
"Kamu sudah lebih baik..??", ucap Burhan memegang tangan Mawar.
Mawar hanya mengangguk dan melepas tangannya dari pegangan Burhan.
"Maaf, aku lancang", seru Burhan.
"Fatimah sudah tidur ....??", ucap Mawar melihat Fatimah yang sangat tenang di gendongan Burhan.
"Fatimah sudah tidur sejak tadi Mawar, apa aku harus meletakkannya di kamar...??", ucap Burhan.
"Biar aku saja", ucap Mawar hendak mengambil Fatimah dari tangan Burhan, tetapi tiba tiba mereka dikejutkan dengan suara Bik Mus.
"Buk...!!,, buk..!!", seru bik Mus berlari menuju ke arah Mawar.
"Astagfirullah, kenapa bik...??", ucap Mawar menenangkan bik Mus yang terlihat sangat gelisah.
"Mami...!!", seru bik Mus sambil menunjuk ke arah kamar Geyna.
"Mami kenapa bik...??", seru Mawar kaget.
"Mami pingsan buk..!!", ucap bik Mus sambil terlihat ngos ngosan.
"Ya Allah...!!", seru Mawar segera berlari menuju ke kamar Geyna.
"Bik tolong tidurkan Fatimah dikamarnya ya, saya mau menyusul Mawar", ucap Burhan menyerahkan Fatimah ke gendongan bik Mus dan segera berlari mengikuti Mawar.
Mawar masuk ke kamar dan mendapati mbak Lastri masih mencoba menyadarkan Geyna.
"Ibukkk...!!, Mami kenapa..??", seru Mawar memeluk tubuh Geyna yang lemas tak sadarkan diri.
"Ibuk juga gak tau Mawar, tadi mami mu melihat pertengkaran kalian dari jendela, seketika mami histeris dan pingsan", ucap Mbak Lastri menjelaskan.
"Gimana mami mu Mawar..??", seru Burhan masuk ke dalam kamar Geyna.
"Mas.., tolong bawa mami ku kerumah sakit..!!", seru Mawar sangat khawatir dengan kondisi Geyna.
Burhan hanya menggangguk dan dengan sigap menggendong tubuh Geyna yang tak berdaya menuju mobil.
Mereka pun bergegas ke rumah sakit terdekat.
Mawar tak henti hentinya mondar mandir di depan ruang ugd, menunggu dokter selesai memeriksa kondisi Geyna.
"Ya Allah, selamatkan mami", seru Mawar khawatir karna Geyna masih dalam masa pemulihan paska operasi.
Tak berapa lama dokter keluar dari ruangan ugd.
"Dok, bagaimana mami saya...??", seru Mawar menghampiri dokter.
"Tenang mbak, dia tidak apa apa, dia cuma syok, sebentar lagi mbak bisa menemuinya di ruang rawat dan hari ini juga kemungkinan bisa langsung pulang, kita tunggu sampai kondisinya pulih dulu, kalau begitu saya permisi", ucap Dokter meninggalkan Mawar yang terlihat sedikit lega mendengar penjelasan dari dokter.
Selang beberapa saat, Geyna telah dipindahkan ke ruang rawat untuk sementara.
__ADS_1
Sesuai penjelasan dokter, setelah kondisinya pulih, hari ini juga ia bisa pulang ke rumah.
"Mi...", seru Mawar memasuki ruangan Geyna bersamaan dengan mbak Lastri dan Burhan.
"Mawar...!!, nak...!!", seru Geyna kembali histeris melihat kedatangan Mawar.
"Astagfirullah mi, istigfar mi, mami sebenarnya kenapa..??", ucap Mawar duduk di samping Geyna.
"Mawar jangan pernah terima Malik ya..!!", ucap Geyna memegang kedua tangan Mawar.
Semua yang ada di ruangan itu pun tercengang.
Mereka tak mengerti apa maksud dari ucapan Geyna.
"Apa hubungannya dengan dokter Malik mi..??", ucap Mawar keheranan.
"Pokoknya kamu gak boleh hubungan lagi sama dia, buang jauh jauh cinta kamu kalau memang Malik ada di hati kamu..!!, jangan pernah berfikir untuk dekat dengannya..!!", seru Geyna yang membuat Mawar makin terkejut.
"Mi, tenang mi, sebenarnya ini ada apa..??", seru Mawar meneteskan air mata, ia memang telah menolak dokter Malik, tapi hatinya masih ada rasa dengannya, itu yang masih Mawar usahakan saat ini, melupakan dokter Malik di hidupnya maupun di hatinya.
Geyna pun terdiam dan menangis sejadi jadinya, ia memeluk dengan erat anak gadis satu satunya itu.
"Maafin mami Mawar, mami hanya menjadi bencana di hidupmu, darah mami membawa kesialan di kehidupanmu, bahkan kali ini percintaanmu pun harus kandas gara gara mami", seru Geyna histeris.
