
"Aqly ?, dari mana saja kamu sayang", seru Mawar saat melihat Aqly pulang ke rumah pagi itu.
"Biasa lah Bunda, aku tidur di rumah Riko", timpal Aqly sembari melewati bunda nya begitu saja.
"Kamu punya rumah, kamu punya keluarga, apa itu masih kurang untuk mu ?", seru Mawar membuat semua pasien klinik menatap nya.
"Bisa tidak bunda tak bikin aku kesal", sahut Aqly melempar tas nya ke lantai dan tak sengaja membuat rokok nya terlempar ke luar dari tas sekolah nya.
Segera Mawar memungut nya sebelum Aqly sempat mengambil nya kembali.
"Apa ini ?, sejak kapan Aqly merokok ?, sejak kapan anak lelaki bunda merokok ?", sentak Mawar tak menyangka.
"Ada baik nya juga Bunda tau, jadi aku bisa merokok tanpa sembunyi sembunyi lagi", ketus Aqly.
Membuat mata Mawar seketika menggenang air mata.
"Hampir setiap hari bunda memperingatkan mu sayang, dan kamu juga tak lupa akan cerita bunda akan kematian ayah mu kan ?, dia bukan perokok tapi meninggal karna paru paru yang bermasalah, yang tidak merokok saja bisa sakit apalagi yang suka merokok Aqly !", seru Mawar tak bosan bosan mengingatkan sang putra.
"Aku bosan !, aku bosan dengan ceramah bunda yang tentang kesehatan lah !, agama lah !, tentang semua nya lah !, di jaman ini semua kalangan merokok bunda !, bahkan pelajar !, tentang kematian ayah ?, itu sudah semestinya, jangan di sangkut pautkan dengan hal sepele seperti ini !", sentak Aqly membuat semua orang yang di sekitarnya menatap Aqly dengan tatapan tak suka.
"Jaga sikap mu nak, dia itu ibu mu", seru seorang pasien klinik.
"Diam !, kenapa semua terus mengatur hidup ku !, kenapa tak ada yang mengatur hidup anak haram itu !", teriak Aqly membuat orang orang semakin geram.
Sedangkan Mawar hanya mematung memandang tajam ke arah Aqly saat mendengar ucapan nya itu sembari berderai air mata.
Bahkan saat itu dokter Malik terlihat berlari keluar dari ruang periksa saat dia mendengar teriakan Aqly.
"Apa maksud mu ?", tanya Mawar meluruskan arti ucapan Aqly.
"Kenapa bunda ?, bunda terkejut aku mengetahui bahwa Fatimah itu bukan anak bunda !, bahwa kenyataan nya ia hanya anak haram yang beruntung bunda pungut saat masih bayi !", seru Aqly seketika mendapat sebuah tamparan dari Mawar.
Melihat itu semua, bahkan dokter Malik sendiri tak bisa berucap apapun saat mendengar ucapan buruk yang keluar dari mulut Aqly.
"Dengar ya putra ku !, hari ini bunda menampar mu, dan bunda tak akan pernah menyesal melakukan nya !, bunda sudah berusaha mendidik putra dan putri bunda dengan baik, dan hari ini, tangan bunda sendiri menampar darah daging bunda sendiri, jika bunda bersalah di mata dunia dan di mata Allah, biarlah Allah sendiri yang menghukum bunda nanti nya, perbaiki ucapan mu itu atau bunda akan lebih kasar pada mu !", seru Mawar dengan begitu tegas nya.
Seruan Mawar membuat Aqly benar benar tercengang.
Ia tak menyangka akan diperlakukan seperti itu dihadapan banyak orang.
__ADS_1
Kini pandangan orang orang pada diri nya nampak terlihat bahwa mereka mendukung sang bunda.
Mereka seakan senang dengan perlakuan bunda nya pada diri nya.
"Bunda akan menyesal karna membela nya !, dan ingat ini bunda !, hari ini aku menjadi anak bunda hanya sebatas identitas !, aku akan hidup sesuai aturan ku dan keinginan ku !, sampai bunda tak akan mengenali ku lagi !", seru Aqly bergegas pergi.
Sedangkan Mawar hanya terdiam mematung dengan berderai an air mata tanpa menghalangi kepergian Aqly.
