Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Akhirnya aku menemukanmu..


__ADS_3

"Uhhhh, anak siapa sihh ini...???", ucap Mawar menimang nimang bayi yang ia temukan beberapa bulan yang lalu.


"Mawar, gimana kata pak rt tentang kasus bayi itu ??", ucap Mbak Lastri keluar dari kamarnya.


"Katanya pak rt gak bisa berbuat apa apa buk, cctv jalan tak bisa menemukan siapa wanita yang tega membuangnya", ucap Mawar sembari mengayun ayunkan bayi itu digendongannya.


"Trus pak rt saranin apa...??", ucap mbak Lastri duduk di sofa.


"Katanya Mawar boleh memberikan bayi ini kepanti asuhan buk, pak rt yang akan mengurus semuanya", ucap Mawar duduk disamping ibunya.


"Trus apa yang kamu tunggu Mawar..??", ucap mbak Lastri.


Mawar memandangi bayi yang ada digendongannya itu, ia sangat lucu, dan sesekali tersenyum manis pada Mawar.


"Buk, bolehkan Mawar merawatnya..??", seru Mawar mencium bayi itu.


Mbak Lastri sangat kaget mendengar ucapan anaknya, apa kata orang orang nanti jika Mawar tiba tiba memiliki seorang bayi.


Akan ada hinaan lagi di kehidupan Mawar ini, yang sudah susah payah ia bangun lagi dari nol.


"Mawar, kamu itu masih muda, cantik, belum menikah, mana mungkin kamu merawatnya", ucap Mbak Lastri mencoba menasehati Mawar.


"Buk.., ibuk ingat tidak, saat ibuk memilih merawat Mawar seperti anak kandung ibuk sendiri, ibu merelakan kehidupan ibuk untuk Mawar, bahkan ibuk rela hidup di tengah tengah tempat penuh maksiat seperti dulu", ucap Mawar memegang tangan ibunya.


"Tapi Mawar, saat itu ibu seorang janda, dan saat bertemu kamu pun ibu sudah hampir kepala 4, jadi saat bertemu kamu, ibuk tau tujuan sisa hidup ibuk tuh membesarkan dan mendidik kamu Mawar, sedangkan kamu masih sangat muda, kamu cantik , karir bagus, kamu layak mendapatkan hidup yang lebih baik", seru mbak Lastri berdiri dari tempat duduknya dan berdiri di dekat jendela, memandang ke arah dunia luar tempat semua tidak ada yang baik baik saja, mbak Lastri membayangkan dunia yang keras dan sempat mereka lalui.


Mawar pun bangun dari duduknya dan menghampiri ibunya yang sangat mengkhawatirkan hidup putrinya.


"Buk, apakah seperti itu ajaran ibuk pada Mawar..??", ucap Mawar.


"Ini demi masa depanmu Mawar", ucap mbak Lastri masih memandang ke arah luar jendela.


"Buk, jodoh, karir, maut dan masa depan Mawar sudah ada yang mengatur buk, Mawar hanya ingin mencontoh kebaikan ibuk yang sangat berharga bagi hidup Mawar, Mawar juga ingin mendidik anak ini dengan ilmu Agama meskipun tanpa sosok kedua orangtuanya, Mawar hanya butuh doa ibuk", ucap Mawar memeluk ibunya.


Mbak Lastri pun meneteskan air mata yang sedari tadi ia tahan, ia mengusap jilbab Mawar dan memandangi wajahnya.


"Masyaallah, semoga Allah memberimu kebahagiaan ya Mawar", ucap Mbak Lastri lagi lagi di buat bangga dengan keputusan hidup Mawar.


Mbak Lastri pun mengusap air matanya dan menggendong bayi perempuan itu.


"Jika itu keputusanmu, ibu menurut..", ucap Mbak lastri.


"Alhamdulillah", ucap Mawar lega.


"Lalu kita namai siapa ya dia.??", tanya Mbak Lastri.


Mawar pun mencium dan mengelus pipi bayi mungil dihadapannya.


