Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Keberuntungan masih berpihak pada Bram


__ADS_3

Dokter Malik melajukan mobilnya, niat hatinya sudah mantap untuk meminang Mawar.


Dalam hati ada perasaan khawatir Mawar tak memaafkan kekhilafan papinya waktu itu.


Tapi ia yakin, Allah pasti memberi jalan atas niat baiknya ini.


Ia berangkat menuju pesantren di dampingi mami dan papinya.


Sedangkan papinya, yaitu Bram sangat gusar selama di perjalanan.


Ia tak sungguh sungguh ingin melamar Mawar untuk Malik.


Tapi karna desakan istrinya, ia terpaksa menyanggupinya.


Ia berfikir keras bagaimana caranya menggagalkan lamaran ini.


Sungguh otakku tak ada ide sama sekali, gumam Bram dalam hati.


Bu Maryam mengetahui kegusaran suaminya.


Ia paham sekali watak suaminya.


Tapi Bu Maryam akan mencegah apapun rencana suaminya yang mungkin akan berniat menggagalkan penyatuan Malik dan Mawar kali ini.


"Mi, pi, kita dah sampai", ucap dokter Malik melambaikan tangannya pada penjaga gerbang pesantren.


Tak berapa lama, penjaga gerbang langsung mempersilahkan mobil dokter Malik masuk.


Mobil berwarna merah itu terparkir langsung di tempat biasanya pak kyai Usman berada, ia menemui pak kyai terlebih dahulu untuk sekalian meminta arahan dan bimbingan dalam mengutarakan niatnya itu pada Mawar.


Tokk..tokkk


"Assalammualaikum", ucap Dokter Malik mengetuk pintu kantor pesantren.


Nampak seorang guru datang menghampiri mereka.


"Walaikumsalam, oh nak Malik, ada perlu apa ya..??", ucap salah seorang guru pesantren keluar dari bilik ruangan.


"Pak kyai ada??", tanya dokter Malik.

__ADS_1


"Pak kyai ada di musholah nak", ucap guru itu menunjuk ke arah musholah.


"Baiklah buk terima kasih, kami akan menemui pak kyai di sana", ucap dokter Malik seakan tak sabar lagi ingin bertemu dengan Mawar.


Terlihat dari teras musholah, pak kyai sedang membaca al quran dengan khusu' nya.


Melihat kedatangan Dokter Malik beserta keluarganya segera pak kyai menyelesaikan bacaannya.


"Shodakallah hull azhim", ucap Pak kyai menutup al quran di depannya.


Dokter Malik yang mengetahui pak kyai telah menyelesaikan bacaannya, segera masuk diikuti oleh mami dan papinya mendekati pak kyai.


"Assalammualaikum pak kyai", ucap dokter Malik mencium punggung tangan pak kyai.


"Walaikumsalam, ada apa ya gerangan..??, tumben bapak dan ibuk datang bersama sama kemari..??", ucap pak kyai keheranan.


Tanpa basa basi, bu Maryam mengutarakan tujuan mereka kemari.


"Begini pak kyai, kami sebagai orang tua Malik, ingin meminta restu dan bantuan pak kyai untuk melamar Mawar sebagai istri anak saya. Malik", ucap bu Maryam menjelaskan.


Pak kyai terkejut mendengar penuturan bu Maryam.


Dan ketika melihat raut wajah suami bu Maryam, nampak jelas keterpaksaanya datang kemari.


Sebenarnya pak kyai juga bahagia bahwa kedatangan mereka mencari Mawar untuk melamarnya, tetapi kondisinya sekarang sudah berbeda.


Pak kyai pun menghela nafas panjang sebelum ia menyampaikan kabar Mawar kepada Malik.


Mungkin jika Mawar masih berada di pesantren, pak kyai adalah orang pertama yang bahagia mendengar niat baik dari dokter Malik.


Terlebih pak kyai sudah merasakan kecocokan antara Mawar dan dokter Malik sejak lama.


Tapi sepertinya nasi sudah menjadi bubur, kenapa butuh cukup lama untuk nak Malik mengutarakan niatnya melamar Mawar..??, gumamnya dalam hati.


"Begini nak Malik, pak, buk, saya sebelumnya minta maaf", ucap pak kyai.


Senyum di wajah dokter Malik kian menghilang, mendengar ucapan pak kyai barusan.


Tapi sepertinya pak Bram tertarik dengan informasi yang akan di sampaikan oleh pak kyai.

__ADS_1


"Apa maksud pak kyai..?", tanya bu Maryam.


"Apakah sudah ada yang melamar Mawar pak kyai..??", tanya dokter Malik.


"Bukan begitu nak..", ucap pak kyai.


"Lalu kenapa pak kyai..??, apakah saya kurang pantas untuk Mawar..??", tanya dokter Malik makin penasaran.


"Sebenarnya Mawar sudah pergi dari pesantren ini beberapa hari yang lalu", ucap pak kyai.


Senyum di bibir Bram mengembang.


Sementara bu Maryam dan dokter Malik sangat terkejut mendengarnya.


Dokter Malik tak menyangka, ia akan kehilangan Mawar sebelum ia sempat mengutarakan niatnya itu.


"Ada yang harus nak Malik dan keluarga ketahui tentang Mawar", ucap pak kyai.


"Apa itu pak kyai..??", seru bu Maryam mengusap air matanya.


"Sebenarnya, Mawar itu adalah anak dari seorang pela*ur, dan itulah penghalang Mawar untuk hidup normal di masyarakat, tapi pahamilah buk, Mawar itu anak baik, hanya karna kesalahan orang tuanya, ia tak berhak di salahkan atas semuanya", ucap pak kyai menceritakan apa adanya tentang Mawar.


Bram mendengar semua dengan sangat jelas, ia terkejut seperti yang lain, tapi sekarang ia menemukan alasan lagi untuk dirinya menolak Mawar lagi menjadi pendamping Malik.


Air mata bu Maryam kembali menetes, ia melihat Malik yang tak bergeming sedikitpun.


"Liat kan mi..!!, pilihannmu hanya seorang anak pela*ur..!!, taruh mana muka kita nantinya..??, sudah dari awal papi tak setuju Malik dengan gadis itu, tapi kalian tak mau mendengarkan", ketus Bram, walaupun di depannya masih ada pak kyai.


Pak kyai hanya menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Bram saat itu.


"Pi, bisakah papi lebih memikirkan perasaan Malik..??", ucap bu Maryam mencoba mendekati Anaknya.


Tapi Dokter Malik tiba tiba bangkit dari duduknya dan berlari menjauh dari halaman pesantren, ia tak kuasa dengan apa yang ia dengar.


Bu Maryam tak kuasa melihat anaknya seperti itu, ia kemudian pamit dari hadapan pak kyai dan mengejar Malik.


Bram pun melangkah meninggalkan musholah menuju mobilnya, tetapi dengan perasaan senang.


"Keberuntungan memang selalu memihak padaku", ucap Bram memacu mobilnya mengejar anak dan istrinya.

__ADS_1


Ia tak perlu repot repot memikirkan cara menyingkirkan Mawar.


Mawar sudah pergi jauh dari keluarganya dengan sendirinya.


__ADS_2