
Mawar memutuskan melupakan semua masa lalu nya.
Ia mengajak ibunya pergi ke luar kota jika perlu.
Membangun kehidupan baru, dengan lingkungan dan orang orang baru.
Mawar tak mau selamanya terbayang bayang asal usulnya dan cemoohan orang orang yang mengenalnya.
Angkot yang ditumpangi Mawar terus melaju menyusuri jalan raya.
Mawar mencoba memantapkan hati dengan keputusannya kini.
Mbak Lastri hanya menggenggam tangan anaknya itu, dan mencoba menguatkannya.
Mbak Lastri akan mendukung semua keputusan Mawar kali ini.
Nampak angkot itu berlalu melewati terminal kota.
"Tunggu pak..!!, kami berhenti di sini saja", seru Mawar mengulurkan uang kepada sopir angkot itu.
Mbak Lastri dan Mawar turun dari angkot dan memandang kesekeliling.
"Mawar...??, kita mau kemana..??", ucap mbak Lastri, tak tahu arah tujuan Mawar.
Mawar memegang tangan ibunya.
"Buk, Mawar mau kita pergi jauh dari sini, kita buka lembaran baru sama sama ya, jika Mawar punya uang banyak, mungkin hari ini kalau perlu Mawar ajak ibuk ke luar negeri sekalian, agar bayang bayang asal usul Mawar tak terlihat lagi", ucap Mawar memegang tangan ibunya.
Mbak Lastri mulai menangis lagi, ia mengelus jilbab Mawar.
"Tentu nak, kemanapun kamu pergi ibu pasti ikut", ucap mbak Lastri memeluk Mawar.
"Makasih ya buk", ucap Mawar menahan bulir air matanya yang akan jatuh.
Mereka pun menaiki bus dan menuju kemanapun takdir membawa mereka.
Yang terpenting mereka bisa jauh dari hal hal pahit yang telah mereka alami.
4 jam sudah bus melaju, mbak Lastri tertidur di pundak Mawar.
Sedangkan Mawar tetap terjaga di sepanjang perjalanan.
Ia menata hatinya agar Tegar dan kuat, ia akan memulai lagi karirnya di tempatnya yang baru.
Ia akan melupakan Dokter Malik, pesantren , pak kyai, bahkan kenangan lain lainya.
Mereka orang orang baik , dan mereka hanya akan merugi jika berdekatan denganku, gumam Mawar dalam hati mencoba agar tak menangis lagi.
Hampir 6 jam bus melaju, dan akhirnya berhenti di sebuah terminal.
__ADS_1
"Buk, kita sudah sampai", ucap Mawar pelan membangunkan ibunya.
Mbak Lastri terbangun dan melihat ke arah luar jendela.
"Kita di mana Mawar..??", tanya mbak Lastri tak mengenali sedikitpun tempat tujuan mereka itu.
Mawar hanya menggeleng, mengisyaratkan bahwa ia pun tak tau sedang berada di mana.
"Di mana pun ini, ini tempat baru kita buk", ucap Mawar menggandeng ibunya turun dari bus.
Mawar berjalan menyusuri tepi jalan raya.
Ia mengikuti langkah kaki membawanya.
Tak berapa lama.
Terdengar adzan isya berkumandang.
"Kita ke masjid dulu yuk buk", ucap Mawar menggandeng tangan ibunya menyebrang jalan raya untuk sampai ke masjid di dekatnya.
Mawar sholat dan mengadu dalam doa kepada Allah sang pemilik hidup.
Ia memohon agar diberi kekuatan demi ibunya yang sekarang ini semakin menua.
Mawar hanya ingin hidup damai dan merawat ibunya di masa tuanya ini.
Wajah gadis itu nampak tak asing bagi Mawar, tapi ia tak ingat siapa gadis di depannya itu.
Mawar mencoba mendekati gadis di depannya.
Ia nampak memandangi wajah gadis itu dengan seksama.