"Fatimah buk, salah satu wanita penghuni surga", ucap Mawar dengan senyumnya yang menawan.


"Masyaallah cantik sekali namanya,Selamat datang Fatimah, semoga namamu membawa kebaikan buat hidupmu", ucap Mbak Lastri bahagia.


Mawar pun serius dengan keinginannya, ia mengangkat Fatimah sebagai anak angkatnya, bahkan ia mencatatkannya di dokumen negara.


Jadi tidak ada yang bisa mengambil paksa Fatimah kelak darinya.


Setiap 3 bulan sekali Susan akan pulang ke Indonesia hanya untuk melihat perkembangan dari bayi perempuan Rahel, yang akhirnya ia tau bahwa ibu angkatnya menamainya Fatimah.


"Fatimah..., nama yang cantik, maaf tante tak bisa menggendongmu ya sayang", ucap Susan lalu melajukan mobilnya kembali setelah puas melihat bahwa fatimah dalam keadaan baik baik saja.


"Bik, tolong jaga Fatimah sebentar ya, saya mau sholat dhuhur dulu", ucap Mawar sembari memberikan Fatimah dalam gendongan asisten rumah tangganya.


"Baik mbak", ucap bibi Mus menggendong Fatimah.


Seusai shalat dhuhur di kamarnya, mbak Lastri menemui Mawar di kamarnya.


"Mawar, boleh ibu masuk..??", ucap mbak Lastri di depan pintu kamar Mawar.


Sambil masih memakai mukenahnya Mawar langsung membukakan pintu kamar, terlihat ibunya sudah menggendong Fatimah di gendongannya.


"Ibuk..!!, kenapa ibuk gendong Fatimah, bibi kemana..??", ucap Mawar memapah ibunya untuk duduk di kursi di dalam kamarnya.


"Gpp Mawar, malah ibu jadi punya kesibukan, jadi inget juga ibu masa masa kamu kecil dulu", ucap Mbak Lastri.


"Kenapa ibuk cari Mawar ...?", ucap Mawar menidurkan Fatimah di ranjang.


"Ibu mau minta kamu buat cek kesehatan Fatimah, dan kasih dia imunisasi lengkap, saat kita temuin dia kan masih sekitar umur satu bulan pasti belum pernah yang namanya imunisasi, coba kamu kerumah sakit, kamu gak sibuk kan hari ini..??", ucap mbak Lastri.


"Mawar gak sibuk kok buk, emmm gimana kalau kita kerumah sakit besar aja buk, sambil periksa kesehatan ibu juga, jangan nolak ya buk", ucap Mawar memohon.


"Ya sudah iya, ibu nurut kamu", ucap Mbak Lastri.

__ADS_1


"Bentar ya buk", ucap Mawar melepas mukenahnya dan berjalan mendekati bibi Mus yang sedang menyapu rumah.


"Bik, tolong siapin perlengkapan ibuk dan Fatimah, kita mau ke rumah sakit besar, jadi siapin keperluan mereka ya, kami akan pulang larut malam", ucap Mawar sambil bersiap.


"Siap buk", ucap bibi Mus melaksanakan perintah majikannya itu.


____


"Buk, mobilnya sudah siap", ucap Mang Asep supir pribadi Mawar.


"Oh ya Mang, bentar ya", ucap Mawar menggendong Fatimah yang masih tertidur.


"Ibuk juga udah siap Mawar", ucap mbak Lastri keluar dari kamarnya.


"Ya udah yuk buk biar gak kemaleman pulangnya", ucap Mawar bersama ibunya masuk ke dalam mobil.


Beberapa jam kemudian, mobil Mawar berhenti di halaman rumah sakit.


"Mang tunggu sini ya, nanti kalau ada perlu saya telfon", ucap Mawar membantu ibunya turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah sakit.


Tanpa sepengetahuan Mawar, rumah sakit itu adalah tempat praktek umum dokter Malik.


Saat Mawar memasuki pintu masuk rumah sakit tak sengaja mereka berpapasan.


Tetapi sama sama tak menyadarinya.


