Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Partner


__ADS_3

"Udah.....??, lamaa.!!!!", seru Rahel mematikan rokoknya yang ketiga kalinya.


"Santai dong, aku kan lagi dandan, kan kamu juga yang seneng liatnya", ucap Jeri masih sibuk merapikan kemejanya di depan cermin.


"Yuk ahh, keburu malem nih, aku sampai gak kerumah orangtuaku gara gara kamu...!!, aku cuma pamit keluar ke rumah mami tadi", seru Rahel berjalan keluar rumah Jeri.


"Seorang Rahel takut juga ya sama mertua", ucap Jeri meledek Rahel.


Rahel menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Jeri.


"Berisik...!!!", seru Rahel.


Jeri malah tersenyum dan mengecup bibir ranum Rahel.


"Tapi kamu puas kan hari ini..??", ucap Jeri membuat Rahel clingukan.


Rahel melanjutkan langkahnya tanpa menjawab celoteh Jeri.


"Kamu yang nyetir..!!", teriak Rahel masuk ke mobilnya.


"Siap..!!, tuan putri", ucap Jeri duduk di kursi kemudi.


___


Beberapa jam kemudian.


Rahel makin kehilangan kesabarannya.


"Kamu sebenarnya beneran tau gak sih..??", seru Rahel yang jenuh karna sudah berjam jam berada di mobil.


"Sabar..,bentar lagi nyampek kok, pak Bram juga bukan orang bego Hel, ia gak bakal cari tempat bordil abal abal dan pastinya gak dekat dari rumahnya", ucap Jeri fokus ke arah depan.


"Emmmm", ucap Rahel singkat.


"Oh ya, ngomong ngomong, anak kita..??", tanya Jeri penasaran.

__ADS_1


"Anak mana...??, gak tau..!!", seru Rahel.


"Aku kan juga pengen tau hel", ucap Jeri.


"Aku tinggalin dia dijalanan", ketus Rahel.


"Sadis amat", ucap Jeri.


"Apa...!!!, gak salah denger nih..!!, kalau waktu itu aku lahiran sama kamu, pasti udah kamu cekik bayi itu buat beresin semuanya", ucap Rahel melotot.


"Jahat banget aku ya dimata kamu", seru Jeri.


"Duhh...!!, emang kamu rasa kamu tuh alim, bertanggung jawab dan panutan baik gitu", ucap Rahel sambil tertawa.


Jeri hanya menggaruk kepalanya mendapat ejekan dari Rahel tentang dirinya.


Mobil mereka pun berhenti di tepi jalan Raya.


"Ini tempatnya..??", seru Rahel.


Mereka pun turun dan melewati gerbang rumah bordil.


Gea terlihat keluar dari rumahnya dengan berkacak pinggang menyambut Rahel dan Jeri.


"Cari siapa...??", ucap Gea mendekati Rahel dan Jeri.


"Aku cari kamu", ucap Rahel mengulurkan tangannya tapi hanya di tatap tak di gubris oleh Gea.


"Ada perlu apa...??", ucap Gea duduk di kursi teras sambil menyalakan rokoknya.


"Aku menantu Bram", ucap Rahel duduk di depan Gea.


Gea terdiam sejenak.


"Kamu disuruh Bram..??", ucap Gea.

__ADS_1


"Aku kesini mau ajak kamu kerjasama", ucap Rahel berhasil menarik perhatian Gea.


"Maksudnya..??", tanya Gea.


"Kamu tau kan, Malik suamiku ternyata bukan anak kandung Bram", ucap Rahel mengejutkan Jeri.


"Lalu...??", tanya Gea.


"Ya otomatis harta Bram akan jatuh ke anak kandungnya", ucap Rahel.


Gea tersenyum mendengar penjelasan Rahel.


"Kamu takut kehilangan hartanya", seru Gea terus tertawa.


"Kamu mau jadi partnerku..??", tanya Rahel.


"Apa imbalanku..??", seru Gea.


"Terserah apa maumu, yang penting jangan ungkap siapa anak kandung Bram sebenarnya, dan bantu aku membuat hidup anak kandungnya gak tentram ditempat tinggalnya sekarang, biar dia pindah sekalian entah kemana, okey..??", ucap Rahel membuat kesepakatan.


"Okeyy", ucap Gea melihat peluang keuntungannya yang besar baik dari Bram maupun dari Rahel.


"Trus, kamu mau kan kasih tau aku siapa anak kandung Bram..??", tanya Rahel.


"Itu gampang, minggu depan aku calling kamu", ucap Gea menyembulkan asap rokoknya ke udara.


"Thanks, kalau gitu aku pergi dulu, senang kerja sama denganmu", ucap Rahel menggandeng Jeri pergi dari hadapan Gea.


Mobil Rahel pun berlalu pergi menjauh dari rumah Bordil Gea.


Hari itu rencana besar telah disusun oleh Rahel bersama Gea.


Ketentraman Mawar pun kembali terancam.


Hanya demi harta mereka melakukan segala cara untuk mensabotase semuanya agar berjalan sesuai keinginan mereka.

__ADS_1


__ADS_2