
Pagi itu, nampak seorang lelaki berusia 40 an sedang duduk santai di serambi rumah sembari menikmati secangkir kopi.
Ia nampak sesekali memandang ke arah jalanan.
Seakan ada seseorang yang sedang ia tunggu.
"Maaf bos !", sebuah suara melengking tiba tiba terdengar dari arah jalanan.
Lelaki itu segera bangkit dari duduk nya dengan senyum mengembang.
Dari arah pagar rumah, seorang anak lelaki bergegas mengerem sepeda nya dan berlari tunggang langgang memasuki halaman rumah dan berhenti tepat di hadapan lelaki itu.
"Kamu terlambat !", ucap lelaki itu berkacak pinggang dan mencoba menyembunyikan senyum nya.
"Yah !, hangus bonus ku ", keluh anak lelaki itu masih mencoba mengatur nafas nya yang masih ngos ngosan.
"Siapa suruh !, waktu membaca koran ku jadi terpotong, 1 jam lagi aku harus berangkat dinas, bagaimana ini ?", seru lelaki itu mencoba berakting membuat ekspresi marah di hadapan anak lelaki itu.
"Dokter Malik yang tampan !, ini masih pukul 6 pagi", ketus nya masih ngos ngosan.
"Itu jam siang bagi ku", timpal lelaki itu yang ternyata ialah dokter Malik.
Lelaki yang pernah ada di hati Mawar.
Lelaki yang kini semakin terlihat berwibawa, tampan, di usia nya yang menginjak kepala empat.
"Ya sudah !, ku ganti bonus mu dengan roti isi ini, sudah jangan ganggu waktu santai ku", seru dokter Malik menyodorkan sebuah roti isi ke tangan anak lelaki itu dan segera menyerobot selembar koran dari tangan anak lelaki itu.
"Bos, bos", keluh nya sembari berjalan agak lesu menuju sepeda nya.
Karna merasa lapar, ia menggigit roti itu sembari mengayuh pedal nya.
"Alot !, roti isi orang kaya kok alot ya", seru anak lelaki itu mengerem kembali sepeda nya dan mengecek roti isi nya.
Senyum nya merekah saat melihat selembar uang bernominal lima puluh ribu rupiah terselip sebagai salah satu isian dari roti isi itu.
__ADS_1
"Terima kasih bos !, dokter memang yang terbaik !", teriak nya girang membuat dokter Malik tertawa di buat nya.
"Senyum mereka memang vitamin terbaik di pagi hari", ucap nya mulai membaca koran pagi nya.
Tak berselang lama, sebuah mobil berwarna hitam memasuki halaman rumah nya.
Dokter Malik yang mengenal betul siapa tamu nya segera menutup kembali koran nya dan bergegas menyambut nya.
"Assalammualaikum dokter !", seru seorang lelaki keluar dari mobil.
"Walaikumsalam, sudah dari kemarin aku menunggu mu Thoriq", sahut dokter Malik mengajak nya duduk di kursi teras dan menawari nya secangkir kopi hangat.
"Wah !, ini nih !, aku selalu suka melihat ekspresi dokter saat aku datang, entah karna senang bertemu aku atau senang dengan laporan yang aku bawa !", seru Thoriq tertawa lepas.
"Kamu bisa aja, ya kedua nya lah", timpal dokter Malik memukul lengan sahabat karib nya itu.
"Saya jamin !, dokter akan senang dengan kabar yang aku bawa kali ini", seru Thoriq menyeruput secangkir kopi di depan nya.
"Memang ada kabar apa dari mereka ?, apa anak nya juara kelas lagi ?, atau salah satu anak nya telah berhasil jadi hafizah ?", tanya dokter Malik tak sabar mendengar kabar itu.
"Eits !, sabar dong dokter, buru buru amat", ucap Thoriq meledek.
"Bunga mu telah kembali ke Indonesia bersama kedua anak nya", ucap Thoriq membuat dokter Malik terkejut hingga tak bisa berkata apa apa.
"Bahkan mereka kini menempati tanah peninggalan almarhumah mami nya, pasti kamu lebih tau kan itu di mana ?", seru nya membuat senyum dokter Malik mengembang.
