkan Rahel.
"Liat Malik, cantik kan Rahel..??", ucap Bram berbisik pada Malik ditengah tengah acara makan mereka.
"Gimana nih lanjutannya pak Bram, tentang perjodohan anak anak kita", ucap Yahya mengejutkan bu Maryam dan dokter Malik.
"Pi, apa maksudnya ini semua..??", ucap Dokter Malik bingung dengan ucapan Yahya.
"Lhoo, apa papi mu belum memberi tahumu, bahwa papi mu sudah meminta Rahel anak om untuk bertunangan dengan mu", ucap Yahya menjelaskan niat mereka berdua.
"Pi, papi gak pernah ngomong sama aku dan Malik", ucap Bu Maryam bingung.
"Sudahlah Malik..., mi.., lihat Rahel, dia itu wanita sempurna, beruntung anak kita bisa menikah dengan dia", ucap Bram tak menghargai sama sekali pendapat istri dan anaknya.
"Aku gak mau pi, aku gak mau dijodohkan dengan wanita yang gak aku cintai, aku juga belum kenal dengan dia", ucap Dokter Malik membuat Rahel sedikit kesal dengan perkataan Malik.
Tetapi ia berusaha menenangkan dirinya dan berusaha mendapatkan simpati lebih dari pak Bram.
"Malu malu,in papi kamu ..!!", seru Bram menggebrak meja.
"Sudah om, sudah, jangan dipaksa, Malik benar, kita memang belum saling kenal, begini saja..., kebetulan saya ada urusandi Amerika selama setahun ini, dan selama itu saya kasih waktu Malik untuk memikirkan perjodohan ini, oke Malik...??", ucap Rahel memperlihatkan bahwa ia adalah wanita yang penyabar di hadapan Bram dan keluarganya.
"Liat Malik..!!, sudah kau hina, tolak, tapi dia masih memberimu kesempatan", ucap Bram murka.
Yahya dan istrinya pun memutuskan untuk mengakhiri pertemuan mereka.
"Sudahlah pak, sebaiknya bicarakan baik baik dulu, lebih baik kami permisi dulu", ucap Yahya pergi bersama anak dan istrinya.
Bram pun berdiri dan pergi meninggalkan anak dan istrinya.
Sementara bu Maryam mencoba menenangkan emosi Malik yang hampir meletup ke permukaan.
Dokter Malik sudah sangat frustasi mencari keberadaan Mawar, tapi papinya malah sibuk mencarikan calon istri untuknya.
Yahya masuk ke mobil diikuti oleh istri dan anaknya.
"Pa, kok diem aja sih, Malik udah berani lho nolak anak kita", ketus Dara.
Yahya hanya diam dalam waktu yang cukup lama.
"Mama..!!, biarin Malik kayak gitu, toh pak Bram udah jatuh diperangkap kita", ucap Rahel acuh dengan sikap Malik padanya.
__ADS_1
"Bener ma, yang penting pak Bram sudah memilih Rahel sebagai calon istri anaknya, mereka tak akan bisa berkutik sebentar lagi", ucap Yahya melajukan mobilnya meninggalkan resto itu.