
"Sayang kamu dah siap..??", ucap Dara di depan pintu kamar putrinya.
"Bentar ma..!!", ucap Rahel dari dalam kamarnya.
"Mama tunggu di luar ya, cepetan..!!, keburu pak Bram lama nunggu.
"Iyaaa ma..!!", seru Rahel.
Dara pun turun menuju suaminya yang sudah bersiap di teras rumah.
"Dara dah siap..??", ucap Yahya melihat ke jam tangannya.
"Bentar lagi pa", ucap Dara masuk lebih dulu kedalam mobilnya.
"Papa..!!!", seru Rahel memeluk papanya.
"Lama nya kalau dandan...!!", ucap Yahya mencubit gemas kedua pipi anaknya.
"Duhh papa...!!, luntur nanti make up ku, aku dandan juga papa yang bangga liat anaknya cantik", ucap Rahel menggerutu.
"Iyaa iyaa...!!, yuk berangkat", ucap Yahya masuk kemobil diikuti oleh Rahel.
Mobil mereka pun melaju menuju rumah ke kediaman Bram.
Sementara di kediaman Bram, Dokter Malik pulang dari rumah sakit dengan keadaan murung.
"Assalammualaikum mi", ucapnya mencium punggung tangan mami nya dan duduk di kursi meja makan.
"Walaikumsalam, sudah pulang nak", ucap bu Maryam lalu menyadari raut wajah sedih anaknya.
Bu Maryam yang awalnya sibuk mempersiapkan makan malam berhenti dari aktivitasnya dan mendekati anaknya.
"Kenapa kamu..??", ucap Bu Maryam memijat bahu anaknya.
"Gpp mi", ucap dokter Malik singkat.
"Jangan bohong..!!, cerita sama mami", ucap bu Maryam duduk di samping anaknya.
Dokter Malik menghadap ke arah mami nya.
Ia memegang kedua tangan mami nya sembari menahan tangisnya.
__ADS_1
"Mi..,Mawar...", ucap dokter Malik lirih.
"Mawar ..!, kamu ketemu Mawar nak...??, di mana dia, bagaimana keadaannya..??", seru Bu Maryam bersemangat ingin mengetahui kabar tentang Mawar.
"Dia jauh lebih baik sekarang mi", ucap Dokter Malik.
"Maksudmu gimana..??", ucap bu Maryam penasaran.
Lalu Dokter Malik menceritakan pertemuannya dengan Mawar hari ini di rumah sakit.
Ia juga mendengar dari dokter yang menangani anak Mawar bahwa Mawar juga telah sukses menjadi seorang pebisnis mukenah.
"Masyaallah", seru bu Maryam dengan perasaan bahagia juga sedih mendengarnya.
Disatu sisi ia bahagia bahwa Mawar telah sukses dengan karirnya.
Tetapi disisi lain ia sedih mendengar kenyataan bahwa Mawar telah memiliki seorang anak, itu berarti Mawar telah memiliki suami dan tak akan bisa bersatu lagi dengan anaknya Malik.
"Yang sabar ya sayang", ucap bu Maryam menangis mencoba menenangkan batin anaknya yang sedang rapuh.
"Malik sudah ikhlas kok buk, biarlah itu menjadi urusan Allah", ucap Malik berdiri dari tempat duduknya.
"Ibu tau kamu sedang sedih, tapi ada yang harus ibu sampaikan ke kamu walaupun itu pahit, malam ini papimu mengundang keluarga Rahel dan akan membahas tentang pertunangan kalian, maaf sayang, mami tak bisa berbuat apa apa untukmu", ucap bu Maryam bak menyiram air garam di luka anaknya sendiri.
Dokter Malik menarik nafasnya panjang.
"Biarkan mereka datang mi, Malik akan menuruti semua perkataan Papi kali ini, cinta Malik sudah hilang, apa lagi yang harus di pertahankan", ucap Malik berjalan menuju kamarnya.
