Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Saat seorang anak tumbuh dewasa.


__ADS_3

"Fatimah!," teriak Mawar seketika terbangun dari tidur nya.


Membuat dokter Malik yang berjaga di samping nya juga ikut terkejut.


"Tenanglah Mawar!, tenangkan diri mu!," seru dokter Malik mencoba menenangkan Mawar yang terus saja gelisah.


"Aku gak bisa mas!, aku terus saja bermimpi hal buruk tentang Fatimah!, apa sudah ada kabar dari kepolisian?," seru Mawar nampak begitu khawatir, berbeda dengan sikap nya yang dulu, yang selalu tenang dan sabar dalam menghadapi suatu masalah.


Kabar hilang nya Fatimah seperti nya membuat guncangan besar dalam diri nya.


Bahkan ketenangan sikap Mawar selama ini bisa goyah karna nya.


Dengan amat menyesal, dan serasa tak berdaya.


Dokter Malik hanya bisa menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Mawar yang terus berulang ulang menanyakan kabar Fatimah.


Seketika itu juga Mawar kembali menangis, membuat dokter Malik kembali khawatir dengan kondisi kesehatan Mawar.


"Mawar, coba tenangkan pikiran dan hati mu, aku yakin Fatimah juga akan baik baik saja di mana pun dia berada. Seperti kata mu dulu, kamu akan selalu percaya pada anak gadis mu itu meskipun dia tak bersama mu," seru dokter Malik mencoba memeluk Mawar yang tak henti henti nya menangis.


"Ingatlah sudah berapa kali selang infus aku pasang di tangan mu akhir akhir ini, jangan buat aku melakukan nya lagi," ucap dokter Malik seakan ikut merasa sakit saat Mawar juga tengah terbaring sakit tak berdaya.


Bersamaan dengan itu, Aqly nampak bersikap acuh saat diri nya pulang ke rumah dan melewati depan kamar sang bunda.


"Aqly?," sapa Mawar saat melihat sang putra pulang saat itu.


Dengan ogah ogahan, Aqly menghentikan langkah kaki nya sembari tangan nya yang terus memainkan kunci mobil.


"Kamu pakai mobil siapa?," tanya dokter Malik merasa heran.


"Ini mobil siapa kek!, bukan urusan kamu!," sahut Aqly tak pernah bersikap sopan saat berbicara dengan sang ayah.


"Maaf nak, tapi kami perlu tahu," seru dokter Malik mencoba tak tersulut emosi saat berhadapan dengan Aqly.


"Bisakah kamu hargai kedua orang tua mu ini saat bicara Aqly?," seru Mawar membuat Aqly merasa jengkel.

__ADS_1


Tanpa menjawab, ia langsung bergegas masuk ke kamar nya.


"Astagfirullah!, maafkan sikap anak ku mas," ucap Mawar merasa malu dengan sikap putra nya dihadapan dokter Malik.


"Dia juga anak ku, percayalah, aku tak apa," sahut dokter Malik.


"Aqly!, mau kemana lagi kamu?, kemarilah sebentar, bunda butuh kamu," seru Mawar saat melihat Aqly kembali melintas di depan kamar nya sembari menentang sebuah tas ransel.


"Aqly sibuk!, bukan nya bunda yang mau lihat Aqly sukses dengan tangan Aqly sendiri, dan itu yang sedang Aqly lakukan saat ini," sahut Aqly tanpa menoleh ke arah bunda nya.


"Apa kamu sudah dengar tentang hilang nya kakak mu?, sudah 2 hari ia dia masih dalam pencarian polisi," seru dokter Malik membuat wajah Aqly langsung gugup.


Polisi?, gawat!, batin Aqly merasa terancam.


"Sebaik nya kamu di rumah temani bunda, sebentar lagi juga akan ada pihak polisi yang akan minta keterangan dari kita selaku keluarga kakak mu," seru Mawar berharap kali ini sang putra masih mau mendengarkan permintaan kecil nya.


"Sudah ku bilang!, aku sibuk!, aku pulang cuma buat ambil barang barang ku yang ada di kamar," ketus Aqly bergegas meninggalkan rumah nya lagi.


