Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Kemunculan Rea kembali.


__ADS_3

"Tante!," sapa salah satu anak asuh Fatimah kepada seorang wanita berkerudung yang tengah melintas di tepian jalan depan rumah mereka.


Wanita itu seketika terhenti dengan sisi kerudung yang terus menutupi sebagian raut wajah nya, hingga hanya terlihat kedua mata nya saja saat itu.


"A- ada apa?," tanya wanita itu tiba tiba berubah menjadi gugup tanpa sebab.


"Ini untuk tante," sahut anak lelaki itu sembari menyodorkan sekotak makanan ke arah wanita itu.


"Tidak, terima kasih," ucap wanita itu sembari pandangan nya yang tak berpaling memandang ke arah sekeliling rumah besar serta ke arah Fatimah yang juga tengah sibuk membagikan makanan kepada yang lain.


Ada yang aneh dengan rumah ini, batin wanita itu sembari semakin menutup rapat sebagian wajah nya.


"Tak apa tante, ini sedekah kami karna acara kami hari ini telah berjalan dengan lancar," ucap anak lelaki itu membuat wanita di hadapan nya semakin merasa penasaran.


"Acara?, dan kalian ini siapa?," tanya wanita itu sembari mengamati sekeliling rumah besar lebih cermat lagi.


Nampak banyak hal baru yang ia lihat saat itu.


Yang dulu nya rumah di hadapan nya di penuhi dengan para gadis berpakaian seksi, kini yang terlihat adalah banyak anak kecil berkerudung dan berkopiah yang terlihat di sana.

__ADS_1


Semua yang ia lihat dari rumah itu begitu jauh berbeda di bandingkan suasana beberapa minggu yang lalu.


Siapa mereka?, batin wanita itu bahkan sampai mengulang pertanyaan nya sendiri dalam batin nya.


"Kami?, kami anak anak asuh kak Fatimah dan kak Ummar!, apakah tante belum tahu?," seru anak lelaki itu dengan bangga nya.


Tanpa sadar, karna begitu terkejut nya mendengar ucapan anak lelaki itu, ia sampai tak sadar telah melepas pegangan nya dari penutup wajah nya itu.


"Anak asuh?, kak Ummar?, apa maksud nya?," tanya wanita itu yang tak lain adalah Rea yang tengah menyamar.


"Ku perkenalkan ya tante, ini adalah rumah singgah Ummar, tempat tinggal kami. Ya mungkin karna rumah singgah kami ini masih berdiri beberapa minggu yang lalu jadi nya tante belum mengetahui nya," seru anak lelaki itu begitu bangga nya memperkenalkan rumah kebanggaan nya kepada Rea.


Nasi yang terkadang hanya mereka dapatkan sekali sehari dari hasil keringat mereka mengemis dan memulung, kini mereka bisa merasakan makan tiga kali sehari tanpa kekurangan apapun, bahkan yang dulu nya mereka di anggap kotor dan tak berharga di pinggir jalan, kini banyak yang sayang dan menginginkan mereka.


"Rumah singgah Ummar?, lelucon apa ini!, siapa itu Ummar?, apa rumah ini telah di jual?," seru Rea sedikit membuat anak lelaki itu berubah ketakutan.


"I- itu kak Ummar, suami kakak kami," ucap anak lelaki itu sembari menunjuk ke arah Bos besar yang duduk dengan tenang di kursi roda nya tepat di samping Fatimah, lalu anak lelaki itu pun langsung bergegas pergi dari hadapan Rea yang semakin menunjukkan muka yang tak bersahabat nya itu.


"Apa aku tak salah dengar?," keluh Rea sembari mengepal kedua tangan nya.

__ADS_1


Ia begitu kesal saat mendengar kenyataan itu.


Hanya karna seorang wanita bernama Fatimah nama dan identitas mu pun di rubah sesuka hati nya. Bahkan rumah kebanggaan mu kini telah hancur dan berubah menjadi sampah tak berguna seperti ini, menyedihkan!, sungguh menyedihkan!, batin Rea dengan cepat kembali menutupi wajah nya dengan sehelai kerudung yang ia gunakan sesaat sebelum Fatimah hendak menoleh ke arah nya.


"Dia tak boleh mengenali ku," ucap lirih Rea saat melihat Fatimah mulai berjalan mendekati nya sembari mendorong kursi roda suami nya untuk ikut kemana ia akan pergi.


"Mbak, ini untuk mbak, semoga barokah untuk mbak dan juga untuk kami," ucap Fatimah sembari memberikan sekotak makanan ke arah Rea.


Dengan sebuah anggukan, Rea menerima makanan itu dari tangan Fatimah.


Saat Bos besar tak sengaja melihat tato di pergelangan tangan Rea.


Raut wajah Bos besar seketika itu juga berubah menjadi gelisah bercampur ketakutan.


"Kenapa mas?, apa kau kepanasan?," tanya Fatimah begitu merasa heran dengan perubahan sikap Bos besar dari tenang menjadi begitu gelisah seperti saat itu.


Rea!, dia Rea Fatimah!, jangan dekati dia!, usir dia dari sini sebelum mengusik ketenangan kita dan anak anak yang lain!, batin Bos besar begitu nampak gelisah di kursi roda nya.


Mulut nya begitu terasa sulit hanya untuk menyampaikan sepatah kata yang begitu ingin ia ucapkan.

__ADS_1


Melihat reaksi Bos besar, Rea segera memohon pamit kepada Fatimah dan segera pergi dari sana sebelum Fatimah juga ikut menyadari siapa yang sedang berada di hadapan nya saat itu.


__ADS_2