
Mawar memegangi kepalanya yang kian terasa berat, kesadarannya kini mulai kembali.
Pandangannya tengah berkeliling di kamar itu.
Dan betapa terkejutnya ia melihat jilbabnya telah terlepas dari dirinya dan kini ia hanya memakai sebuah gaun mini yang menurutnya sangat tak pantas untuk seorang wanita muslim.
Astagfirullah..!!, mbak Gea...!!", seru Mawar dalam hati mencoba melepas ikatan tangannya dan lakban yang menutupi mulutnya.
Mawar berusaha berjalan ke arah pintu kamar, sekuat tenaga ia mendobrak dobrak pintu itu agar terbuka.
Tapi saat terbuka dari luar, betapa terkejutnya Mawar melihat seorang lelaki yang tak ia kenal berdiri di hadapannya dengan tatapan yang menakutkan.
Mawar mencoba membalikkan badannya, menyembunyikan tonjolan aurot yang seharusnya ia buka hanya untuk suaminya.
Lelaki itu mengitari tubuh Mawar dan memandanginya dengan penuh syahwat.
Sesekali ia memegang rambut Mawar dan menciuminya.
"Emmm, rambutmu harum sekali, bagaimana dengan yang lainnya..!!", seru Jeri membuat Mawar amat sangat ketakutan.
Ya Allah lindungilah kehormatanku sebagai wanita dihadapan lelaki yang bukan muhrimku, ucap Mawar dalam hati.
"Jer...!!, udah siuman dia...!!, bawa kesini cepet...!!", seru Rahel dari kejauhan.
"Ganggu aja sih..!!", seru Jeri membawa Mawar berjalan menuju Rahel dan Gea.
"Iket dia dikursi..!!", seru Rahel memberi perintah ke Jeri.
Mawar mencoba memberontak dan ingin berlari dari dekapan Jeri tetapi tenaganya kalah kuat dibandingkan Jeri.
Kini Mawar tak berdaya terikat di kursi, menunggu nasib yang akan menimpa dirinya.
"Susan...!!", seru Rahel memanggil Susan untuk keluar dari persembunyiannya.
Susan keluar dengan menggendong Fatimah yang tengah tertidur pulas, Mawar yang melihat Fatimah berusaha memberontak lagi dan mencoba mendekati anaknya itu.
"Tenang dulu Mawar, jika kamu bisa tenang, baru kita negosiasi, okey..!!", ucap Rahel berkacak pinggang dihadapan Mawar.
Mawar pun tak ada pilihan lain, ia hanya mengangguk tanda setuju dengan permainan yang di jalankan oleh Rahel.
"Bagus..!!", seru Rahel membuka lakban di bibir Mawar.
"Apa yang kalian mau sebenarnya..??", seru Mawar meminta penjelasan.
Rahel dan Gea pun tertawa, mereka seakan mempermainkan ketidak berdayaan Mawar kali ini.
"Aku cuma mau kamu pergi jauh dari hidup aku, keluar negri kalau perlu", ucap Rahel.
"Aku sudah tidak ada hubungan lagi dengan dokter Malik, kenapa kamu masih mengusikku..??", ucap Mawar heran.
"Kamu itu cuma jadi sumber masalah bagiku, Kamu pikir aku mau apa punya suami yang kere", ucap Rahel membuat Mawar menyadari apa sumber masalahnya.
"Apa ini tentang pak Bram...??, tenang, aku juga tak berniat mengungkap kebenaran itu", ucap Mawar.
"Jadi.., kamu sudah tau siapa itu Bram..", tanya Rahel.
"Dia ayahku, kenapa..??, kau takut aku meminta bagian hartaku darinya..??, aku mengerti apa yang ada dipikiran kalian, hanya uang dan uang", ucap Mawar sedikit meluapkan emosinya.
"Lancang kamu...!!", seru Gea menampar Mawar.
__ADS_1
"Tampar lagi mbak..!!, yang terpenting bebaskan Fatimah dan aku, aku janji akan pergi jauh dari kota ini dan tak kan kembali lagi, soal harta, itu sudah sepenuhnya milik dokter Malik adikku, aku tak meminta apapun", ucap Mawar membuat Rahel dan Gea saling bertatapan.
Berarti soal Malik bukan anak kandung Bram, Mawar gak tau dong, gumam Rahel dalam hati.
"Gak semudah itu Mawar, kamu harus bersedia tanda tangan hitam di atas putih, bahwa walaupun kamu mendapat bagian dari Kekayaan Bram, itu akan otomatis menjadi namaku", seru Rahel menyodorkan sebuah dokumen di depan Mawar.
Mawar hanya tersenyum memandang Rahel.
"Itu hal mudah bagiku, harta tidak penting bagiku, yang penting ialah Fatimah ", ucap Mawar dengan tatapan penuh keyakinan.
Jeri pun melepas ikatan tangan Mawar.
Tanpa disuruh dan tanpa di paksa, Mawar langsung menandatangani perjanjiannya dengan Rahel.
Tawa Rahel pun menggema.
