Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Sosok gadis berparas cantik.


__ADS_3

"Tuan Danu?," sapa dokter Malik tak sengaja memotong pembicaraan tuan Danu dengan mbok Inah.


Sejak Mawar sakit sakitan karna hilang nya Fatimah.


Rumah itu seluruh nya di urus oleh mbok Inah namun tetap menuruti instruksi dan arahan dari Mawar.


Membuat rumah dan letak semua bunga serta barang barang nya masih tertata rapi seperti saat Mawar sehat dulu.


"Dokter Malik!," seru tuan Danu segera merangkul dokter Malik yang ia hubungi beberapa saat lalu.


"Silahkan masuk Tuan, anggap rumah sendiri," seru dokter Malik dengan ramah nya.


"Bagaimana kabar Bram, ayah mu?, sudah lama aku tak bertemu dengan nya, sejak saat ...," ucap Tuan Danu mengingat masa muda nya dulu.


"Sejak papi menikah dengan almarhum ibu," sahut dokter Malik sembari tersenyum mengenang almarhum ibu Maryam.


Setidak nya sang mami sudah bisa membuat kebiasaan buruk sang papi yang suka berada di rumah bordil bisa di hilangkan.


"Aku tak mengerti jalan pikiran Bram saat itu, padahal dunia yang ia tinggalkan begitu menyenangkan," ucap Tuan Danu masih terus mengedarkan pandangan nya ke seluruh bagian rumah yang begitu nyaman itu.


"Itu sudah pilihan papi tuan, dan kenapa tuan tak mengikuti jejak nya saja?," tanya dokter Malik dengan penuh harap akan perubahan yang lebih baik dari tuan Danu yang sudah ia anggap seperti ayah nya sendiri.


"Tidak dokter, itu mungkin tidak akan pernah terjadi, itu adalah dunia ku, dan aku senang berada di dalam nya, dan aku beri bocoran sedikit padamu. Sebentar lagi, aku akan bisa membuka tempat bisnis malam ku sendiri," seru Tuan Danu begitu serius ingin mendirikan bisnis rumah bordil nya sendiri.


"Saya hanya mengingatkan tuan, semoga tuan bisa berubah," ucap dokter Malik mencoba menasehati dengan cara yang sehalus mungkin.


"Ah, lupakan itu!, sekarang tolong sembuhkan pinggang ku, kenapa pinggang ku begitu sakit akhir akhir ini," keluh tuan Danu sembari meringis kesakitan saat pinggang nya tiba tiba kambuh.


Namun tiba tiba, suara sebuah ambulans tiba tiba masuk begitu saja menerobos pagar rumah.


Membuat semua begitu panik dan penasaran dengan apa yang tengah terjadi.


Belum sempat ambulans itu berhenti sempurna, sudah ada seseorang yang keluar dari belakang mobil ambulans dan berlari tergopoh gopoh masuk ke klinik.


"Dokter!, tolong dokter!," teriak seorang lelaki dengan berlumuran banyak darah.


Membuat dokter Malik langsung bangkit dari sofa dan bergegas menuju klinik.


"Sebentar Tuan, beristirahatlah dulu di sini," seru dokter Malik sembari menyuruh para perawat untuk segera mengambil tindakan darurat.


"Baiklah," ucap Tuan Danu segera menyetujui nya, karna sebenar nya ia masih ingin berlama lama di rumah dokter Malik yang nyaman itu.


Tuan Danu terus saja mengedarkan pandangan nya ke segala arah.

__ADS_1


Tak ada yang spesial dari rumah itu serta isi nya.


Bahkan barang barang nya begitu sederhana namun tersusun rapi dan senada.


Ia sedikit penasaran dengan beberapa foto yang terpasang rapi di salah satu sudut rumah itu.


Perlahan ia mendekati nya dan mengamati satu persatu foto itu.


"Apakah dia istri nya?. Cukup cantik, pantas saja dokter Malik langsung mau melepas masa duda nya," ucap tuan Danu lalu berganti memandang foto kedua.


Ia begitu terkejut saat melihat foto seorang pemuda yang tak asing bagi nya.


"Bukan kah dia pemuda yang ada di rumah Bos besar waktu itu?," seru Tuan Danu tak menyangka pemuda itu masih anggota keluarga dari sang dokter.


Dan di foto ketiga, nampak Mawar sedang tersenyum bahagia bersama Fatimah yang tengah merayakan pernikahan Mawar dengan dokter Malik saat itu.


Tuan Danu segera mendengus pelan saat menatap foto itu.


