
"Pagi Aqly, gimana malam mu di rumah ku ?", seru Bos besar saat melihat Aqly bangun pagi itu.
Mata Aqly masih terlihat sayu, ia nampak lelah dan tersenyum dengan terpaksa di hadapan Bos besar.
"Nyenyak Bos", sahut Aqly sembari duduk di sebelah Bos besar yang tengah menikmati secangkir teh pagi nya.
Gimana mau tidur nyenyak kalau sepanjang malam para wanita itu mendesah dan meraung tanpa henti, keluh Aqly dalam hati, dan karna hal itu ia langsung memutuskan untuk pulang pagi itu juga.
"Bos, makasih atas semua nya, tapi pagi ini aku mau pamit pulang", ucap Aqly membuat Bos besar tersenyum.
"Apa kau tak suka rumah ku ini ?", tanya Bos besar menutup koran nya lalu menatap Aqly dengan tatapan tajam nya.
Tatapan itu seketika membuat Aqly menjadi gugup, bahkan merasa sulit hanya untuk menelan ludah nya saja.
"Bu, bukan begitu Bos ", sahut Aqly tak mau memancing amarah sang Bos besar.
"Oh ya !, aku tau alasan kepulangan mu, pasti karna masih ada hak mu kan di sana ?", seru Bos besar berencana ingin menambah jarak antara hubungan Fatimah dan Aqly yang pada dasar nya memang sudah retak.
"Maksud Bos ?", tanya Aqly merasa bingung dengan ucapan Bos besar.
"Kau kan yang bilang sendiri, bahwa kakak mu itu hanya sekedar anak pungut, jadi semua yang bunda mu miliki ialah hak mu, bahkan rumah mu itu", ucap Bos besar sembari tersenyum dengan licik nya.
Membuat Aqly terdiam cukup lama untuk mencerna apa yang coba di utarakan oleh Bos besar.
"Jadi maksud Bos, entah aku mau atau tidak, entah aku betah di sana atau tidak, aku harus tetap pulang demi mempertahan kan hak ku ?", sahut Aqly.
"Yap, ku kira itu yang kau pikirkan saat pamit kepadaku barusan", seru Bos besar berpura pura tak bisa menebak pikiran Aqly.
"Tentu Bos !, aku juga berpikiran begitu kok, makanya aku pamit hari ini, sampai ketemu lagi Bos besar", seru Aqly bergegas keluar dari rumah itu.
Seketika tawa Bos besar pecah.
"Aqly !, Aqly !, mudah sekali kau ku pengaruhi, dasar bodoh !, aku ini jauh lebih pintar dari mu, otak kecil dan lugu mu itu tak akan bisa berfikir sejauh itu jika bukan aku yang memancing nya", seru Bos besar kembali tertawa dengan puas nya menatap Aqly yang telah melewati gerbang depan rumah nya.
Sementara di kediaman Mawar.
Rutinitas mereka tetap berjalan seperti biasa.
Namun tawa semua penghuni rumah semakin memudar di dalam rumah itu, terlebih sejak Aqly bertengkar hebat dengan Mawar kemarin sore.
Fatimah pun terus saja terngiang ngiang ucapan dan sumpah serapah yang terlontar dari mulut sang adik kemarin sore.
Ia merasa semakin bersalah dengan semua hal buruk yang terjadi di keluarga nya.
Mulai dari kecemburuan Aqly terhadap nya dan perubahan sikap serta perilaku nya, hingga kemurungan bunda nya akhir akhir ini.
Fatimah, Fatimah !, apa yang harus kamu lakukan untuk mengakhiri semua ini ?, apa aku harus pergi dari rumah ini biar Aqly senang dan dia kembali akur dengan Bunda ?, gumam Fatimah dalam hati.
Fatimah terus saja memikirkan semua itu hingga tugas kuliah dan bisnis mukenah yang dipercayakan Mawar pada Fatimah mengalami sedikit goncangan.
Bahkan sejak kejadian waktu itu.
Mawar nampak murung dan lesu.
__ADS_1
Bahkan perubahan sikap dan menurun nya kondisi kesehatan nya amat terlihat saat ia merawat pasien pasien di klinik.
"Nak Mawar baik baik aja ?", tanya seorang pasien memegang tangan Mawar yang sedang mencoba memeriksa infus salah seorang pasien nya.
"Saya tak apa buk, mungkin cuma kecapek an", sahut Mawar segera membuat tangan sang pasien reflek meraba kening Mawar.
"Gak apa gimana ?, badan kamu panas nak !", seru pasien itu membuat perhatian dokter Malik segera mengarah pada mereka berdua.
"Kamu sakit Mawar ?", seru dokter Malik bergegas memeriksa Mawar.
"Aku gpp kok mas", sahut Mawar menyeka keringat dingin di dahi nya.
"Gak baik kalau di biarkan Mawar !, ayo ikut keruangan ku", paksa dokter Malik membuat Mawar tak bisa mengelak.
Sebelum Mawar sempat diperiksa.
Terdengar hantaman keras dari gerbang rumah mereka yang di buka paksa oleh seseorang.
Prakkk
"Masyaallah, mas !, apa itu ?", seru Mawar segera berlari ke arah teras bersama dokter Malik dan yang lain nya.
