
Tak berselang lama, mereka semua pun tertawa dengan lantang nya.
Membuat Aqly tercengang seperti orang bodoh di tengah tengah Bos besar dan para body guard nya.
"Kenapa kalian tertawa?, apa ada yang salah dengan ucapan ku?," seru Aqly tak menyangka ekspresi semua orang akan berbeda dari perkiraan nya.
"Aqly, Aqly!, masih saja kamu bertingkah seperti bayi," seru Bos besar berusaha keras menahan tawa nya.
"Benar bos!, sampai sekarang pun aku masih tak percaya bahwa dia adalah bagian dari kita," sahut seorang body guard membuat Aqly marah.
Sontak Aqly menarik kera baju si body guard dan mencoba menunjukkan tinju nya ke wajah sang body guard.
Membuat para body guard lain nya seketika berubah geram dan mencoba menahan serangan Aqly yang hampir mendarat di wajah salah satu rekan mereka.
"Eits!, sudah, sudah!. Aqly, kamu tak perlu marah," seru Bos besar mencoba menenangkan Aqly.
"Tapi aku merasa di hina barusan!," seru Aqly masih dengan wajah yang merah padam.
"Ya sudah, ya sudah, maafkan kami, oke!," seru Bos besar memberi isyarat ke pada para bodi guard nya untuk meninggalkan mereka berdua saja.
Setelah para body guard pergi, Aqly segera duduk di sofa dan langsung meneguk bir di hadapan nya, ia mencoba meredam amarah nya sendiri saat itu.
"Apa yang kamu ucapkan di awal tadi?, orang tua mu melaporkan kasus hilang nya Fatimah ke polisi?," seru Bos besar membahas kembali berita yang coba Aqly sampaikan pada nya.
"Benar Bos!, dan kita harus cepat cepat menyembunyikan Fatimah" sahut Aqly kembali ketakutan saat mengingat kata polisi dan penjara.
"Hem, aku sekarang tahu kenapa kamu nampak ketakutan, kamu takut ketangkap dan masuk penjara bukan?," seru Bos besar menatap tajam ke arah Aqly.
"Apa lagi Bos!, aku menuruti semua perintah Bos dengan tujuan ingin sukses, bukan untuk masuk penjara," keluh Aqly.
"Begini Aqly, coba kamu pikirkan, kenapa di keluarga ku bisa menjalankan bisnis rumah bordil ini begitu lama, bahkan sampai sekarang?," ucap Bos besar membuat otak Aqly mencoba berfikir seperti kebanyakan anggota mereka yang lain.
"Ya mungkin karna sudah banyak pelanggan bos dari segala kalangan," sahut Aqly menebak.
"Yap!, tepat sekali!, dan kebanyakan kalangan itu bukan orang biasa, mereka semua memiliki koneksi yang besar di masyarakat, hingga membuat ada nya hubungan saling menguntungkan bagi kedua belah pihak," seru Bos besar membuat Aqly kembali mencerna semua nya.
__ADS_1
Benar juga!, bahkan club malam bos tak pernah yang nama nya di periksa polisi, batin Aqly mulai menangkap maksud dari Bos besar.
Melihat Aqly terdiam, Bos besar langsung mengetahui bahwa Aqly sudah bisa mengerti apa maksud perkataan nya.
"Jika kamu ingin membangun sesuatu, bangunlah koneksi yang luas dengan semua orang, buatlah mereka melindungi mu dan berikan apa yang mereka butuhkan sebagai imbalan nya" seru Bos besar sembari menyembulkan asap rokok nya ke udara.
"Jadi dengan kata lain, seberapa keras mereka berusaha mengusik kita, masih banyak orang yang berusaha melindungi kita?," ucap Aqly menatap lekat lekat wajah Bos besar.
"Tepat sekali!, jadi jangan khawatirkan masalah kecil seperti itu lagi, karna semua orang juga tahu jika aku adalah orang paling berpengaruh di sini," seru Bos besar berjalan meninggalkan Aqly yang masih mencoba mencerna semua nya dengan sebaik mungkin.
--------
"Selamat datang tuan Darji!," seru Bos besar menyambut tamu istimewa nya yang baru saja turun dari mobil.