"Assalammualaikum..??, maaf mbak, apakah saya pernah bertemu dengan anda sebelumnya..??", ucap Mawar duduk di samping gadis itu.
Gadis itu sepertinya mendengar sapaan Mawar.
"Walaikumsalam, apakah mbak merasa seperti itu...??", ucap Gadis itu juga penasaran dengan pertanyaan Mawar.
Lalu Mawar memperhatikan gadis itu secara seksama.
Ia melihat gadis itu menatap ke arah depan dengan tatapan kosong.
Mawar terus melihat gerak geriknya, seperti mengingatkannya pada seseorang.
Lalu gadis itu terlihat berusaha meraih sebuah tongkat di depannya.
Mata Mawar berkaca kaca, ia menerka nerka siapa yang ada dihadapannya itu.
Lalu Mawar memegang tangan gadis itu dan memberikan tongkat yang sedari tadi gadis itu cari.
__ADS_1
"Terima kasih", ucap gadis itu menerima tongkatnya.
Lalu seketika Mawar memegang tangan gadis itu kembali dan meletakkannya di wajahnya.
"Mbak...??", ucap gadis itu bingung.
Tetapi saat tangannya meraba wajah Mawar, gadis itu seakan terdiam dan mengenali Mawar.
Gadis itu meneteskan air mata.
Mawar dan gadis itu seolah sama sama mengenali siapa yang sedang ada dihadapan mereka.
Mereka berpelukan, tangisan mereka pun pecah.
"Ya Allah Mawar..!!, kau kah itu..??", ucap gadis itu.
Mawar pun turut menangis bahagia.
"Iyaaa Azizah, aku Mawar teman masa kecilmu dulu", ucap Mawar mengelus jilbab Azizah, gadis yang sedang berada tepat di hadapannya.
Mereka pun melepas rindu satu sama lain.
Mbak Lastri yang melihatnya tak mau mengganggu momen antar kedua sahabat itu.
"Kamu kemana saja Mawar..??, sejak kau mengumumkan bahwa kamu juara kelas di smp dulu, kamu tak pernah mengunjungiku kembali, aku pikir kamu tak mau berteman lagi denganku", terang Azizah.
"Kamu tidak akan menyangka apa saja yang kualami sampai detik ini Azizah, aku hanya ingin membuka lembaran baru disini sambil merawat ibuku yang semakin menua", ucap Mawar memandangi ibunya yang sedang istirahat di teras masjid.
"Aku mengerti Mawar, yang terpenting sekarang aku bisa bertemu denganmu lagi", ucap Azizah tak mau memaksa Mawar menceritakan masalahnya.
"Lalu, kenapa kamu bisa berada di sini Azizah..??", tanya Mawar.
"Aku dan ibu pindah ke sini karna sekolah kita dulu telah ditutup, jadi aku dan ibu merantau ke sini dan membuka sebuah warteg pinggir jalan, alhamdulillah itu bisa mencukupi kebutuhan kami selama ini, oh ya sekarang kemana tujuanmu Mawar..??", ucap Azizah.
"Entahlah Azizah", ucap Mawar masih bingung dengan keadaanya, tapi ia melihat ibunya sudah sangat kelelahan.
"Begini saja, lebih baik kamu mengontrak di sampingku saja, kebetulan ada rumah yang sedang dikontrakkan pemiliknya", ucap Azizah manawarkan solusi pada Mawar.
Mawar terlihat sumringah dan mengucap syukur.
"Alhamdulillah, terima kasih Azizah, aku sangat senang bisa berdekatan denganmu lagi", ucap Mawar.
"Ya sudah, ayo ikut aku, nanti aku antar ke pemilik rumahnya ya", ucap Azizah bangkit dari tempat duduknya.
Mawar pun mengajak Mbak Lastri mengikuti Azizah.
Mawar menceritakan siapa Azizah itu.
Mbak Lastri pun merasa senang, karna di setiap kesusahan, Allah masih memberikan Mawar kesempatan untuk tersenyum.
__ADS_1