
Mawar terduduk tak berdaya di pondoknya.
Tatapan matanya kosong, air mata mulai menetes kian deras dipipinya.
Seakan ia telah terguncang hebat saat itu.
Terlihat pak kyai dan istrinya, serta mbak Lastri yang menguatkan Mawar.
Pikiran Mawar bak melayang, ia tak mendengar dan memperhatikan orang orang di sekelilingnya yang sedang menguatkannya saat itu.
Kabar meninggalnya Nia, telah terdengar di telinga Mawar.
Dan kabar yang lebih menyakitkan lagi juga sudah di sampaikan oleh pak Kyai sendiri.
Nia, gadis tak berdosa itu meninggal akibat ulah dari ibu kandung Mawar sendiri.
Jika Nia tak datang ke dapur malam itu, mungkin dirinya lah yang saat ini telah terkubur di bawah tanah.
Tangisan Mawar pecah setelah memikirkan kebiadapan ibu kandungnya sendiri.
Terlebih, niat jahat itu sebenarnya di tujukan untuk Mawar.
Allah masih melindungi Mawar saat itu.
Tapi ia juga tak menerima kenyataan bahwa seorang gadis meninggal dengan tragis menggantikan tempatnya.
__ADS_1
"Ya Allah...!!", teriak Mawar seketika mengagetkan pak kyai dan istrinya serta mbak Lastri.
"Astagfirullah, istigfar Mawar, semua sudah kehendak Allah", ucap istri pak kyai.
"Sayang, istigfar", ucap mbak Lastri menangis melihat anaknya sangat hancur kala itu.
"Buk, apa salah Mawar..?, sehingga Allah memberi Mawar seorang ibu kandung yang sangat kejam, bahkan mengharapkan kematian Mawar", seru Mawar meluapkan emosi dan kekecewaannya.
Pak kyai pergi keluar dari pondok, ia berdiri di teras.
Ia tak tega melihat Mawar yang hancur, menangis dan menyalahkan dirinya sendiri.
Pak kyai meneteskan air mata.
Ia tak menyangka di dunia ini ada manusia yang lebih keji dari hewan.
Mawar menangis semakin menjadi jadi.
Ia meluapkan semuanya kala itu.
"Mungkin Nia masih disini kalau Mawar tak ada di pesantren ini buk", ucap Mawar memegang tangan istri pak kyai.
"Sabar Mawar, sabar", ucap istri pak kyai menenangkan Mawar.
"Mungkin jika ibuk dan pak kyai tidak menolong Mawar dan menampung Mawar di sini, pesantren ini tidak akan pernah tercoreng seperti ini buk..!!", teriak Mawar menyalahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Bukkk, kenapa ibuk masih sayang sama Mawar, Mawar bisa jadi sumber bahaya bagi ibuk", ucap Mawar menghadap ke arah ibunya.
"Ya Allah nak, jangan bilang begitu sayang, Mawar harta ibuk satu satunya", ucap mbak Lastri mengusap air mata Mawar.
Tangisan Mawar tiba tiba mereda, ia mengusap pipinya yang basah.
"Buk, apakah salah jika Mawar membenci Mami..??", ucap Mawar kepada istri pak kyai.
"Astagfirullah nak, jangan biarkan setan merasuki nalurimu, kamu jauh lebih baik dari mami mu, kamu berbeda dengannya, kami berharap lebih padamu Mawar", ucap istri pak kyai.
"Mawar dengarkan ibuk, manusia memang tempat salah dan dosa itulah jati diri manusia, tapi Allah lah yang berhak menghardik dan menghukumnya, jangan kau mengambil hak itu darinya, jangan kamu membenci mami mu nak, biarkan itu urusan mami dengan Allah, tetaplah di jalan Allah meskipun kita yang dizholimi nak", ucap mbak Lastri menasehati Mawar.
"Betul kata ibumu sayang, biarlah itu menjadi urusan Allah, lebih baik kita membenahi diri kita selagi masih ada kesempatan", ucap istri pak kyai.
Tangisan Mawar kembali pecah.
Amarahnya tercairkan oleh nasehat istri pak kyai dan mbak Lastri.
Sungguh aku hanyalah makhluk Allah, pasrahkan saja semua pada Allah, gumam Mawar dalam hati.
"Astagfirullah, makasih ya buk", ucap Mawar memeluk ibunya.
"Tenangkan dirimu sayang, ambilllah wudhu dan tunaikan shalat, berserahkan di hadapan Allah", ucap istri pak kyai.
Mawar pun menuruti nasehat istri pak kyai, ia berwudhu dan melaksanakan shalat.
__ADS_1
Ia menangis di atas sajadahnya memohon pertolongan pada Allah, dan memohon agar di beri kesabaran lebih banyak lagi, serta mendoakan mami nya agar mendapat hidayah dari Allah.
"Jadikan ibu kandung hamba manusia yang lebih baik lagi ya Allah, bukakanlah hati nuraninya, insyaallah Mawar tak membenci Mami", ucap Mawar menangis dalam shalatnya.