Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Status baru.


__ADS_3

Saat Fatimah sampai di ruang ijab kobul, mata semua orang seketika menatap nya.


Sontak suasana menjadi diam dan sunyi.


Mata mereka seakan meyakinkan siapa yang tengah mereka lihat.


Terlebih Bos besar.


Ada perasaan tersendiri dalam diri nya yang tak dia mengerti.


Sudah beratus wanita aku lihat setiap hari nya, kecantikan seperti apa yang belum pernah aku lihat, aku yakin sudah melihat nya. Tapi ada apa dengan ku kini?, wajah nya bahkan tak pernah aku lihat sebelum nya, ahh!, mungkin saja wajah nya cacat, tapi perasaan apa ini?, batin Bos besar merasa bingung dengan diri nya sendiri.


"Astagfirullah!," seru sang penghulu dengan kencang nya, membuat semua yang ada di sana berbalik menatap nya.


"Heh!, penghulu!, sudah gila kamu!," sentak seorang body guard, namun sang penghulu masih nampak terlihat syok ketakutan dengan nafas yang kembang kempis.


"Bidadari?, apa kamu membawa malaikat izrail untuk menjemput ku?, ya Allah ampuni hamba, hamba tak sengaja masuk ke tempat ini!, hamba di paksa ya Allah, yakin deh!," seru sang penghulu membuat semua yang ada di sana menatap aneh ke arah nya.


"Bidadari?, ini Fatimah pak!, mempelai wanita kita hari ini," sahut Mira menatap takjub wanita yang kini berdiri di samping nya.


Bahkan aura kecantikan nya begitu membuat semua orang takjub, walaupun paras nya ia tutup dengan sehelai cadar, batin Mira.


"Benarkah?. Maaf maaf, dia begitu menawan bak bidadari, semua yang melihat nya pasti sependapat dengan saya, ya sudah, mari kita mulai ijab kobul nya," seru sang penghulu tanpa rasa bersalah.


Fatimah perlahan duduk di kursi tempat ia akan melaksanakan ijab kobul.


Sesaat ia menatap lelaki di samping nya, lelaki yang akan menjadi imam nya saat ijab kobul telah selesai.


Seberkas ingatan Fatimah mengingat saat ia pertama kali di bawah ke rumah bordil itu.


Ia yang terpaksa datang ke sana demi menuruti perintah sang adik.


Perlakuan yang buruk selama ia berada di sana masih melekat di ingatan nya.


Bahkan ia teringat saat Bos besar ingin menjual nya kepada tuan Darji.

__ADS_1


Tapi kini, diri nya bahkan harus menikah dengan lelaki yang membuat diri nya begitu tertekan dalam beberapa hari terakhir.


"Bagaimana mempelai wanita?, sudah siap kah?," tanya sang penghulu membuyarkan lamunan Fatimah.


Sementara Bos besar terus menatap nya dengan penuh pertanyaan.


"Saya siap," ucap Fatimah membuat semua orang tak menyangka terutama Bos besar sendiri.


"Dia setuju?," ucap beberapa wanita tak menyangka dengan jawaban Fatimah.


"Kalau boleh tahu?, apa alasan mbak menerima ia sebagai suami?," tanya sang penghulu masih mencoba menghentikan pernikahan itu jika dia bisa.


"Allah," sahut Fatimah membuat mata Bos besar membulat sempurna.


"Bulsit!," ucap lirih Rea dari kejauhan.


"Mbak yakin?," tanya sang penghulu lagi.


"Insyaallah," sahut Fatimah mengingat saat ia sudah mencari keikhlasan hati dari shalat istikharah nya semalam.


"Aku sudah terjebak di sini, dan aku serahkan semua nya pada Allah Mira, jika aku memberontak pun tidak menjamin aku akan di lepaskan, dia akan semakin menjeratku semakin kencang," ucap Fatimah menghela nafas panjang.


"Dan bagaimana untuk calon mempelai lelaki?," tanya sang penghulu membuat Bos besar kembali mengingat rencana awal nya.