Dokter Malik berjalan dengan fokus membaca dokumen medis ditangannya.


Sedangkan Mawar dan ibunya perhatiannya tertuju pada Fatimah.


Sesaat Mawar merasakan kehadiran dokter Malik.


Ia kemudian menghentikan langkah kakinya, saat ia mencoba membalikkan badan kebelakang, dokter Malik sudah tak ada lagi.


"Mungkin hanya perasaanku saja", ucap Mawar kembali mengikuti ibunya.


"Kenapa Mawar..??", tanya mbak Lastri menyadari perubahan raut wajah Mawar.


"Gak kok buk, yuk kita segera keruangan dokter", ucap Mawar terus berjalan dengan menggandeng tangan ibunya.


Mawar dan ibunya menunggu dokter di kursi tunggu, menunggu giliran mereka tiba.


"Iya dok", ucap Mbak Lastri bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ruangan dokter.


Mawar ingin mengikuti ibunya saat proses pemeriksaan, tetapi seketika di hentikan oleh ibunya.


"Sebaiknya kamu periksakan Fatimah, jadi kita bisa selesai sama sama dan cepat pulang, ibu gpp kok, ada dokter dan suster yang menjaga ibuk", ucap Mbak Lastri.


"Baik buk", ucap Mawar.


Mawar pun pergi sesuai permintaan ibunya.


Ia menuju ke dokter poli anak untuk mengecek kesehatan Fatimah.


Saat mbak Lastri sudah berada dalam ruangan dokter.


Seketika mbak Lastri berdiri mematung saat melihat dokter yang ada dihadapannya.


"Sore buk, bisa di jelaskan keluhannya apa...??", ucap dokter itu dengan masih sibuk membaca riwayat kesehatan pasiennya.


Mbak Lastri masih diam tak bergeming, seketika ada bendungan di kedua pelupuk matanya.


Dokter itu merasa heran tak ada jawaban dari pertanyaannya, ia pun memandang ke arah pasiennya.


Ia pun terkejut dan berdiri dari tempat duduknya.


"Masyaallah buk Lastri...!!", ucap dokter itu yang ternyata ialah dokter Malik.


"Nak Malik...??", ucap mbak Lastri berusaha keluar dari ruangan itu, tetapi di cegah oleh dokter Malik.


"Tunggu buk, tunggu ..!!, saya akan mencoba profesional, mari saya periksa, ibuk adalah pasien saya sekarang", ucap Dokter Malik mengesampingkan urusan pribadinya, padahal jauh dalam lubuk hatinya, ia sangat ingin mendengar kabar dari gadis yang ia cintai.


Mbak Lastri pun menurut dan kembali lagi menuju ruang periksa.


Dokter Malik memeriksa mbak Lastri tanpa ada pembicaraan di antara keduanya sampai pemeriksaan selesai.


"Ini vitaminnya ya buk, jangan lupa istirahat dan perbanyak minum air putih dan makan makanan sehat", ucap Dokter Malik memberikan obat pada mbak Lastri.


"Terima kasih dok, saya permisi", ucap mbak Lastri segera bergegas keluar dari ruangan.


"Tunggu buk..!!", ucap Dokter Malik mengejar mbak Lastri.

__ADS_1


Mbak Lastri yang mengetahui bahwa dokter Malik pasti ingin menanyakan kabar Mawar terus bergegas tak menghiraukan panggilan dokter Malik.


Tetapi dengan sigap jalannya di hadang oleh dokter Malik.


"Buk, saya sudah menepati janji memeriksa ibuk secara profesional, sekarang saya bertanya sebagai orang biasa, di mana Mawar buk..??, apakah dia baik baik saja...??", ucap dokter Malik memohon pada mbak Lastri.


"Sudahlah nak, lupakan Mawar, keluargamu tak akan merestui kalian", ucap mbak Lastri mencoba tegar mengingat penghinaan yang diterima Mawar saat berkunjung kekediaman mereka.