Mawar memandang ke arah mbak Lastri yang juga tak tau apa yang terjadi dan maksud dari semua ini.
Mbak Lastri hanya menggeleng membalas tatapan dari Mawar.
"Mi, cerita sama Mawar, kenapa Mawar harus jauh dari dokter Malik..??", ucap Mawar butuh penjelasan dari Geyna.
"Tapi kamu harus janji ya, jauhi Malik, lupakan dia", ucap Geyna terus mengulangi perkataannya.
"Mami gak usah khawatir, Mawar dan dokter Malik sudah tidak ada hubungan apa apa, dan Mawar juga sudah menerima Mas Burhan langsung di depan dokter Malik", ucap Mawar memandang ke arah Burhan.
Geyna pun menarik nafasnya dalam dalam, dan mencoba memberitahukan rahasia di hidupnya selama ini, kenyataan dari jati diri Mawar yang sebenarnya.
"Kamu pasti kenal Pak Bram kan...??", ucap Geyna menatap mata putrinya.
"Papi nya dokter Malik..??", ucap Mawar semakin penasaran dengan arah pembicaraan mereka yang kian meluas.
"Dia...??", ucap Geyna memejamkan matanya dan menahan tangisnya.
"Mi...??", ucap Mawar memegang bahu Geyna.
"Dia...., ayahmu Mawar...!!", seru Geyna membuat syok seisi ruangan.
"Astagfirullah..!!", seru Mbak Lastri menahan tangisnya dan menahan tubuhnya agar tetap kuar berdiri.
Burhan pun terlihat tak percaya akan apa yang ia dengar.
Terlebih Mawar,
__ADS_1
Ia sangat syok mendengar pengakuan dari Geyna.
Ia mencoba menahan tangisnya dan rasa sakit hatinya yang bertambah dan makin bertambah selama hidupnya.
Mawar seakan sangat terpukul akan semua itu.
Ia memikirkan, bagaimana jika ia tetap mempertahankan cintanya pada dokter Malik, dan terlambat mengetahui fakta ini..??.
Ia akan sangat berdosa menikahi saudaranya sendiri.
"Astagfirullah..", ucap Mawar lirih menangis sembari mencoba keluar dari ruangan Geyna dengan sempoyongan.
"Mawar ..!!", ucap Burhan mencoba menopang tubuh Mawar yang hampir roboh.
"Tolong, aku mau sendiri", seru Mawar berlari keluar dari ruangan Geyna.
Mbak Lastri pun keluar dari ruangan itu tanpa sepatah kata pun, meninggalkan Geyna yang tersedi sedu di atas ranjang.
"Maafin mami Mawar...", ucap Geyna lirih di tangah tengah tangisannya.
Sementara Mawar, menhentikan langkah kakinya di taman rumah sakit.
Ia menangis sejadi jadinya, tanpa memperdulikan tatapan orang orang disekelilingnya.
"Dokter Malik adikku..!!", ucap Mawar seakan tak percaya dengan semua itu.
Bagaimana bisa aku mencintai saudaraku sendiri, sehina itukah sebenarnya diriku ini..??, gumam Mawar dalam hati.
Mawar menangis meluapkan semua isi hati dan rasa kekecewaannya pada takdir yang harus ia jalani.
Setelah beberapa saat, Mawar lebih tenang dari sebelumnya, meskipun ia terlihat masih termenung di tempatnya.
Burhan dan Mbak Lastri mencoba mendekatinya.
"Mawar..., jangan salahkan dirimu, ini sudah garis tangan dari Allah", ucap Mbak Lastri menenangkan Mawar.
"Kita serahkan semuanya pada Allah ya Mawar, terkadang kebenaran itu memang pahit, tapi lebih baik seperti itu dari pada kamu terlambat mengetahuinya", ucap Burhan mencoba membujuk Mawar untuk melupakan semuanya.
Mawar menatap Burhan dan ibunya.
Ia memegang tangan mereka dan meletakkannya di atas kepala Mawar.
"Buk..., mas..., Mawar minta tolong, berjanjilah demi Mawar, biarkan kebenaran ini menjadi rahasia kita, jangan sampai bu Maryam mengetahuinya, Mawar tak sanggup jika ia juga tersakiti karna kenyataan pahit ini", ucap Mawar menghapus air matanya.
Burhan tercengang sekaligus kagum dengan gadis di hadapannya itu, ia masih bisa memikirkan kebahagiaan orang lain sementara dirinya pun masih dalam kondisi terluka dan hancur.
Mbak Lastri hanya menganguk dan memeluk erat anak gadisnya itu.
Ia sangat bangga akan hati Mawar yang sangat baik.
Bahkan ia tak melihat kemalangan dihidupnya sendiri, hanya kebaikan untuk orang lain lah yang ia pikirkan.
__ADS_1