Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Pernikahan Impian 2.


__ADS_3

Sesaat keheningan tercipta di antara mereka bertiga.


Meskipun suara gemuruh riang anak anak menyelimuti rumah itu tiada henti, namun ketegangan seakan muncul diantara Bos besar serta keluarga Fatimah saat itu.


"Kita bisa bahas ini lagi nanti, sebaik nya kita segera mulai acara ini, tak baik mengulur ngulur waktu di hari bahagia seperti ini," ucap dokter Malik memecah keheningan saat itu.


Sementara Fatimah mencoba bersikap setenang mungkin meskipun ia sudah bisa menebak apa yang akan di ucapkan sang calon suami di hadapan ayah bunda nya.


Semua ku serahkan kepada mu ya Allah, batin Fatimah sembari menghela nafas panjang.


"Tidak bisa ayah, aku harus mengungkapkan sesuatu sebelum pernikahan ini di mulai," seru Bos besar membuat Mawar mulai gusar.


"A- apa kau berubah pikiran Ummar?," tanya Mawar mencoba menebak kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi hari itu.


"Tidak bunda. Justru aku ingin sekali pernikahan ini berjalan dengan lancar, dan Fatimah akhirnya menjadi istri ku dengan cara yang semestinya," sahut Ummar menepis tebakan Mawar pada nya.


"Lalu?," tanya dokter Malik semakin penasaran di buat nya.


"Masa lalu ku," ucap Ummar membuat Fatimah yang masih terduduk tenang di dalam kamar seketika memejamkan mata nya.


Fatimah begitu takut akan kemungkinan terburuk pada hidup nya saat itu, namun ia percaya bahwa apapun yang terjadi di hidup nya adalah skenario terbaik dari Allah untuk nya.


"Ada apa dengan masa lalu mu nak?, semua punya masa lalu bukan, jadi lupakan semua itu, okey!. Ayolah, penghulu sudah menunggu mu," seru dokter Malik mulai mengerti apa yang sebenar nya ingin di sampaikan Ummar kepada nya dan kepada Mawar istri nya.


Jika tebakan ku benar, apa yang akan terjadi pada keluarga ku?, bagaimana jika kesehatan Mawar juga terpengaruh nanti nya, batin dokter Malik tak bisa menyembunyikan raut wajah ketakutan nya saat itu.

__ADS_1


Hingga dengan cepat Mawar bisa mengetahui kegelisahan dan ketakutan di wajah suami nya saat itu.


"Katakan yang ingin kau katakan Ummar, bunda mohon," ucap Mawar membuat mulut Bos besar seketika begitu sulit hanya untuk berucap saja.


"Jangan menunda nya lagi Bos besar, katakan semua nya dengan gamblang di sini," seru kakek Bram seketika memutuskan untuk bergabung dengan mereka bertiga.


"Ayah memanggil nya apa barusan?," tanya Mawar dengan mata yang mulai basah.


"Bos besar, itulah nama serta julukan nya selama ini, Ummar hanya nama samaran nya selama ini Mawar, kalian telah di tipu oleh nya," ucap kakek Bram membuat Bos besar meremas kedua tangan nya sendiri.


Emosi nya seakan bercampur aduk saat itu.


Seketika tatapan sayu Mawar berbalik mengarah ke arah Bos besar.


Membuat emosi Bos besar mulai tenang dan terkontrol secara sendiri nya saat menatap mata Mawar.


Mendengar semua pengakuan itu, Mawar hanya terdiam tanpa ekspresi di hadapan Bos besar.


Walaupun sebenar nya ia sudah mendengar nya semua itu dari mulut tuan Danu beberapa waktu yang lalu.


Sementara bersamaan dengan itu, air mata Fatimah perlahan mulai jatuh membasahi pipi nya.


"Astagfirullah," ucap Fatimah mencoba menenangkan diri nya sendiri.


"Maafkan aku bunda, tapi inilah sebenar nya diri ku, aku tidak mau kalian semua tahu setelah acara ini usai, sekarang semua keputusan kalian aku akan menerima nya," ucap Bos besar begitu pasrah dengan apa yang akan terjadi setelah nya.

__ADS_1


"M- mawar?," seru dokter Malik mulai khawatir dengan sikap diam mematung dari istri nya.


Karna sejati nya, ia begitu paham resiko besar bagi Mawar jika ia tidak bisa mengontrol kesedihan nya.


"Kunfayakun ya Allah," ucap lirih Fatimah penuh harap.


---##---


Merasa tidak ada tempat lagi bagi nya, Bos besar perlahan mulai berjalan pelan pergi dari hadapan Mawar serta dokter Malik.


Pernikahan impian nya kini hanya tersisa angan angan belaka.


Begini kah jalan tuk menjadi orang baik ya Allah, begitu sulit dan menyakitkan, batin Bos besar tiba tiba merasakan sentuhan tangan lembut di atas bahu nya.


"Kau mau kemana Ummar?, calon istri mu sudah tak sabar menunggu kau mengucapkan ijab qobul," seru Mawar membuat semua nya begitu tercengang di buat nya terlebih lagi bagi Fatimah.


Ia langsung bersujud di lantai dengan terisak isak saat mendengar ucapan dari sang bunda saat itu.


"Allahhu akbar," ucap Fatimah tiada henti mengucap rasa syukur.


"B- bunda mau menerima ku?," tanya Bos besar tak percaya dengan pendengaran nya sendiri.


"Saat aku mendengar nya saja, aku sudah begitu tak suka dengan julukan sang Bos besar, itu begitu mengingatkan ku pada masa silam ku yang pahit di masa lalu. Tapi nak, aku menikahkan anak ku dengan lelaki baik bernama Ummar, yang mampu melakukan apa saja demi putri ku, ia juga telah berani melamar putri ku dengan cara yang baik, dan yang terpenting ia sudah berani berkata jujur walaupun itu pahit. Jadi tidak ada masalah lagi bukan, sebenar nya aku sudah mengetahui kebenaran ini beberapa waktu yang lalu, tapi aku mencoba menepis semua nya, aku masih berharap kalau itu salah, tapi kini dari mulut mu sendiri aku harus menerima bahwa kenyataan pahit itu memang benar ada nya, sekarang cepatlah temui penghulu dan jadikan Fatimah istri mu kembali, bunda merestui kalian" seru Mawar begitu membuat tangisan semua orang pecah saat itu juga.


"Terima kasih," ucap Bos besar tak bisa lagi berkata kata.

__ADS_1


Sementara kakek Bram hanya bisa terdiam menghormati keputusan dari sang anak.


Aku berharap ini semua tidak menimbulkan masalah baru di kemudian hari, batin Kakek Bram sembari pergi kembali menuju tempat utama acara pernikahan akan berlangsung.


__ADS_2