
Dokter Malik mengendarai mobilnya dengan perasaan bercampur aduk.
Bu Maryam pun terlihat tak berbicara sedikitpun pada anak kesayangannya itu.
Seakan ia tak mau melihat wajah putranya untuk beberapa saat.
Tak berapa lama, mobil dokter Malik telah berhenti di halaman rumahnya.
"Mi..., mami tak apa apa..??", ucap dokter Malik penasaran dengan sikap diam bu Maryam selama perjalanan pulang dari rumah Mawar.
Bu Maryam turun dari mobil tanpa berbicara ataupun menoleh ke arah dokter Malik.
Dokter Malik pun segera keluar dari mobilnya dan mengejar Maminya.
"Mi.....??", seru dokter Malik masuk ke dalam rumah mengikuti bu Maryam.
Bu Maryam terus berjalan ke arah tangga tanpa menghiraukan seruan dokter Malik.
Seketika Dokter Malik pun berhenti mengejar maminya.
__ADS_1
"Kalau Malik salah, Malik minta maaf mi", seru dokter Malik membuat langkah kaki mami nya terhenti.
Bu Maryam pun berbalik dan menatap wajah anaknya.
"Dari dulu sampai pagi ini, kamu menjadi anak kebanggaan mami Malik, tapi siang ini sikap mu menunjukkan bahwa Malik anak Mami telah mati dibutakan oleh cintanya", ucap Bu Maryam mengusap air matanya.
"Mami tau kan Malik hanya terpancing emosi tadi", ucap dokter Malik membela diri.
"Tapi bukan begitu juga kamu harus bersikap Malik...!!", seru Bu Maryam tak menyangka anaknya yang penuh kelembutan hari ini telah berani terhadap seorang perempuan.
"Mami lihat sendiri kan bagaimana tadi sikap Rahel", ucap Malik.
Mami sudah berpuluh puluh tahun merasakan menjadi wanita yang tak dihargai oleh papi mu Malik..!!, dan itu rasanya sakit sekali", seru bu Maryam memegang kedua pundak anaknya dan memandang wajahnya.
"Malik cinta Mawar mi, Malik tak akan berbuat seperti itu sama Mawar", ucap Dokter Malik berbalik memeluk mami nya yang terus menangis.
Bu Maryam melepaskan pelukan dokter Malik.
Ia seakan telah benar benar kecewa dengan anaknya.
__ADS_1
"Seorang lelaki sejati hanyalah ia yang bisa menghargai wanita siapa pun itu.
Entah baik, buruk, tercelanya sikap sang wanita
,itu ucapanmu sekarang, kamu tidak akan tau nanti di masa depan nak, bukan tidak mungkin kamu malah bersikap lebih kejam lagi pada Mawar nantinya jika kamu mendengar atau terhasut fitnah seseorang akan Mawar, pelajarilah itu..!!, belajarlah dari sikap Mawar dan Burhan", ucap bu Maryam berjalan menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya.
Sementara dokter Malik termenung duduk di sofa.
Ia sangat bingung dengan dirinya sendiri.
Ini semua karna Rahel dan Papi, gumam dokter Malik segera berdiri dan bergegas menuju mobil dan menuju ke kediaman Rahel.
Dokter Malik mengerti maksud dari perkataan Mami nya, tetapi dirinya sudah terlanjur termakan amarah dan emosi.
Ia tau ia salah, tapi dalam pikirannya, nasi sudah menjadi bubur, ia pun sudah terlanjur kehilangan Mawar.
Ia tak akan melepaskan Rahel, Rahel sudah terlanjur menghancurkan semuanya, ia akan membalas perbuatan Rahel kali ini.
"Maaf mi, aku hargai nasehat mami, tapi nasehat itu tak berlaku bagi wanita seperti Rahel, wanita yang tidak pantas dihargai dan dimuliakan", ucap dokter Malik melajukan mobilnya menuju kekediaman Rahel.
__ADS_1