"Ya Allah nak", ucap Bu Maryam menangis terduduk di kursi, ia tak menyangka anaknya akan seputus asa itu.
Bram yang mendengar percakapan anak dan istrinya dari kejauhan sangat senang kala itu.
Baguslah, jadi tak ada rintangan lagi untukku, gumam Bram dalam hati dan berjalan keluar rumah bersiap menyambut calon menantu dan besannya.
Beberapa menit kemudian, Mobil keluarga Yahya telah masuk ke halaman rumah kediaman Bram.
Bram langsung menyambut mereka dan mempersilahkan mereka masuk.
"Selamat datang..., selamat datang.., mari silahkan duduk", ucap Bram mempersilahkan tamu kehormatannya untuk duduk di ruang tamu.
"Dimana yang lain pak Bram..??", ucap Yahya melihat kesekeliling rumah.
__ADS_1
"Oh itu..., istriku sedang menyiapkan minuman untuk kalian, dan Malik biasa lah..., ia setiap pulang dari rumah sakit selalu berada di taman belakang, mungkin mami nya belum memberitahu bahwa kalian mau datang", ucap Bram menutupi ketidaksukaan istri dan anaknya pada pertunangan itu.
Pandangan Bram pun tertuju pada Rahel.
"Wah Rahel, kamu makin cantik aja ya", ucap Bram memuji kecantikan Rahel.
"Makasih om..., oh ya Rahel boleh temuin Malik...??", ucap Rahel ingin sekali bertemu dengan calon suaminya itu, ia ingin melihat reaksi Malik yang melihat kecantikan Rahel yang sekarang, mustahil bagi Malik menolak gadis secantik dirinya, pikir Rahel sangat percaya diri.
"Silahkan, kamu lurus aja, nanti juga bakal sampai ke taman", ucap Bram merasa senang dengan usaha Rahel mendekati Malik.
Rahel pun meninggalkan orang tuanya dan pak Bram yang sedang asik mengobrol.
Bu Maryam keluar dari dapur membawa minuman untuk para tamunya.
"Silahkan minumannya", ucapnya sembari duduk di samping suaminya.
"Makasih lhoo jeng", ucap Dara mencoba akrab dengan calon besannya.
"Bagaimana rencana pertunangan anak kita pak Bram..??, apakah bisa berlanjut .??", ucap Yahya langsung pada poinnya.
"Tentu lah Yahya, kenapa tidak..??", seru Bram membuat bu Maryam sedikit menunjukkan ketidak sukaannya terhadap pembicaraan itu.
"Lalu menurut jeng gimana..??", ucap Dara memancing reaksi bu maryam.
"Saya terserah mas Bram", ucapnya dengan hati yang berat.
"Begini pak, kalau kita jadi berbesan, bolehlah saya memiliki sedikit saham di Jayawijaya corp..??", ucap Yahya berharap perjodohan ini bisa secepatnya menguntungkan untuknya.
"Semua bisa di atur Yahya, kau tenang saja, asal kamu juga mengizinkan aku membangun proyekku di salah satu lahan yang kau miliki di luar kota, bagaimana..??" ucap Bram tak mau rugi dengan tawaran Yahya.
Yahya sejenak terdiam.
Pak Bram memang pintar, pantas saja ia di takuti banyak orang, gumamnya dalam hati.
"Tentu pak, semua bisa di atur", ucap Yahya menyetujui persyaratan dari Bram.
Bram pun tertawa, dan melanjutkan percakapan tentang penyatuan antara kedua keluarga itu.
Sedangkan bu Maryam menggeleng gelengkan kepala tak habis pikir.
Bisa bisanya kebahagiaan anakku di jadikan ajang bisnis, gumam bu Maryam pergi meninggalkan mereka yang sedang asyik mengobrol, ia tak tahan mendengar kedua belah pihak hanya mementingkan harta di banding kebahagiaan anak anak mereka.
__ADS_1