"Apa yang ada di fikiran para gadis seperti mereka?, kenapa mereka bisa memilih memakai cadar tak berguna itu selama hidup?, bodoh!, dia mengingatkan ku pada Mira saat itu, nyata nya wajah nya juga pas pas san saat aku pertama melihat nya," ucap tuan Danu sekilas masih sempat melihat tatapan tajam mata Fatimah di foto itu.


Tatapan itu seakan menjadi daya tarik tersendiri saat Tuan Danu menatap nya.


Puas melihat lihat ketiga foto itu, Tuan Danu mulai tertarik dengan beberapa album yang tersusun rapi di laci sudut tak jauh dari tempat nya berdiri.


"Bisa makin sakit aku jika terus berdiri di sana," ucap tuan Danu mulai mengamati foto demi foto dari anggota keluarga dokter Malik.


Dari beberapa foto pertama ia sudah mengetahui satu hal, kalau pemuda yang tak lain adalah Aqly tidak terlihat akur dengan keluarga nya.


"Menarik," ucap tuan Danu terus membuka lembaran album itu hingga ia usai.


Di album yang terakhir, ternyata ialah foto lama masa kecil Aqly dan Fatimah.


"Emm, waktu kecil dia manis juga," ucap tuan Danu saat melihat wajah kecil Fatimah.


Namun saat ia telah sampai di foto terakhir Fatimah sebelum memutuskan memakai sebuah cadar.


Tuan Danu langsung terbelalak tak percaya sembari menggosok dagu nya dengan pelan.


"Beautiful," seru tuan Danu sampai berhasrat mencium foto dari Fatimah.


"Kenapa gadis secantik ini harus menutup wajah nya dengan sebuah cadar?, bahkan aku merasa tak rela dengan keputusan nya itu," keluh tuan Danu terus menikmati wajah cantik Fatimah yang terlihat sempurna hanya dari foto nya saja.


Dengan reflek, tangan tuan Danu mencoba mengambil salah satu foto itu dan memasukkan nya ke dalam saku nya.

__ADS_1


Aku akan sangat bahagia jika bisa bertemu dengan nya, batin Tuan Danu kembali mengusap dagu nya dengan perlahan.


"Maaf tuan, apa tuan mencari suami saya?," seru Mawar membuat lamunan tuan Danu ter buyarkan saat itu juga.


"A- anda siapa?," tanya tuan Danu sembari membandingkan foto pernikahan yang terpajang rapi di dinding dengan wajah wanita yang kini menyapa nya itu.


"Saya Mawar, istri dokter Malik," sahut Mawar membuat tuan Danu mengeryitkan kening nya.


Kenapa dia jadi terlihat tua dan menakutkan?, batin tuan Danu begitu heran nya.


"Maaf, maaf, saya tidak mengenali anda," sahut tuan Danu kebingungan.


Namun tatapan Mawar kini tertuju pada album foto nya yang berserakan di meja tamu.


"Untuk ini saya juga minta maaf, saya cuma penasaran dengan keluarga kalian, sebaik nya saya tunggu dokter di klinik saja," seru tuan Danu bergegas keluar dari ruang tamu tanpa mengucap salam atau apapun juga.


Membuat Mawar begitu heran dan merasa curiga dengan sosok lelaki yang nampak seumuran dengan sang ayah.


Saat tuan Danu berjalan memasuki klinik, karna tergesa gesa nya ia malah bertubrukan dengan dokter Malik di pintu masuk.


"Astaga dokter!," keluh tuan Danu sembari mengelus dada nya.


"Tuan kenapa?, kok seperti di kejar setan?," tanya dokter Malik penasaran dengan sikap pasien nya itu.


"Tadi aku bertemu dengan istri mu, tapi maaf, kenapa dia jadi terlihat kurang sehat dan sayu begitu," ucap tuan Danu membuat dokter Malik menghela nafas.


Bukan kali pertama nya ada yang mengomentari tampilan istri nya akhir akhir ini begitu berbeda dengan sebelum Fatimah masih ada bersama mereka.


"Dia sakit sakitan semenjak anak perempuan kami hilang beberapa bulan lalu Tuan," ucap dokter Malik membuat tuan Danu sedikit kecewa.


Sial!, belum sempat aku melihat nya secara langsung, keluh tuan Danu dalam hati.


"Ada satu hal yang belum tuan tahu," ucap dokter Malik menatap Mawar yang kini tengah berada di teras rumah sembari mengamati bunga bunga cantik nya.


"Apa itu?," seru tuan Danu begitu penasaran di buat nya.


"Istri ku adalah anak kandung satu satu nya dari papi Bram," ucap dokter Malik seketika membuat tuan Danu tak percaya akan semua itu.


--------##---


Maaf ya kalau ada salah ketik 🙏,


Tensi author lagi drop😄, maklum sajalah...

__ADS_1


__ADS_2