"Mawar, duduk lah, atur emosi mu", seru dokter Malik bergegas memapah Mawar yang tak bergeming sedikitpun.
"Aku sudah gagal mas !", seru Mawar terkulai lemas diiringi dengan tangisan nya yang pecah saat itu juga.
Semua orang yang ada di sana, bahkan dokter Malik mencoba menenangkan Mawar.
Para wanita ikut menangis merasakan luka hati seorang ibu yang dengan sengaja digoreskan oleh putra kandung nya sendiri.
Sementara di luar gerbang rumah.
Aqly tak sengaja berpapasan dengan Fatimah.
"Aqly ?, kamu mau kemana lagi ?", tanya Fatimah mencoba menghadang jalan Aqly.
"Masyaallah Aqly !, bunda sangat mengkhawatirkan mu semalaman", seru Fatimah segera bangkit tanpa memperdulikan tangan nya yang berdarah.
"Diam !, semua ini gara gara kamu !, kenapa kamu harus masuk di kehidupan ku dan kehidupan bunda ku anak haram !", teriak Aqly seperti orang kesetanan.
Ucapan Aqly membuat Fatimah tercengang dan terluka hingga menangis.
"Bisa kamu tak memanggil ku dengan sebutan anak haram ?", seru Fatimah.
"Anak haram tetaplah anak haram meskipun aku tak memanggil mu begitu !", teriak Aqly lagi dan lagi.
Fatimah mencoba tegar dan meredam rasa sakit hati nya.
"Ayo pulang, kasihan bunda", pinta Fatimah sembari menggenggam tangan Aqly.
Sikap Fatimah makin membuat Aqly marah besar.
Aqly langsung menepis tangan Fatimah dan langsung mengangkat tangan nya, bersiap menampar Fatimah seperti yang dilakukan bunda nya kepada nya.
__ADS_1
Tapi sebelum ia melakukan nya, sebuah mobil menepi di sisi mereka membuat pandangan Aqly teralihkan.
"Masuklah !", pinta sebuah suara dari dalam mobil.
"Tapi urusan ku belum selesai dengan nya", timpal Aqly.
"Ku bilang masuk !", seru suara itu lagi.
Membuat Aqly menuruti nya dan segera masuk ke dalam mobil berwarna silver itu.
Fatimah mencoba mengenali sosok di dalam mobil itu, tapi nampak nya baru saat itu ia pertama kali melihat nya, ia nampak begitu asing di pandangan Fatimah.
"Aqly !, pulang Aqly !", seru Fatimah mencoba membujuk Aqly walaupun ia sudah pergi bersama dengan mobil misterius yang membawa nya.
"Memuakkan !", ketus Aqly sembari bersandar di mobil yang terus melaju meninggalkan Fatimah.
"Siapa dia ?", tanya suara itu lagi.
"Dia ?, dia hanya anak pungut bunda ku bos besar ", seru Aqly yang ternyata sedang bersama dengan Bos besar.
"Anak pungut ?", tanya Bos besar meyakinkan.
"Ya !, dia adalah anak haram yang kebetulan di pungut oleh bunda ku, jangan sampai tertipu dengan cadar nya Bos", seru Aqly.
"Menarik", seru Bos besar sembari tersenyum kecil mendengar cerita Aqly.
"Menarik Bos ?, itu semua membuat ku sakit kepala !", ketus Aqly membuat Bos besar mulai mengerti permasalahan yang membuat anak muda di hadapan nya menjadi memberontak.
"Ya sudah, seperti nya kamu tak berniat pulang sekarang ini, sebaiknya kamu ikut aku pulang", ajak Bos besar.
"Bolehkah ?", seru Aqly.
"Tentu !, kita kan teman", seru Bos besar tertawa.
"Oke", timpal Aqly langsung menerima ajakan Bos besar.
Di sepanjang perjalanan, pikiran Bos besar tak bisa terlepas memikirkan sosok Fatimah.
Ia merasa tertarik dengan cerita hidup nya dan terutama dengan cadar yang menutupi wajah nya.
__ADS_1
Persis seperti yang ku cari, dan dia sangat cocok menjadi bahan eksperimen ku selanjutnya, gumam Bos besar tersenyum dengan licik nya.