"Saya siap, sangat siap," sahut Bos besar menjabat uluran tangan sang penghulu.


Tak berselang lama kata sah menggema di ruangan itu.


Sekali lagi, Bos besar menatap ke arah Fatimah yang terlihat mengusap air mata nya.


Pasti itu tangis penyesalan, bodoh sekali dia, bicara sok bijak hanya untuk terlihat alim di mata semua orang, batin Bos besar kembali menyulut api kesombongan dalam diri nya.


Seandainya bunda menyaksikan pernikahan ku, aku akan sangat bahagia sekali, setidak nya aku akan lebih memiliki kekuatan saat ini, batin Fatimah menyeka air mata nya kembali.


"Alhamdulillah, sekarang kalian sudah resmi menjadi suami istri di mata agama dan negara," ucap sang penghulu sambil menghela nafas panjang mengkhawatirkan nasib dari Fatimah.

__ADS_1


"Sudah, sudah!, ayo saya antar bapak pulang!, seru sang body guard segera menarik berdiri sang penghulu dari tempat nya.


"Astagfirullah!, sabar, sabar, apa tak di persilahkan dahulu saya untuk makan?," keluh sang penghulu segera mendapat tatapan tajam dari para body guard.


"Kalau pak penghulu mau, mari saya layani, saya akan suapi di kamar," ucap Lely mencoba menggoda sang penghulu.


"Astagfirullah, saya pulang saja kalau begitu, hii serem!, saya masih takut neraka, panas," sahut sang penghulu bergegas keluar dari rumah bordil tanpa di antar oleh satu body guard pun.


Bersamaan dengan itu, Fatimah segera berdiri dari tempat duduk nya dan meraih tangan sang suami untuk ia cium sebagai tanda hormat nya menyambut status baru nya.


Wanita ini, batin Bos besar tercengang dan kembali bimbang dengan perasaan nya.


Bahkan semua wanita di ruangan itu lagi lagi di buat terkejut dan terdiam.


Ada rasa iri dalam hati mereka karna tak bisa merasakan momen sebuah pernikahan meskipun itu sebuah paksaan.


Hidup mereka hanya di kelilingi oleh para lelaki hidung belang yang hinggap dan pergi setiap hari nya.


Bahkan kodrat mereka untuk menjadi seorang ibu hampir mereka lupakan sejak mereka telah masuk ke dalam rumah Bordil.


"Entah bagaimana hubungan ini bisa ada, entah apa rencana tuhan untuk kita, tapi yang jelas, aku sudah menuruti permintaan mu itu, kini aku tanggung jawab mu, tindak tanduk ku adalah tanggung jawab mu, menjadi apa diri ku ini sekarang tergantung pada mu, aku hanya berharap kamu menghargai ku sebagai istri mu sebagai mana aku menerima mu kini sebagai suami ku," ucap Fatimah lalu berlalu pergi dari hadapan Bos besar yang masih mencoba mencerna ucapan dari wanita yang berniat ia hancurkan itu.


"Sudahlah Bos, tak usah hiraukan ucapan ngelantur dari wanita sok alim itu, sebaik nya bos habiskan malam dengan kami saja," bujuk Rea.


Namun rayuan Rea bahkan tak di dengar oleh Bos besar.


Di pikiran Bos besar saat itu hanya ada ucapan Fatimah yang membuat batin nya memberontak.


"Tutup pintu nya!, hari ini aku lelah," seru Bos besar berjalan pergi meninggalkan yang lain.


"Kenapa dengan bos?," keluh seorang body guard terheran heran.


Saat ia ingin kembali ke kamar nya.


Tak sengaja tatapan nya mengarah pada kamar Fatimah.

__ADS_1


"Kenapa aku begitu lemah!, aku menikahi nya untuk memberi nya pelajaran, bodoh sekali aku!," seru Bos besar berbalik arah menuju ke kamar Fatimah.


__ADS_2