Ia ciumi kertas yang telah ditanda tangani oleh Mawar.
"Bagus Mawar..!!, senang bekerja sama denganmu", ucap Rahel mengikat kembali tangan Mawar.
"Kenapa kamu kembali mengikatku..??", seru Mawar tak terima.
Gea kemudian duduk di depan Mawar dan mengusap pipi ranum Mawar.
"Kami janji bakal balikin Fatimah sesuai permintaanmu, tapi kami tak janji melepasmu begitu saja", ucap Gea tertawa.
"Apa maksud mbak..??, aku sudah turuti apa mau kalian..!!", seru Mawar meneteskan air mata.
"Boleh dia jadi milikku hel..??", ucap Gea merencanakan sesuatu.
"Astagfirullah..!!, mas Burhan..!!, tolong..!!, mas..!!", teriak Mawar dengan sekencang kencangnya.
"Apakah dia datang bersama suaminya..??", seru Gea khawatir rencananya gagal.
Sementara Jeri tertawa melihat Rahel dan Gea yang khawatir Burhan akan datang menyelamatkan Mawar.
"Tenang semua, suaminya udah aku beresin, dia lagi pingsan dimobilnya, berdoa aja biar dia gak sampek mati di mobil", ucap Jeri makin kencang tertawa.
"Mas Burhan...!!!", seru Mawar menangis sejadi jadinya.
Rahel dan Gea pun ikut tertawa menyaksikan kehancuran Mawar.
"Bagus lah, pinter juga kamu, bisa tau kalau wanita brengs*k ini dateng bersama suaminya", ucap Rahel memuji Jeri.
"Jeri gitu..", ucap Jeri mengunggulkan dirinya.
"Sekarang terserah deh kamu mau apain dia", ucap Rahel berlalu meninggalkan Mawar bersama Susan dan Fatimah.
"Jer lepasin iketannya, kita bawa dia ke kamar tamu", ucap Gea memberi instruksi.
"Mau kamu apain dia..??", tanya Jeri.
"Udah cepetan ah", seru Gea memapah secara paksa tubuh Mawar.
"Mbak, lepasin aku mbak..!!", seru Mawar tak henti hentinya menangis.
"Kamu harus hasilin uang dulu untukku..!!", seru Gea membuat Mawar makin ketakutan.
"Tolong..!!, tolong..!!", teriak Mawar berharap ada yang menolongnya dari rencana jahat Gea.
__ADS_1
Mawar pun didorong memasuki kamar tamu.
Nampak beberapa pemuda telah berada di sana.
Tatapan tajam dan ganas dari para lelaki itu kini tertuju pada Mawar.
Mawar amat ketakutan dibuatnya, ia mencoba menunduk dan menutupi badannya.
Beberapa lelaki tertawa melihat tingkah Mawar.
Sambil meneguk sebotol minuman keras, seorang lelaki mendekati Mawar yang ketakutan.
"Gea..., inikah barangmu..??", seru Seorang lelaki yang tengah dalam kondisi mabuk.
Bau alkohol menyeruak di sekeliling kamar.
Asap rokok mengebul dari segala penjuru.
"Iyaa dong, cantik kan..??", ucap Gea mengangkat wajah Mawar yang tengah menangis secara paksa.
"Kamu mau lepas berapa..??", seru seorang lelaki di sudut kamar.
Mendengar itu Mawar seakan tau apa yang akan diperbuat oleh Gea padanya.
Tubuh Mawar kian memberontak, tapi itu semua tak ada artinya.
Ia hanya satu banding 10 orang di kamar itu.
Terlebih ada Jeri yang siap menerkamnya dari belakang jika Mawar mencoba kabur.
"Penawaran tertinggi dialah yang mendapatkannya", ucap Gea berencana menjual Mawar pada para pelanggannya.
"100 juta..!!", seru seorang lelaki di samping jendela.
"200 juta dong", ucap Seorang lelaki di hadapan Gea.
Harga kian naik hingga menembus angka 800 juta, betapa sumringahnya Gea kala itu mendapat jackpot 800 juta dalam sehari saja.
"Deal...!!", ucap Gea menjabat tangan seorang lelaki yang telah berhasil membeli Mawar.
"Aku boleh cicipi dia kan nanti..??", bisik Jeri pada Gea.
"Tenang, itu bisa diatur", ucap Gea menatap Mawar dengan tatapan tajamnya.
"Semua keluar..!!", seru Gea memberikan privasi bagi pemenang lelang hari itu.
"Mbak..!!, tolong mbak hentikan ini semua..!!", seru Mawar bersujud di kaki Gea sambil menangis dengan kencangnya.
Gea hanya diam dan mendorong Mawar kelantai.
Pintu kamar dengan segera ditutup oleh Gea dari luar.
Meninggalkan Mawar sendirian dengan seorang pria yang tak dikenalnya.
___##___
Bagaimana ya lanjutannya...??,
Siapa yang berhasil menolong Mawar nantinya...??
__ADS_1
Stay trus ya...😊