Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Niat terselubung


__ADS_3

"Sudahlah Danu, aku mengenal mu sudah lama, aku tahu kau punya niat terselubung saat memutuskan untuk datang kemari," seru kakek Bram membuat suasana semakin tegang.


"Bram, Bram. Kenapa saat kau bertambah tua kau jadi begitu membosankan?, mana Bram yang ku kenal dulu?," sahut tuan Danu merasa yang paling terbaik dari semua orang yang sedang bersama nya saat itu.


"Jangan buat aku marah!," ucap kakek Bram masih mencoba menahan amarah nya.


"Santai Bram, lebih baik kau selesaikan masalah cucu perempuan mu itu, aku akan membantu jika kalian mengizinkan," ucap tuan Danu membuat Mawar serta kakek Bram begitu terkejut saat mendengar nya.


"Sebenar nya sejauh mana kau mengetahui tentang putri ku dan kehidupan nya?," tanya Mawar merasa naluri ke ibuan nya mengatakan tuan Danu adalah sebuah ancaman bagi Fatimah.


"Jangan pernah macam macam dengan keluarga ku Danu!," sentak kakek Bram tak bisa menahan lagi amarah nya.


Dengan penuh marah, ia langsung menerkam kera kemeja yang di kenakan oleh tuan Danu saat itu.


Tapi aneh nya, tuan Danu sama sekali tak membalas perlakuan tak pantas seseorang yang ia sebut sebut sebagai sahabat nya itu.


Bahkan ia terus bersikap tenang dan santai saat menghadapi kakek Bram.


"Aku sudah bilang, aku datang untuk membantu kalian, kenapa kau begitu kasar kepada sahabat mu ini," ucap tuan Danu dengan senyum licik nya.


"Apa bantuan yang kau tawarkan tuan?, bisakah kami mendengarkan nya?," seru dokter Malik yang tanpa mereka sadar telah berada di sana dan menyaksikan perdebatan mereka.


"Jangan tertipu dengan mulut manis nya nak!, dia itu ular!," seru kakek Bram membuat dokter Malik semakin penasaran dengan niat terselubung tuan Danu datang ke rumah nya.


"Kita beri kesempatan untuk dia berbicara pi," ucap dokter Malik membuat kakek Bram secara perlahan melepaskan cengkraman dari kera baju milik tuan Danu.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap tuan Danu membuat Rea hanya bisa tersenyum saat menyaksikan drama itu.


Sungguh menarik, tuan Danu memang tiada tandingan nya, batin Rea hanya menjadi penonton di antara perdebatan mereka.


"Cepat katakan atau aku akan mengusir mu secara tak hormat dari sini," ucap kakek Bram begitu kesal.


"Aku tahu alasan kau meminta cucu mu itu bercerai Bram, dan aku akan membantu mu mewujudkan nya, aku baik bukan," ucap tuan Danu sembari menyalakan rokok di tangan nya.


"Apa yang kau tahu?, kau tidak tahu apa apa!," seru kakek Bram bersikeras.


"Apa maksud semua ini yah?, apa hanya aku dan mas Malik selaku orang tua nya yang tak mengetahui apa yang tengah kalian bicarakan itu," seru Mawar begitu kebingungan dengan topik perceraian dan alasan di balik keinginan sang ayah untuk meminta Fatimah agar bercerai.


Namun saat ia menatap wajah sang suami.


Ada kegugupan tergambar jelas di sana.


"Mas?, aku benar bukan, kita tidak tahu apa apa tentang alasan di balik Fatimah harus bercerai bukan?," tanya Mawar dengan mata yang mulai basah.


Pasal nya, apa yang ia lihat dari reaksi sang suami, menunjukkan bahwa nyata nya hanya ialah yang tak tahu akan pokok permasalahan yang ada, yang begitu membuat sang ayah bersikeras meminta Fatimah untuk bercerai.


"Yah?, bisa kau jelaskan semua ini, apa yang sebenarnya terjadi kepada rumah tangga putri ku?," seru Mawar semakin bertambah gelisah saja.


Namun hanya diam yang di tunjukkan oleh kakek Bram dan dokter Malik saat itu.


Mereka begitu tak tega mengungkap siapa sebenar nya jati diri dari suami Fatimah.

__ADS_1


"Aku akan katakan semua yang belum kau ketahui," seru taun Danu membuat kakek Bram semakin menatap sinis ke arah tuan Danu.


"Katakan!," sahut Mawar sembari menyeka air mata nya yang sudah tak terbendung lagi.


"Jangan coba coba Danu!," ucap kakek Bram memperingatkan.


"Biarkan dia mengatakan nya ayah!, aku berhak tahu semua nya!," seru Mawar tak terima dengan sikap tertutup dari suami serta ayah nya.


"Suami dari putri mu, aku dan kawan kawan ku sering memanggil nya dengan sebutan Bos besar," ucap tuan Danu membuat Mawar begitu syok saat mendengar nya.


"Bos?, Bos besar?, apa arti nya itu?," tanya Mawar sembari mencekal tangan sang ayah yang berusaha menampar tuan Danu.


"Itulah sebutan kami untuk nya, karna kami tak pernah tahu nama asli nya, yang kami kenal dan sukai hanyalah bisnis nya, tidak lebih," ucap tuan Danu semakin membuat dada Mawar sesak.


"Bisnis?," ucap Mawar mencoba menepis opini buruk dalam otak nya yang mungkin saja itu adalah sebuah kebenaran.


"Ya!, sebuah bisnis, bisnis malam tepat nya," seru tuan Danu membuat tubuh Mawar seakan lemas dan hampir ambruk, beruntung ia masih bisa berpegangan di sisi sofa.


Saat kakek Bram serta dokter Malik ingin membantu, hanya ada penolakan dari Mawar saat itu.


"Bisnis malam?," tanya Mawar begitu tegang nya.


"Kau tahu itu bukan, Bisnis Bordil seperti milik wanita yang menjadi ibu kandung mu," ucap tuan Danu dengan nada mengejek.


"Tutup mulut mu itu tuan!," sentak dokter Malik tak terima saat mendengar nya.

__ADS_1


Bahkan Rea begitu mematung saat mendengar kenyataan itu.


Ja- jadi nenek dari gadis sok alim itu merupakan bekas pelac*r, batin Rea seakan cuma mimpi saat mendengar kenyataan itu juga.


__ADS_2