Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Hanya ada sebuah penyesalan.


__ADS_3

"Lel?," seru Rea sembari berjalan tertatih tatih memasuki kamar mandi.


Nampak tangan Lely menjulur keluar dari bathtub yang masih tertutup tirai.


"Aku sungguh menyesal karna telah membawa kita masuk ke rumah ini Lel, bukan nya kita hidup enak, malah kita di perlakukan seperti ini, bahkan saat hari pertama kita di sini," keluh Rea berusaha membasuh wajah nya dengan air mengalir.


"Kau tau Lel, aku rindu Bos besar. Dia memang tak menyenangkan, tapi dia tak pernah memperlakukan kita seburuk dia!," keluh Rea sembari membalut badan nya dengan sehelai handuk yang tergantung di sana.


Namun Rea kemudian merasakan ada yang tak beres dengan Lely.


Ucapan nya sama sekali tidak ada sahutan sedikitpun dari Lely.


Perlahan, Rea mencoba menyibak tirai di samping nya dengan tangan yang gemetar.


Wajah nya seketika menjadi pucat pasi, seakan ia mencoba menebak apa yang tengah terjadi pada Lely saat itu.


Srekkk!


Tubuh Rea seakan terpental kebelakang dengan ritme nafas yang begitu cepat.


"Astaga Lely!, ku kira kau!," seru Rea sembari me rileks kan tubuh nya dengan bersandar ke tembok.


Lely begitu nampak sayu dan pucat.


Namun ia tetap betah terdiam berbaring di bathtub dengan santai nya.


"Kenapa Rea?, apakah aku juga begitu terlihat menggoda di mata mu?," ucap Lely tanpa ekspresi sedikitpun.


"Bicara apa kau ini!, aku masih waras!, aku tak menyukai sesama jenis ku!, sudahlah!, sekarang segar kan badan mu, oke!," seru Rea mencoba memutar keran air untuk mengisi bathtub.


"Aku begitu lelah Rea," ucap Lely masih dengan tatapan mata yang kosong.


"Kau pikir aku tidak, hem!. Sudahlah!, aku akan coba mencari baju ganti untuk kita," ucap Rea sembari menuangkan sabun cair ke tubuh Lely.


"Rea, boleh aku tanya sesuatu?, seru Lely saat Rea berniat ingin meninggalkan nya.


"Cepatlah!, aku sudah kedinginan dan kelelahan, setelah ini aku akan tidur sepuas ku, tapi jika tuan Danu mengizinkan," ucap Rea sembari membantu Lely membasuh badan nya.

__ADS_1


"Entah kenapa aku jadi takut dengan Allah Rea, aku begitu takut hingga tak berani memejamkan mata ku, apa kau pernah merasakan nya?," seru Lely tersedu


sedu.


"Kenapa kau malah berbicara ngelantur seperti Fatimah!. Ah sudahlah!, itu kita pikirkan nanti, kita itu masih muda dan masih lama bertemu dengan yang nama nya Allah, oke!," seru Rea menyiapkan sebuah handuk untuk Lely.


"Bagaimana jika kita mati sekarang?, atau esok?, kau tidak tahu itu bukan?," ucap Lely menatap binar ke arah Rea.


"Ah!, berhentilah bicara omong kosong!, aku memang bukan peramal, tapi yang pasti aku dan kau masih muda dan maut masih jauh dari kita," seru Rea mencoba membantu Lely untuk keluar dari bathtub.


Namun ia begitu tercengang saat merasakan tangan Lely begitu dingin dan biru.


"Kau sakit Lel?, tanya Rea dengan tatapan heran ke arah Lely.


Namun Lely hanya menggeleng tanpa berucap sepatah katapun lagi.


"Aku akan cari baju untuk kita," ucap Rea namun masih betah menatap Lely dengan penuh tanda tanya.


