
Rahel berjalan memasuki rumah kediaman Bram.
Dengan percaya dirinya ia tanpa rasa bersalah dan takut berjalan menuju kamarnya.
"Stop...!!", seru Malik yang tengah duduk di sofa.
Rahel menghentikan langkahnya.
Raut wajahnya masih terlihat cuek mendengar teguran dari Malik.
"Inget pulang juga kamu...!!", ucap Malik mendekati Rahel.
"Ya elah Malik...!!, aku kan udah pamitan juga sama mami kamu", ucap Rahel santai.
"Udah gak izin aku dulu, 2 hari juga baru pulang..!!,, masih berani jawab kamu..!!", tegas Malik.
"Trus....!!", seru Rahel menatap Malik.
"Harusnya kamu mikir dong..!!, kamu itu punya suami", seru Malik.
Rahel pun tertawa.
"Malik.., Malik, sebelum ceramain aku, liat dulu diri kamu..!!, udah bener gak...!!", ketus Rahel.
"Berani ya kamu...!!", seru Malik semakin emosi.
__ADS_1
"Ck...ck...ck..., aku udah lakuin apapun yang kamu suruh ya...!!, bahkan nyapu, masak, setrika, yang gak pernah aku lakuin seumur hidup aku, aku lakuin disini...!!, sadar dong Malik, yang gak mikir tuh kamu, kamu nyentuh aku sekali aja enggak", seru Rahel mulai blak blakan dalam mengumbar keadaan rumah tangganya.
"Jaga mulutmu ya..!!", ucap Malik kebingungan, ia takut orang lain mendengarnya.
"Apa...??, kamu gak mau orang lain denger..!!, biarin semua denger, biar mereka tau bagaimana mental seorang Dokter Malik yang terhormat", ucap Rahel meninggalkan Malik dan bergegas menuju kamarnya.
"Astagfirullah..!!!, Malik..!!!", seru Bu Maryam mendekati Malik, yang sebenarnya ia telah menguping pembicaraan anak dan menantunya dari balik tembok dapur sedari tadi.
"Mi...., sejak kapan mami disini..??", ucap Malik mendekati mami nya dan memegang kedua tangannya.
Seketika bu Maryam menampar pipi Malik.
Ia menangis tersedu sedu, sampai kakinya gemetar dan tak kuat menopang tubuhnya.
"Ya Allah Malik...!!, jika kamu tak berniat menikahi Rahel kenapa kamu menikahinya...???", teriak bu Maryam dihadapan Malik yang tertunduk dihadapan mami nya.
"Maafin Malik mi", ucap Malik tak berdaya.
"Mami setuju, Rahel memang bukan wanita baik baik, tapi mami juga tak membenarkan perlakuanmu pada Rahel, kewajibanmu itu mengayomi, mendidik dan memberi nafkah lahir batin kepada istrimu, jangan sampai Allah melaknatmu nanti...!!, apa yang akan mami jawab nanti jika Allah meminta pertanggung jawaban atas dosa yang kau lakukan Malik...!!", seru Bu Maryam menangis sesenggukan.
"Mi.., dengerin Malik mi, mami percaya kan sama Malik, Malik akan menerima Rahel lahir dan batin jika Malik sudah merasa Rahel telah berubah menjadi wanita yang lebih baik mi, dan untuk sekarang, Malik mohon, jangan paksa Malik melakukan lebih dari semua ini mi", ucap Malik memeluk bu Maryam.
Bu Maryam hanya terdiam dan larut dalam tangisnya.
Dosa apa aku, sampai rumah tanggaku dan rumah tangga anakku sangat mengerikan seperti ini ya Allah..??, gumam bu Maryam dalam hati.
__ADS_1
"Aku antar Mami ke kamar ya..??", ucap Malik memapah bu Maryam masuk ke kamarnya.
Bu Maryam tak berkutik sama sekali, ia memalingkan pandangannya dari anaknya.
Setelah Malik menyelimuti Mami nya, ia pamit keluar dari kamar.
"Mi, aku keluar dulu", ucap Malik berjalan ke arah pintu, ia menutup pintu kamar bu Maryam tanpa mendengar sepatah kata pun dari mulut bu Maryam.
Malik pun terduduk di depan pintu kamar mami nya.
Ia menangis dalam diam.
Kenapa semua jadi begini ya Allah..??, gumam Malik dalam hati.
Ia menghapus air matanya dan bergegas menemui Rahel di kamarnya.
Malik seakan menahan emosi mendekati Rahel yang sedang asyik membaca majalah di atas ranjang.
"Mau apa lagi...??", ucap Rahel masih fokus dengan majalahnya.
Malik terlihat menarik nafas panjang, ia mencoba menenangkan dirinya.
"Sekarang, terserah kamu mau ngapain, aku gak bakal larang kamu, terserah kamu mau nglakuin tugas tugas dari aku atau gak, aku gak peduli, kalau kamu udah sadar dengan perilaku kamu yang buruk itu, baru kamu datengin aku dan kita ngobrol", ucap Malik bersiap tidur dan memalingkan wajahnya dari Rahel.
"Terserah...!!", ucap Rahel tanpa memahami ucapan dari Malik.
__ADS_1