Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Gadis bercadar itu anak ku !


__ADS_3

Hari itu Mawar seakan mengulang sekilas kenangan nya.


Berbalut kebaya putih dan riasan pengantin ia di sulap menjadi seorang mempelai wanita yang anggun mempesona.


Ia terlihat tersenyum menatap cermin rias di hadapan nya.


"Mbak begitu cantik, siapa lelaki yang beruntung itu ?", tanya sang perias membuat Mawar tanpa sengaja berucap secara spontan.


"Mas Burhan !", seru Mawar membuat para perias kebingungan, serta dokter Malik yang mengintip, langsung kehilangan senyum nya.


"Pernikahan ini ternyata hanya akan selalu menjadi formalitas saja", keluh dokter Malik tersenyum kecil sembari pergi dari depan pintu kamar Mawar.


Sesaat kemudian, Mawar tersadar dan ikut kebingungan melihat raut wajah para perias yang menatap nya dengan heran.


"Bukan nya calon suami mbak nama nya Malik ya ?", tanya seseorang penasaran.


"Astagfirullah", keluh Mawar menyadari kekeliruan nya.


"Mbak gugup ya ?, tenang mbak, saya sih gak tau masalah hidup yang mbak hadapi, tapi percayalah mbak, takdir Allah itu gak mungkin salah, skenario Allah itu adalah yang paling terbaik", ucap seorang perias berhasil membuat hati Mawar terketuk.


Ya Allah, apa yang telah ku lakukan ?, gumam Mawar dalam hati mencoba menerima status baru yang akan di sandang nya.


__


"Sudah siap !, masyaallah, cantik sekali !", seru salah satu perias membantu Mawar berjalan menuju ke tempat ijab qobul.


Bismillah , ujar Mawar dalam hati mencoba menatap lurus ke depan.


Di luar pintu kamar itu, sudah penuh dengan dekorasi indah yang akan menjadi saksi masa depan Mawar selanjutnya.


Semua mata memandang ke arah Mawar saat diri nya sampai ke tempat ijab Qobul.


Semua nampak takjub dengan kecantikan alami Mawar yang tak memudar di makan usia.


Terlebih dokter Malik, dulu maupun sekarang, ia tak pernah merasa salah mencintai seorang gadis yang kini tengah berjalan menuju ke arah nya.

__ADS_1


Akan akan selalu ada di samping mu walau kau menginginkan nya atau tidak, melihat nya atau tidak, menghargai nya ataupun tidak, gumam dokter Malik dalam hati mengulurkan tangan nya ke hadapan sang calon istri.


Perlahan, Mawar memberanikan diri menerima uluran tangan dokter Malik.


Aku siap ya Allah, gumam Mawar dalam hati sembari duduk di kursi pengantin yang telah di sediakan.


Mawar sempat memandang ke arah sekeliling ruangan itu.


Mata nya seakan mencari seseorang di tengah tengah ramai nya para undangan.


"Dimana anak ku ayah ?", bisik Mawar pada sang ayah.


"Itu Aqly, tapi Fatimah ? ", seru pak Bram ikut clingukan mencari Fatimah yang tak ia lihat sejak pagi.


Lalu tiba tiba tatapan semua orang tertuju pada seorang gadis berjilbab, memakai gamis indah dan lengkap dengan cadar nya berjalan ke arah tempat duduk para tamu yang telah di sediakan.


"Siapa dia ?, apa kamu mengenal nya Mawar?", tanya dokter Malik.


"Teman mu kah nak ?", tanya bu Ratih juga tak merasa mengenal gadis bercadar itu.


"Silahkan di mulai ijab qobul nya", ucap gadis itu membuat Mawar langsung mengenali nya.


Seketika itu juga, Mawar langsung tersenyum memandang gadis bercadar itu.


"Gadis bercadar itu anak ku !, putri ku !, Fatimah", seru Mawar membuat semua nya kagum menatap nya, kecuali Aqly.


"Masyaallah !, sejak kapan ia memutuskan untuk bercadar ?", ucap bu Ratih terkejut.


"Benarkah buk ?, andai aku bisa melihat nya", ucap Azizah tersenyum bahagia walaupun ia tak bisa melihat nya langsung.


"Kamu benar benar berhasil mendidik nya Mawar ", ucap pak Bram menggenggam tangan sang anak.


Kemudian suara berbisik silih berganti terdengar dari beberapa tamu undangan.


Mereka sangat takjub dengan akhlak Fatimah sejak dulu, bahkan sekarang mereka lebih mengagumi nya karna di usia nya yang masih muda ia sudah berani memutuskan hal yang besar bagi hidup nya.

__ADS_1


Aqly semakin geram mendengar ucapan semua orang yang menyanjung sang kakak.


"Cih !, anak haram sok cari muka !", ketus Aqly beranjak dari tempat duduk nya dan memilih duduk di luar ruangan sembari menyalakan rokok nya.


Keriuhan di ruangan itu berhenti saat penghulu memulai acara ijab qobul antara Mawar dan dokter Malik.


Dengan lantang dan lancar dokter Malik menggema kan kalimat penuh makna itu dengan sekali nafas.


Membuat Mawar lagi lagi mengingat saat proses ijab qobul nya dengan almarhum sang suami beberapa tahun silam.


"Sah ".


Gema kata itu membuat semua orang bahagia dan bernafas lega.


Bahkan pak Bram dan bu Ratih sampai meneteskan air mata di buat nya.


Kata itu kini menandakan bahwa Mawar telah sekali lagi menyandang status sebagai seorang istri.


Air mata nya menetes, ia menangis saat mencium punggung tangan dokter Malik tuk pertama kali nya.


Lalu pandangan nya tertuju pada Fatimah yang saat itu juga nampak berulang ulang kali menyeka air mata bahagia nya.


"Sini sayang !", seru Mawar melentangkan tangan nya ke arah Fatimah.


Membuat Fatimah segera bergegas memeluk sang bunda.


Kini kedua nya saling menangis dalam satu pelukan.


Berulang ulang kali Mawar menciumi kening Fatimah saat itu.


Seakan kebahagian nya melihat Fatimah memutuskan untuk bercadar lebih membahagiakan dari pernikahan nya sendiri.


"Semoga istiqomah ya sayang !", seru Mawar mengusap lembut kepala sang anak.


"Insyaallah bunda, doakan Fatimah selalu", timpal Fatimah memeluk bunda nya semakin erat.

__ADS_1


"Bunda titip adik mu ya sayang, tetap bersama dia walaupun bagaimana pun sikap nya pada mu, buat dia sadar dengan segala kesalahan nya", ucap Mawar merasa sangat bangga terhadap sang putri, hingga Mawar merasa Fatimah lah yang mampu merubah sikap buruk Aqly dari pada ia sendiri sebagai ibu kandung nya.


__ADS_2