------##---


"Mending aku pakai baju pembantu dari pada pakai handuk terus terusan!, bisa remuk beneran badan ku jika nafsu mereka naik lagi," seru Rea berjalan pelan menyusuri rumah besar itu.


Di setiap tempat, tak terlihat ada nya para pengawal tuan Danu satupun.


"Cih!, mungkin mereka sekarang sedang asyik merokok setelah puas menghajar aku dan Lely, awas aja kalian!," ucap Rea kembali berjalan menuju ke dapur dengan harapan bisa bertemu dengan pembantu rumah itu.


Namun tiba tiba ia tersandung sesuatu hingga jatuh tersungkur di lantai.


"Aduh!, sakit," rintih Rea sembari mengusap siku nya yang terbentur sudut sofa.


Namun saat mata nya menatap ke belakang sofa.


Rea langsung tersentak dan berteriak sekencang kencang nya saat itu.


"T- tidak, ini gak mungkin!, tidak!," teriak Rea hingga terdengar ke setiap penjuru rumah.


Membuat Tuan Danu dan semua penghuni rumah itu berhamburan mendatangi nya.

__ADS_1


Tak terkecuali para pembantu dan para pengawal tuan Danu.


"Apa kau sudah gila!, hah!," sentak tuan Danu begitu heran dengan sikap Rea saat itu.


"Lel, Lely!, apa yang telah kalian lakukan pada Lely!," teriak Rea begitu histeris nya sembari meraih vas bunga di samping nya dan menodongkan nya pada tuan Danu.


Mendengar seruan Rea saat itu, semua orang langsung memandang ke arah belakang sofa di mana Rea terus menunjuk nya sedari tadi.


Mereka begitu syok melihat nya, terlebih tuan Danu sendiri.


Pasal nya, Lely sudah nampak terbujur kaku di lantai dengan bercak darah di kaki nya serta luka memar di pipi dan tangan nya.


"Apa yang sudah kalian lakukan!, menyusahkan saja!, aku beri kalian kesenangan malah kalian kotori rumah ku ini!," keluh tuan Danu mendorong satu per satu pengawal nya.


Sementara Rea seketika lemas dan terduduk di lantai kembali.


Ia mengingat baru sesaat tadi berbicara dengan Lely di dalam kamar mandi.


Yang tanpa ia sadari itu bukanlah Lely, melainkan hanya roh nya.


"Tidak, tidak!," teriak Rea semakin histeris sembari memukuli tubuh nya sendiri.


"Kalian urus jasad nya. Dan kalian urus wanita itu!, aku tak mau kekacauan ini membuat rencana bisnis ku jadi hancur!," perintah tuan Danu membuat para pengawal nya segera bergegas melaksanakan perintah nya.


Sementara Rea masih syok serta histeris dengan apa yang telah menimpa Lely.


"Ku peringatkan pada mu!, jangan sekali kali kau ceritakan ini semua ke publik, atau aku pastikan kau akan bernasib tak jauh beda dengan teman mu itu, paham!," bisik tuan Danu sembari menarik rambut Rea tanpa ampun.


"S- sakit," rintih Rea masih menyesali kepergian Lely yang terjadi karna ulah nya.


Jika sejak awal Rea mau mendengarkan saran dari Lely, mungkin Lely masih hidup sampai sekarang.


"Satu bulan!, aku akan buka tempat bordil terbesar melebihi milik mantan Bos mu itu, tugas mu adalah, mencarikan aku banyak wanita untuk menjadi mesin pencetak uang ku!, jika kau tak bisa dapatkan itu, bersiaplah mengikuti jejak teman mu itu," ucap tuan Danu hanya di jawab anggukan kecil oleh Rea.


"Apa kau tak memiliki mulut!," sentak tuan Danu sekali lagi, membuat Rea menangis saat itu juga.


"B- baik tuan," sahut Rea hanya bisa pasrah mengikuti perintah majikan baru nya itu.

__ADS_1


__ADS_2