Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Gamis pernikahan.


__ADS_3

"Kamu yakin mau pakai ini saat pernikahan nanti?," tanya Rea meledek gamis panjang milik Fatimah.


"Ini baju terbaik dari pada gaun pernikahan manapun di dunia," sahut Fatimah membuat Rea semakin jeles pada Fatimah.


"Terserah!," seru Rea memilih keluar dari kamar Fatimah dan tak sengaja ia berpapasan dengan Bos besar di depan pintu.


"Mau kemana kamu!," seru Bos besar menghadang jalan Rea.


"Gak kok bos, nih mau masuk lagi," ucap Rea mengurungkan niat nya untuk pergi dari kamar Fatimah.


Saat melihat Fatimah duduk di depan meja rias, pandangan Bos besar langsung menatap tajam ke arah Rea.


Membuat Rea langsung kebingungan.


"Ke, kenapa bos lihat aku kayak gitu?, emm akhir nya bos menyadari kecantikan ku ya!," seru Rea berpose seksi di hadapan Bos besar.


"Astaghfirullah," ucap lirih Fatimah spontan, ia merasa malu dengan sikap yang di tunjukkan Rea di hadapan seorang lelaki.


"Cantik jidat mu!," sentak Bos besar membuat Rea dan Fatimah terkejut.


"Ya maaf bos, lagian bos lihatin aku gitu banget," sahut Rea cemberut.


"Aku cuma gak habis pikir dengan mu, kamu lihat kan muka nya aja cuma kelihatan mata nya doang, trus masih aja kamu biarin pakek baju jelek itu?, trus apa yang bisa di lihat dari dia Rea!," seru Bos besar sembari berniat meledek cadar Fatimah yang berhasil membuat make up nya sebagai pengantin tak terlihat sama sekali.


"Aku hanya akan menikah dengan cadar yang melekat di wajah ku ini, baik kamu suka ataupun tidak," ucap Fatimah membuat Rea tercengang dengan keberanian wanita itu.


"Berceloteh lah sesuka mu," ucap Bos besar melempar sebuah gamis merah jambu ke arah Fatimah.


"Apa ini?," seru Fatimah merasa ragu untuk menerima nya.


"Anggap saja itu hadiah pernikahan kita dari ku," ucap Bos besar membuat Rea ternganga di buat nya.


Terlebih bagi Fatimah pribadi, ucapan dari Bos besar membuat nya bimbang dan tak bisa membaca sifat dan karakter sebenar nya dari sosok sang Bos besar.


Sihir apa yang wanita itu gunakan, batin Rea terheran heran dengan sikap manis Bos besar terhadap Fatimah.


"Katakan pada ku, make up nya sudah beres kan?, tanya Bos besar.

__ADS_1


"Dia berias sendiri bos, bahkan di depan ku saja ia tak mau membuka cadar nya itu" keluh Rea.


"Ya sudah, terserah dia mau berbuat apa, kamu bantu rias jilbab nya saja, aku tunggu di luar," seru Bos besar bergegas pergi.


Sementara Rea masih terdiam menatap heran tingkah Bos nya saat itu.


Ia tak biasa nya bersikap manis seperti itu.


Terlebih pada gadis seperti Fatimah, batin Rea.


Bahkan bos memberi nya sebuah hadiah, apa aku mimpi!, batin Rea mencoba menatap Fatimah yang masih meraba gamis pemberian Bos besar.


 


"Bos. Bos yakin mau nikah sama si Fatimah itu?," tanya Aqly heran dengan keputusan mendadak dari sang bos.


"Memang kenapa Aqly?, ku beri tahu kamu satu hal, jika kita menginginkan sesuatu jangan pernah berusaha setengah setengah ," bisik Bos besar membuat Aqly bingung sembari mengeryitkan kening nya.


Ruang tamu rumah bordil hari itu di sulap menjadi sedikit berwarna.


Banyak rangkaian balon dan kertas berwarna warni menghias ruangan itu.


"Selera kamu rendah banget ya Lel," keluh Mira menatap dekorasi pernikahan yang amburadul seakan telah terkena angin kencang saja.