"Buk, saya tulus mencintai Mawar, saya rela meninggalkan semuanya demi Mawar buk", ucap dokter Malik berusaha meyakinkan mbak Lastri.


Belum sempat mbak Lastri menjawab pertanyaan dokter Malik.


Tiba tiba Mawar datang menghampiri mereka.


"Ibuk.., sudah selesai pemeriksaannya..??", seru Mawar berjalan mendekati ibunya.


Dokter Malik yang sangat mengenal suara itu segera berbalik dan memandangnya.


Mawar seketika menghentikan langkah kakinya, ia tertegun melihat seorang lelaki yang tak asing baginya.


Senyumannya langsung hilang kala itu.


Ingin sekali ia memeluknya sebagai seorang makmum kepada sang imam.


Menceritakan semua perjalanan hidupnya sampai pada titik ini.


Meluapkan semua kerinduannya.


Karna ia lelaki yang selalu berada di dalam setiap doanya, satu satunya yang ada di hatinya, dan kini ia berada di depannya.


Tapi bagaimana lagi, jodoh tak berpihak pada mereka.


Mawar tak mampu walau hanya untuk bertegur sapa.


Ia mengingat penolakan pak Bram padanya waktu itu.


Dokter Malik mendekati Mawar yang saat itu tak bergerak dari tempatnya berdiri.


Ia mendekati Mawar dengan sangat dekat, ia memandangi gadis yang ia telah cari selama ini.


"Akhirnya aku menemukanmu Mawar", ucap dokter Malik memegang tangan Mawar yang masih tetap menunduk saat bertemu dengannya.


Mawar mencoba menahan air matanya, ia tak sanggup menghadapi dokter Malik.


"Mawar ....??", ucap dokter Malik, membujuk gadisnya untuk mau bicara dengannya sebagai pelepas rindu perpisahan mereka.


Saat Mawar ingin bicara, tiba tiba seorang suster memanggilnya.


Sontak Mawar melepaskan genggaman tangan dokter Malik dan menghadap ke arah datangnya suster.


Dokter Malik memandang ke arah suster yang datang mendekati Mawar dengan seorang bayi di dekapannya.


Mungkinkah......??, gumam dokter Malik mencoba menepis dugaan yang kini berada di otaknya.


"Buk Mawar, ini anaknya, dan ini hasil pemeriksaan dan jadwal imunisasi bayi Fatimah selanjutnya", ucap Suster menyerahkan Fatimah pada Mawar.


"Makasih sus", ucap Mawar mengambil Fatimah dari gendongan suster dan segera menghampiri ibunya.


"Ayo buk kita pulang", ucap Mawar menggandeng tangan ibunya dan bergegas pergi dari hadapan dokter Malik yang masih terlihat syok.


Dokter Malik melihat kesetiap langkah kepergian Mawar meninggalkan rumah sakit hingga tak terlihat lagi.


Seketika tubuh dokter Malik tak kuat menopang tubuhnya sendiri.


Ia bersandar di tembok dan terduduk di lantai rumah sakit.


Air matanya menetes.


Sebagai seorang lelaki, jarang ia akan menangis jika itu bukan hal yang sangat sensitif baginya.


Dokter Malik meratapi nasibnya kini.


Ia beranggapan bahwa Fatimah, bayi yang digendong Mawar adalah anak kandung Mawar.


Ia merasa sudah kehilangan cintanya detik itu juga.


"Hancur sudah", ucap dokter Malik mencoba berdiri dan berjalan ke arah ruangannya dengan tatapan kosong.


Ingatan tentang kenangannya bersama Mawar dulu kian terulang di pikirannya.


Sekarang ia sudah milik orang lain, aku sudah tak berhak mendekatinya, keinginan papi benar benar terwujud, akhirnya setelah sekian lama aku berhasil bertemu denganmu, tapi sebagai istri orang lain dan telah memiliki keluarga kecil yang bahagia, gumam dokter Malik memasuki ruangannya dan bersandar di kursi kerjanya dengan segala gejolak dan rasa sakit yang ia rasakan saat itu.

__ADS_1


__ADS_2