Mereka lebih terkejut lagi saat melihat bahwa Aqly lah yang menimbulkan suara keras itu.
Ia nampak datang dengan tergesa gesa masuk ke dalam rumah nya.
Awal nya Mawar begitu senang melihat sang putra pulang.
"Akhirnya kamu pulang sayang", seru Mawar sembari memeluk putra nya.
Namun seketika pelukan Mawar segera di tepis oleh Aqly.
"Kenapa bunda ?, bukan nya bunda senang kalau Aqly tak pulang ?", seru Aqly membuat semua pasien yang melihat menatap sinis ke arah Aqly.
Ucapan Aqly sontak membuat Mawar menangis.
"Sopan lah pada bunda mu Aqly", seru dokter Malik.
"Diam !, kau bukan ayah ku dan jangan ikut campur urusan ku !", sentak Aqly membuat Mawar semakin menangis.
Sementara dokter Malik tak bisa bertindak lebih.
Karna bagaimana pun, yang dikatakan Aqly adalah benar, dirinya hanya ayah sambung bagi Aqly yang tak berhak ikut campur dalam hidup nya.
Terlebih jika ia memaksa menasehati nya, dokter Malik takut akan semakin memperburuk keadaan dan membuat Aqly semakin berani menentang bunda nya.
"Aku pulang karna ini masih rumah ku dan ini adalah hak penuh milik ku, benar begitu kan bunda !", seru Aqly membuat Mawar menatap binar sang anak.
"Ini rumah kedua anak bunda, itulah fakta nya", seru Mawar dengan suara yang bergetar.
"Selalu saja dia !, dia !, dan dia !", sentak Aqly bergegas masuk ke dalam rumah dan segera menggebrak pintu kamar Fatimah.
Bersamaan dengan itu, Fatimah baru saja selesai mengucap salam dalam shalat nya.
__ADS_1
"Sini kamu !", seru Aqly sembari menarik paksa Fatimah saat itu juga.
"Lepas Aqly !", seru Fatimah mencoba lepas dari tarikan Aqly.
Namun tenaga Fatimah tak ada apa apa nya di banding kan dengan Aqly.
Fatimah segera di bawa ke hadapan sang bunda yang begitu syok dengan perlakuan Aqly pada Fatimah.
"Hentikan Aqly !, dia itu kakak mu !", sentak Mawar naik pitan.
"Sudah berulang kali Aqly bilang, dia cuma anak haram bunda !", seru Aqly membuat semua orang semakin takut melihat tingkah Aqly.
"Cukup !", sentak Mawar.
Semua orang di sana hanya bisa menatap saja.
Bahkan Fatimah dan dokter Malik hanya terdiam tak berdaya sembari menangis menyaksikan semua nya.
"Mau tak mau, dia harus pergi dari sini !, atau aku tak akan pulang ke sini lagi !", ancam Aqly membuat Mawar semakin rapuh.
"Sadarlah nak", seru Mawar dengan tersedu sedu.
"Dan ya, jangan pernah lupakan, bahwa semua ini adalah hak ku !, aku menagih hak ku bunda !, aku tak rela jika ia ikut mendapatkannya walau hanya sepeser pun", ketus Aqly.
"Demi Allah aku tak meminta apapun Aqly", ucap lirih Fatimah.
"Buls*t !", sentak Aqly.
"Turunkan nada bicara mu Aqly !", pinta Mawar.
"Dan ya, kenapa semua nya tidak ada yang memberi tahu ku tentang masa lalu nenek Geyna ?", seru Aqly membuat Mawar, Fatimah dan Dokter Malik nampak terkejut dengan pertanyaan itu.
"Memalukan !, bisa hancur nama ku di sekolah bunda !", teriak Aqly membuat Mawar menutup kedua telinga nya dan tak sengaja bayangan masa lalu nya tentang masa kelam mami Geyna muncul di ingatan nya.
"Itu biarlah cukup menjadi cerita hidup nenek Aqly", ucap Fatimah.
"Diam !, menjijikkan !, seorang keturunan pelac*r berani berjilbab bahkan bercadar", seru Aqly merendahkan jilbab wanita di depan semua orang.
Seketika amarah Mawar tak lagi bisa di bendung.
Ia segera menampar kedua pipi Aqly hingga berdarah.
"Dosa apa bunda sampai harus menghajar putra nya sendiri !, setan apa yang telah merasuki mu Aqly !", sentak Mawar membuat Aqly mematung sembari mengelap darah yang keluar dari mulut nya.
"Ingat ya nak !, entah seburuk apa nenek mu di masa lalu, ia sudah menebusnya dengan cara nya sendiri, kita yang masih hidup lah yang harus berhati hati sekarang, siapa yang menanam dia lah yang menuai, jangan coba coba melecehkan jilbab seorang perempuan !", seru Mawar membuat Aqly semakin marah dan segera bergegas meninggalkan rumah itu lagi.
Membuat Mawar kembali menangis dan menjadi histeris.
Dokter Malik dan Fatimah mencoba menenangkan nya tapi tak berhasil.
Mawar tak kuat dan akhir nya pingsan dan tumbang saat itu juga.
"Bunda !", teriak Fatimah memeluk sang bunda dengan erat nya.
__ADS_1