"Mawar kembali !", seru dokter Malik menepuk kedua pipi nya.
"Apa aku pernah memberi kabar bohong pada mu ?", seru Thoriq lagi.
Sontak dokter Malik memeluk sahabat nya itu sembari meneteskan air mata.
"Ku kira aku tak akan bisa melihat nya lagi", seru nya dengan nada gemetar.
Thoriq tersenyum ikut berbahagia dengan kebahagiaan sahabat nya itu.
__ADS_1
Sudah bertahun tahun dokter Malik harus menderita dalam hidup nya, terlebih setelah kematian bu Maryam, ibu kandung dari dokter Malik.
"Kau seperti anak remaja saja Malik !", gumam Thoriq menepuk nepuk punggung dokter Malik dengan cukup kencang.
"Terima kasih, hari ini sungguh sebuah hari yang paling membahagiakan untuk ku", seru dokter Malik melepaskan pelukan nya.
"Jadi apa rencana mu kali ini ?", tanya Thoriq membuat senyuman dokter Malik meredup.
Melihat ekspresi dokter Malik, Thoriq segera berdecak kesal.
"Sudah ku duga, kau selalu suka bermain di belakang layar", keluh Thoriq bersandar di kursi serambi sembari menyalakan rokok nya.
"Lalu, aku harus apa ?, aku hanya bisa memantau nya dari jauh", ucap dokter Malik mengenang wajah wanita yang selalu tak bisa ia lupakan.
"Kenapa kau tak temui dia dan mencoba menjalin hubungan lagi dengan nya ?, kau masih sendiri begitupun dia", usul Thoriq.
"Berbicara memang mudah, tapi aku tahu betul bagaimana Mawar, ia pasti masih setia dengan almarhum suami nya Burhan, sungguh beruntung Burhan, bahkan sampai ia sudah meninggal pun, masih ada yang mencintai nya", ucap dokter Malik menatap jalanan yang mulai ramai.
"Setidak nya kau sapa dia, biar hati mu juga lega, ia kembali kesini itu berarti hati nya juga sudah tenang dan mengikhlaskan yang telah lalu", ucap Thoriq menasehati.
"Tapi, bagaimana jika ia merasa risih dengan kehadiran ku ?", ucap dokter Malik mengutarakan ketakutan nya.
"Kamu sendiri yang bilang, Mawar itu gadis paling sempurna yang kamu kenal, baik akhlak maupun sifat nya, jadi apakah itu masih belum cukup menjadi bukti bahwa ia akan menyambut mu dengan baik sebagai kawan lama nanti nya saat kalian bertemu lagi ?", seru Thoriq membuat pikiran dokter Malik terbuka.
"Kamu kira begitu ?", tanya dokter Malik mulai percaya dengan ucapan Thoriq.
"Dalam semua agama, tali persahabatan itu penting, terlebih bagi Mawar yang sangat religius", ucap Thoriq membuat senyum dokter Malik kembali muncul.
"Thanks, kamu memang yang terbaik", seru dokter Malik bergegas memasuki rumah.
"Eh !, kamu mau kemana ?, jangan bilang kamu mau absen hari ini ?, aku sudah siap berangkat ke rumah sakit", seru Thoriq menghentikan langkah kaki dokter Malik.
"Aku mau temui Mawar, kamu berangkat lah, oh ya, izinkan aku ya, bilang aku ada urusan di luar kota, dan handel semua pasien ku", seru dokter Malik kembali bergegas menuju kamar dan berdandan serapi mungkin.
"Lagi lagi aku, bisa apa kamu tanpa ku Malik !", keluh Thoriq sembari tersenyum melihat tingkah sahabat nya.
__ADS_1
Thoriq pun melajukan mobil nya menuju ke rumah sakit tempat nya bekerja sesuai agenda nya hari itu.
"Akhirnya aku bisa bertemu dengan mu Mawar, sudah lama aku hanya bisa memantau keadaan mu dari jauh, andai saja mami masih ada, pasti dia akan lebih senang dari ku saat ini", ucap dokter Malik mengambil kunci mobil dan bergegas melajukan mobil nya menuju ke alamat yang Thoriq maksud.