"Berisik!, aku mah gak pernah nikah, jadi ya gak tau cara nya nge dekor tuh kayak apa!," sentak Leli langsung mendapat tatapan tajam dari Bos besar.


Tatapan Bos besar seketika berhasil melerai pertengkaran Mira dan Leli saat itu.


Sementara sang penghulu masih bergetar ketakutan di tempat duduk nya.


Masyaallah, kenapa bisa aku sampai ke tempat beginian, kalau bini tau gimana ini!, batin sang penghulu berulang ulang kali membenarkan peci nya.


"I, ini saya mau di apa in di bawa ke sini?," ucap sang penghulu menatap sekeliling nya yang penuh dengan wanita wanita berpakaian supermini.


Masyaallah!, kekurangan kain apa ya mereka semua?, batin sang penghulu penuh akan tanda tanya.


"Bapak penghulu kan?," seru Bos besar membuat sang penghulu mencoba berusaha keras hanya untuk menelan ludah nya.

__ADS_1


"Be, be, benar!," sahut sang penghulu terbata bata.


"Pasti para body guard saya membawa bapak kesini dengan kasar ya?, sehingga pak penghulu sampai gemetar ketakutan seperti itu?," tanya Bos besar membuat sang penghulu sedikit melirik ke arah para body guard.


"Apa!," gertak seorang body guard membuat sang penghulu semakin ketakutan.


"Gak kok pak, mereka baik," sahut sang penghulu sembari mengelap keringat di kening nya.


"Syukurlah. Alasan bapak saya undang kemari yaitu untuk menjadi penghulu di pernikahan saya," seru Bos besar mengutarakan niat nya.


"Tapi...," ucap sang penghulu segera mendapat tatapan tajam dari Bos besar.


"Tapi...?," seru Bos besar.


"Tak apa, saya bersedia kok, di mana mempelai perempuan nya," seru penghulu itu mencoba bersikap se profesional mungkin agar bisa menyelamatkan nyawa nya sendiri dan bisa keluar dari tempat itu dengan selamat.


"Benar juga, siapa pun!, cepat panggil Fatimah!," seru Bos besar membuat Mira bergegas menuju ke kamar Fatimah.


Namun di tengah perjalanan, langkah Mira seketika terhenti dengan mulut yang menganga saat melihat Fatimah sudah ada di hadapan nya.


"Fatimah?," seru Mira merasa takjub dengan penampilan Fatimah saat itu.


"Is!, minggir!, minggir!," ketus Rea mencoba bergegas menuju ke ruangan ijab kobul.


"Kamu Mira kan?, bisa antar aku ke sana?," tanya Fatimah berhasil menyadarkan keterkejutan Mira menatap nya.


"Kamu cantik sekali Fatimah!," seru Mira mengelilingi Fatimah dengan tatapan takjub.


"Sudahlah Mira, acara akan segera di mulai," ucap Fatimah lagi.


"Tapi tunggu!, kenapa kamu begitu tenang seperti ini?, padahal bisa saja Bos besar punya rencana lain di balik ini semua," seru Mira mengingatkan.


"Semua sudah ku serahkan kepada Allah, biar dia yang mengatur semua nya, jika pernikahan ini tak baik bagi ku, Allah sendiri yang akan mencegah pernikahan ini terjadi," ucap Fatimah.


"Jika Allah tahu ini salah, dan tetap membiarkan mu menikah lalu bagaimana?," tanya Mira semakin heran dengan keputusan Fatimah.


"Berarti Allah sedang mengujiku dan mungkin Allah akan menaikkan harkat martabat ku di masa depan jika aku berhasil melalui nya," ucap Fatimah membuat Mira kembali terkagum kagum dengan sosok wanita sholehah di hadapan nya.

__ADS_1


Dia benar!, mungkin juga hidup di rumah ini adalah sebuah ujian hidup untuk ku, dan suatu saat aku juga akan hidup bahagia dan tenang seperti impian ku, batin Mira penuh harap.


"Mari Fatimah, aku antar kamu ke tempat ijab kobul mu," ucap Mira mengiringi setiap langkah Fatimah menuju ke tempat ijab kobul.


__ADS_2