Menatap Aqly yang kembali berjalan keluar dari rumah.


"Sabar Mawar, semua ini pasti cepat berlalu, aku ada di sini bersama mu," ucap dokter Malik menggenggam erat tangan Mawar.


"Kamu tahu mas, aku sudah bersiap jauh jauh hari semenjak mereka masih kecil.


Aku bersiap jikalau nanti mereka sudah tumbuh dewasa, mereka tak akan lagi selalu bersama ku, mereka akan sibuk meraih impian mereka di bangku pendidikan, aku juga sudah bersiap jika nanti mereka menemukan pasangan hidup masing masing, aku telah siap melepas mereka tinggal bersama pasangan mereka kelak, mendoakan mereka agar hidup bahagia dalam lindungan Allah meskipun tanpa aku di sisi mereka. Aku juga sudah bersiap, di mana saat nya aku akan tersenyum bahagia menatap cucu cucu ku datang sesekali mengunjungi ku di rumah ini, aku telah bersiap.....," ucap Mawar dengan isak tangis yang tak bisa ia bendung lagi.


Mendengar itu dokter Malik hanya bisa membisu, ia mencoba tegar dan berusaha menjadi penopang bagi Mawar yang saat itu sedang rapuh.


Ia berusaha mengusap jilbab Mawar dan mencoba mengatakan bahwa ia tak sendirian di dunia ini.


"Aku lebih senang melihat mereka saat kanak kanak, menangis di pangkuan ku saat terluka, mendekap ku saat sedih dan takut, serta meminta suapan nasi dari tangan ku ini saat mereka lapar, aku merindukan masa itu mas!," ucap Mawar semakin menjadi jadi dalam tangis nya.


Seketika itu juga.


Dokter Malik langsung memeluk Mawar dan menangis bersama nya dalam satu pelukan.

__ADS_1


Ada rasa sesak saat Mawar menceritakan keluh kesah nya pada nya.


Aku juga sama Mawar, jika aku bisa memilih, aku lebih suka melihat mu ceria seperti dahulu, jika panutan ku bisa rapuh seperti ini, bagaimana dengan ku Mawar?, bangkitlah!, Allah pasti punya rencana nya sendiri untuk kamu, aku, dan anak anak, batin dokter Malik berharap ada kebahagiaan setelah permasalahan yang menimpa mereka.


Sementara di sepanjang jalan, Aqly terus saja ketakutan, hingga beberapa kali fokus menyetir nya terganggu dan hampir menabrak pembatas jalan raya.


"Aku gak mau masuk penjara," keluh Aqly merasa bergetar di sekujur tubuh nya saat mengingat akan penjara.


"Kenapa mereka harus lapor polisi sih!, kan gak ada tanda tanda kalau Fatimah di culik!, harus nya mereka berfikir kalau dia pergi dari rumah atas kemauan nya sendiri," seru Aqly berkali kali memukul stir mobil nya.


Aku harus bergegas mengabari Bos besar, pasti dia punya solusi untuk ini semua, batin Aqly sembari menambah kecepatan mobil nya.


 


Saat mobil Aqly sudah memasuki halaman rumah besar.


Ia segera berlari tunggang langgang memasuki rumah besar.


Para body guard yang melihat tingkah Aqly langsung ikut panik dan berlari mengikuti Aqly.


"Dimana bos besar?," seru Aqly terus bergegas mencari Bos besar.


"Ada di ruang makan," sahut si body guard tanpa bertanya apa yang tengah terjadi.


"Bos!," seru Aqly berhenti tepat di depan Bos besar yang tengah asyik menyantap makan malam nya.


Dengan masih ngosan ngosan, Aqly mencoba mengatakan berita yang ia bawa untuk si bos.


Bos besar nampak mengeryitkan kening nya sembari menatap ke arah para body guard nya.


"Kami juga tak tahu ada apa bos," ucap seorang body guard juga merasa bingung dengan tingkah Aqly.


"Bos!, orang tua ku telah melaporkan hilang nya Fatimah ke polisi!," seru Aqly dengan wajah yang begitu tegang nya.


Membuat Bos besar beserta para body guard langsung diam menatap Aqly.

__ADS_1


__ADS_2