
Nampak suka cita di hari itu terpancar di kediaman Bram.
Nampak seluruh rumah telah di hias dengan begitu indahnya.
Hiasan bunga yang identik berwarna biru telah menghiasi rumah itu bak istana.
Para staf wedding sudah terlihat amat sibuk hari itu.
Sajian Makanan juga tak luput dari sorotan mereka.
"Tes tes..", ucap seorang staff wedding mencoba walkie talkienya sambil berjalan mondar mandir sejak tadi.
"Mas berhenti dong..!!, pusing ni aku liat kau..!!", seru seorang staff bagian sajian konsumsi sambil menata makanan di meja prasmanan yang telah tersedia.
"Yee...!!, suka suka aku lah..!!, kau mau semua gak beres sebelum tamu datang..!!", seru lelaki itu terus berusaha mengabari staff yang lain menggunakan walkie talkie nya.
"Ihhh..!!, dibilangin juga..!!, kau tau tak, kalau aku pusing dan makanan ini tak selesai, kau tak makan..!!", seru staff perempuan itu merasa kesal.
"Iyaaa iyaa ..!!!, bawelllll..!!, macam mamakku aja kau..!!", seru staff lelaki itu bergegas ke arah kamar dokter Malik.
Tokk...tokkk...
"Mas gimana semua...??, aman terkendali..??", seru staff lelaki itu tak sadar berbicara di walkie talkienya.
"Berisik....!!,", seru staff wanita tadi menjawab walkie talkie dari staff lelaki itu.
"Astagfirullah..!!, maap maap..!!, salah lagi", ucap staff lelaki itu mengetuk pintu kamar dokter Malik.
Terdengar guyuran air dari dalam kamar.
"Lagi mandi kali ya..!!, gerah mungkin, hihihi, gugup macam aku dulu nikah sama maimun, air satu sumur aku habiskan", ucap staff lelaki itu terkekeh dan berjalan menuju kamar Mawar.
Tok tok.....
__ADS_1
"Assalammualaikum, boleh masuk kah mbak..??", seru staff lelaki itu dari luar kamar Mawar.
Mawar yang sedari tadi termenung di depan kaca riasnya memandangi cincin pertunangan antara dirinya dan dokter Malik terbuyarkan oleh suara dari sang staff lelaki itu.
"Walaikumsalam, masuk mas", ucap Mawar memandang dirinya di kaca rias di depannya.
"Wihhh..!!, silau sekali mbak...!!", seru staff itu membuka pintu kamar Mawar dan melihatnya telah siap dengan riasannya.
Mawar hanya tersenyum mendengar gurauan staff wedding di depannya.
"Benarkah..??, padahal ini pernikahan keduaku", ucap Mawar tak sengaja kembali mengingat Burhan.
"Benar sekali mbak..!!, mbak nampak bidadari turun dari kayangan, tapi....!!!, mbok ya cepet dipakai gaunnya itu toh, biar gak jadi bidadari salah kostum", ucap staff itu mengambilkan gaun pengantin Mawar yang telah siap di atas ranjangnya.
"Trima kasih", ucap Mawar memandang gaun indah di depannya.
"Oh ya..!!, saya cuma mau kabarkan, para tamu sudah mulai berdatangan, jadi cepatlah bersiap ya mbak cantik, saya permisi", ucap staff itu keluar dari kamar Mawar sambil terus berteriak lagi di walkie talkienya membahas pekerjaan mereka sebagai pelancar acara pernikahan dokter Malik dan Mawar.
Sementara Mawar kembali tertegun di tempatnya duduk.
Apakah ini semua benar..??, gumam Mawar dalam hati, ragu dengan keputusannya.
Ia mengingat bahwa ia telah berkata setuju menikah di telfon pada dokter Malik beberapa bulan yang lalu.
Sementara di kamar lain, dokter Malik juga tertegun sambil memakai jas pernikahannya.
Ia teringat kata kata dari Mawar, bahwa Mawar bersedia untuk menikah.
Tapi bukannya malah senang, dokter Malik seakan merasa bahwa Mawar tidak bahagia saat mengatakannya.
Apakah ini semua benar...??, gumam dokter Malik dalam hati.
Tiba tiba bu Maryam masuk ke dalam kamarnya dan membuyarkan lamunannya.
__ADS_1
"Nak..!!, kamu kok nglamun sih, gak baik lho", ucap bu Maryam membenarkan dasi anaknya.
"Entahlah mi", ucap dokter Malik ragu.
"Jangan bilang kamu ragu untuk menikah, kamu itu sudah menanti hari ini bertahun tahun lamanya, dan sekarang semua sudah terwujud", ucap bu Maryam mengambilkan sepatu anaknya.
"Malik takut mi", ucap dokter Malik bimbang.
"Nak..!!, kamu dan Mawar layak bahagia", ucap bu Maryam mencoba membuat anaknya mengerti.
"Tapi mi..!!, hati dan hidup Mawar sudah sepenuhnya berbakti pada Burhan, sama seperti mami yang sangat menyayangi papi meskipun papi tak pernah memperlakukan mami dengan baik, bagaimana perasaan Mami ketika mami jauh dari papi dan harus menikah dengan pria lain..??", ucap dokter Malik membuat bu Maryam terdiam.
Pastinya mami tak akan pernah menikah lagi, gumam bu Maryam dalam hati.
"Yaaaa insyaallah, biar Allah yang mengaturnya ya nak, berdoalah", ucap bu Maryam keluar dari kamar anaknya dan merenungi setiap ucapan dari sang anak.
Beberapa saat kemudian.
Para tamu undangan telah hadir di sana.
Penghulu pun sudah siap ditempatnya.
Tinggal menunggu pengantin pria dan wanita untuk duduk di kursi pelaminan.
Lalu terlihat dokter Malik memasuki ruang resepsi di dampingi bu Maryam sekaligus Bram.
Melihat pengantin lelaki telah siap, staff wedding pun kebingungan.
"Mbak..!!, sudah siap belum pengantin perempuannya..??", seru staff lelaki itu menghampiri staff rias yang bertugas.
"Iyaa bentar ya, aku cek dulu", ucap staf rias itu berjalan ke arah kamar Mawar.
"Lahhhh..!!, macam mana...!!, tugasnya ngrias kok ya nemenin si gembrot nyiapin konsumsi sih", ucap staff lelaki itu.
__ADS_1
"Apa lu...!!, berisik..!!, gak makan beneran tau rasak lu...", ketus staff wanita bagian konsumsi sambil berkacak pinggang.
"Laper dong brot..!!", ucap Staff lelaki itu memakan kue hidangan yang ada sambil menunggu pengantin wanita hadir di tempat ijab kobul dan resepsi yang telah disiapkan.