Bahkan para wanita primadona di tempat itu sangat antusias menyambut kedatangan tamu spesial mereka malam itu.
"Semoga Tuan Darji memilih ku malam ini," ucap lirih Rea salah satu primadona di dalam rumah itu.
"Semua juga tahu, kamu sudah tak dilirik lagi oleh Tuan Darji!, akulah yang akan ia pilih malam ini," sahut Leli mencoba berjalan ke arah tamu spesial mereka sembari menunjukkan keseksian tubuh nya.
"Pasti!, apa Tuan Darji ingat tentang awal kedatangan Mira ke rumah kebanggaan ku ini?, sayang nya dia terjual ke pelukan Tuan Sean saat itu, saat Tuan juga menginginkan nya waktu itu bukan?," ucap Bos besar membuat wajah Tuan Darji berubah kesal.
"Aku tak akan lupa hari itu," keluh Tuan Darji.
"Kali ini, aku suguhkan persis seperti Mira dulu, bahkan ia lebih menggairahkan dan lebih segala nya di banding Mira," seru Bos besar membuat antusias Tuan Darji mulai menggebu gebu.
"Benarkah?," seru Tuan Darji mengusap air liur nya yang hampir saja menetes.
"Mari kami tunjukkan," seru Bos besar mengajak Tuan Darji masuk ke dalam rumah tanpa memandang Rea dan Leli yang sudah berpose seksi di hadapan mereka.
Sial!, batin Rea dengan wajah di tekuk sembari mengikuti Bos besar masuk ke dalam rumah.
Tak berselang lama.
Bos besar dan Tuan Darji sudah berdiri di depan pintu kamar Fatimah.
__ADS_1
"Silahkan Tuan, saya permisi dulu, gadis itu ada dalam" ucap Bos besar meninggalkan Tuan Darji berdiri dengan penuh nafsu menatap pintu kamar Fatimah yang masih tertutup.
Perlahan ia memutar kunci pintu kamar Fatimah.
Tak butuh waktu lama.
Kali ini ia sudah benar benar berada di dalam kamar Fatimah.
Saat itu Fatimah tengah melaksanakan shalat dan telah sampai pada gerakan salam.
Sementara Tuan Darji begitu bergairah menatap Fatimah yang masih berbalutkan mukenah.
Sangat menantang!, sungguh sebuah jack pot bagi ku malam ini, batin Tuan Darji perlahan membuka baju nya.
Umur nya memang tak lagi muda, tapi tubuh nya masih tegap berisi tak berbeda jauh dengan tubuh atletis milik Bos besar.
Selama ini Tuan Darji memang sangat memperhatikan penampilan nya.
Tak ayal kenapa banyak wanita yang tergila gila saat melihat nya, walaupun usia nya sudah terbilang tak muda lagi.
Mendengar sebuah suara dari arah belakang.
Fatimah mengira itu adalah wanita utusan Bos besar lagi untuk membujuk nya, hanya untuk memaksa nya melakukan semua perintah Bos besar lagi dan lagi.
"Sudah ku bilang!, aku tak akan menuruti perintah mu!," seru Fatimah tanpa memandang ke arah belakang.
"Oh ya!, lihat lah dulu diriku ini, pasti kamu akan berubah pikiran," sahut Tuan Darji seketika membuat Fatimah ketakutan dan berlari sejauh mungkin dari sumber suara.
Ia lebih terkejut saat pandangan nya tak sengaja memandang tubuh Tuan Darji yang sudah tak melepaskan kemeja nya.
"Astagfirullah!, siapa kamu?, keluar kamu dari sini!," sentak Fatimah mencoba memalingkan pandangan nya.
Penolakan Fatimah saat itu malah membuat Tuan Darji tertantang untuk mendapat kan Fatimah secepat mungkin.
"Sungguh barang istimewa," seru Tuan Darji membuat Fatimah semakin ketakutan di buat nya.
__ADS_1
Ya Allah, lindungilah Fulan mu ini, sesungguh nya hanya engkau lah penolong ku saat ini, batin Fatimah dalam hati sembari terus mencoba menghindar dari kejaran Tuan Darji.